Merayakan Cinta dengan “Call Me By Your Name”


call-me-by-your-name-poster

Call Me By Your Name Poster (source: Google)

“Call me by your name and i call you by mine”

Suara Oliver yang serak-serak basah bikin Elio jadi nyut-nyutan tentunya. Dua anak manusia yang berserah pada hasrat dan cinta.

“Sebut aku dengan namamu dan kusebut kamu, aku”…kira-kira begitu kalau gue yang menerjemahkan. Atau bisa juga….”sebut aku dengan namamu dan kau jadi (milik)ku”.

Kalimat tersebut menandakan kedalaman emosi dan keintiman yang utuh dari kedua karakter ini. Berserah. Menyatu. Indah sekaligus provokatif.

Gue menutup tahun ini dengan “Call Me By Your Name”, film yang katanya bakal banyak menggondol Oscar tahun depan karena penampilan cihuy dari Armie Hammer sebagai Oliver dan si pendatang baru yang gemesin, Timothee Chalamet sebagai Elio yang sangat membumi dan menyentuh ke relung hati jomblo yang paling dalam.

Berkisah tentang hasrat, keinginan, obsesi, posesi…cinta dan segala bumbunya. Yang tidak langsung terbaca, ya kecuali kita perhatikan poster film yang hanya menampilkan dua tokoh laki-laki, adalah ini tentang cinta, cinta dua laki-laki, homoseksualitas, hubungan sesama. Oliver yang mahasiswa tingkat akhir datang ke Crema, Italia untuk tinggal dengan keluarga Professor Perlman, Yahudi Italia. Sambil bantuin si Prof riset, dia sekalian bikin paper dan juga langsung berteman dengan anak si Prof, Elio.

Mulanya biasa saja….seperti lirik lagu. Namanya juga laki ketemu laki. Ya jalan-jalan bareng, maen sepeda, berenang di sungai. Biasa. Tapi Elio lama-lama ga biasa. Ada sebuah ingin….sebuah hasrat yang kemudian berkembang jadi obsesi mendalam. Untuk bersama Oliver, untuk berserah pada Oliver untuk menyatu dengan Oliver. Dalam perasaan yang terdalam. Terlarang.

Lalu cerita bergulir manis dan manja sampai akhirnya keduanya berciuman pertama kali di atas rerumputan di sebuah sore yang cerah selepas bermain sepeda ke kota. Hmm….Penggambaran gue agak ajaib nih hahahahaha. Lalu ke tengah malam dimana Oliver tidak bisa menahan lagi rasa yang terpendam bahwa dia juga menginginkan Elio, seutuhnya. Aheeeyy!!

Ya…ini kisah percintaan gay. Tapi ketika menyaksikan film ini dari awal sampai habis, sebagai seorang perempuan yang sampai hari ini masih syukurnya hetero, gue justru cuma melihat ini kisah tentang cinta. Tentang dua anak manusia dalam cinta. Dan sampai adegan terakhir dimana Elio digambarkan patah hati mengingat indah musim panas itu bersama Oliver dan menangis di depan perapian setelah telponan dengan Oliver yang mengaku akan menikah, gue ikutan nyeesss….mewek, karena ini terasa seperti patah hati yang biasanya juga gue rasakan.

Cinta kan gak kenal gender. Patah hati juga gak kenal gender kan??

Ada satu adegan yang bikin gue nyaris tak terbendung sih….adegan ketika Elio yang sedih berat selepas berpisah dengan Oliver dan lagi dinasihati Prof Perlmana, tentang hidup.

“We rip out so much of ourselves to be cured of things faster than we should that we go bankrupt by the age of thirty and have less to offer each time we start with someone new. But to feel nothing so as not to feel anything – what a waste!”

Atau kalo diterjemahkan bebas menjadi:

“Kita mencabik sebagian dari diri kita supaya bisa lebih cepat sembuh dari banyak rasa sakit sampai-sampai pas usia 30 kita sudah bangkrut tinggal serpihan kecil yang gak punya apa-apa lagi untuk ditawarkan kepada orang baru. Tapi tidak merasakan apa-apa atau tidak merasakan sama sekali ya sama saja – kesia-siaan”

Intinya ya sakit itu harus dinikmati, diresapi…ketimbang tidak merasa apa. Itu nasihat si Prof untuk anaknya. Nah kelanjutannya makin bikin mrebes mili…

“Then let me say one more thing. It’ll clear the air. I may have come close, but I never had what you two have. Something always held me back or stood in the way. How you live your life is your business, just remember, our hearts and our bodies are given to us only once. And before you know it, your heart is worn out, and, as for your body, there comes a point when no one looks at it, much less wants to come near it. Right now, there’s sorrow, pain. Don’t kill it and with it the joy you’ve felt.”

Ini boleh jadi gay film, or better say gay-theme film. Tapi kalo loe ngarep liat adegan2 gay yang syur ya gak ada. Adegan intimnya sampai tahap foreplay aja. Yang anehnya, laki atau perempuan yang nonton bakal ikutan aroused sih. Ya salah satu faktor tentu karena ada Armie Hammer, tapi more over karena kedua lead actors ini luar biasa chemistry-nya. Sadis jali!! Memorable, sensual, loveable, arousing. Entah apa lagi deh.

Sekarang gue lagi mendengarkan audiobooknya. Eh…ini film diangkat dari novel best seller karya Andre Aciman, berjudul sama “Call Me By Your Name”, yang pernah gue lihat di Bahasa Indonesia-kan jadi berjudul “Cinta Terlarang”. Ah..judulnya jadi jayus!! 😦

Audiobooknya dibacakan oleh Armie Hammer. Aduuuhhh….mimpi basah gak sih loe?? Gue udah sampe Act 4 sih. Dan gue menemukan bahwa pemilihan diksi dari Andre Aciman ini luar biasa provokatif dan sensual. Menggambarkan Elio, point of view yang dipakai di novelnya, ini semacam obsesif sekali, tergila, termabuk oleh Oliver.

Pokoknya ini film bagus bangeeeettt….gue udah nonton 5x. Dan masih terus jatuh cinta sih. Diantara kehebohan aksi ‘celup’ yang mergoki gay tapi padahal salah, film ini tuh kayak buat nge-kick mereka on the selangkangan aja. Hahahahaha……

Love is love is love, kata Armie Hammer disalah satu wawancaranya di TV soal film ini. Ya gitu. Apa mau loe kata deh….cinta mah cinta. Perihal lainnya serahkan saja ke yang kuasa. Cuss??

Selamat menonton!!

Advertisements