Bujang Lapuk (sebuah coretan)


Aku benci!! Kala mimpi itu datang lagi meski telah kuhindari. Kala mimpi itu hanya menambah luas lubang hampa dalam jiwaku. Kala mimpi itu hanya menambah rasa kesepian yang selalu saja meraja dan meradang. Aku benci!! Kala mimpi itu membuatku terbangun dengan berkeringat dan kepanasan. Kala mimpi itu membuatku geram dan hanya menimbulkan berbagai pertanyaan. Aku benci!! Kala lagi-lagi aku bermimpi bertemu sesosok belahan jiwa yang tidak pernah dapat kulihat dengan jelas wujudnya, kudengar jelas suaranya atau kurasakan lembut desah nafasnya.

Mimpi itu hanya menambah penderitaanku yang seumur hidup telunta-lunta mencari arti cinta. Mimpi itu telah meracuniku dengan konsep tidak masuk akal perihal adanya seseorang diluar sana untuk setiap orang yang mendamba. Bahwa akan aad seorang hawa bagi setiap Adam yang kesepian di peraduan. Sebutkah aku naïf, tapi begitulah adanya. Aku percaya sejak dulu dan akan terus dibuat percaya meski kusadari, aku sering kali lebih banyak terluka dalam setiap perjalanan perncarianku.

Sesungguhnya, aku punya semua yang diinginkan orang-orang seusiaku. Aku punya pekerjaan untuk kulakukan setiap hari meski tidak bias dikatakan sebuah karir yang memberi kepuasan material dan spiritual, lahir dan bathin. Aku punya kesempurnaan secara fisik dengan sepasanga kali dan tangan, kepala lengkap dengan segala aksesoris dan isinya bahkan alat kelamin yang memungkinkan aku berfungsi baik sebagai manusia dan mampu memenuhi kodratku sebagai manusia yang sanggup berkembang biak. Aku punya perencanaan yang matang tentang masa depan yang telah kurancang jauh-jauh hari. Siapa pun yang nantinya mendampingiku tentu tidak akan kecewa atau menderita.

Namun semua tiada berguna. Semuanya sia-sia. Karena tak satupun kupu-kupu atau kumbang sekalipun atau bahkan lalat yang hendak datang mendekatiku. Aku sendirian. Dan lebih lagi, aku kesepian. Aku hanya manusia yang tidak mengenal arti cinta meski selalu tergila-gila padanya. Pada sesosok bayangan samara dalam mipi-mimpi yang kemudia membuatku terjaga semalaman. Sesosok bayangan yang terus meyakinkanku bahwa ia nyata dan ada dan aku tinggal mencarinya karena ia juga telah lelah menunggu aku menemukannya.

Kala itu langit indah bagaikan eternity surga. Warnanya jingga bersemu coklat, sungguh tenang dan damai. Kudengar riak-riak air laut membelai pasir pantai dengan irama yang menyejukan. Suara desahan angin begitu lembut dan menggetarkan seluruh penginderaan. Semuanya tampak sempurna dan istimewa seperti sesosok bayangan didepanku. Yang meski hanya berjarak tidak sampai satu meter dariku namun tak seujung rambut pun aku dapat melihat sosoknya. Seakan dihalangi oleh matahari yang cemburu dan enggan terbenam meski hari telah amat petang.

Ini pertemuan kami yang entah telah berapa kali. Aku senang dapat bertemu lagi dengannya kali ini. Ada sebuah keinginan yang harus kuutarakan. Ada sebuah kabar yang tak sabar ingin kusampaikan. Dari hati ke hati, kami pun bicara. Tidak akan ada satupun kata yang bocor dari mulut kami. Tapi percayalah, kami sedang berkomunikasi.

 

“Aku akan menikahi Grace. Aku ingin melupakanmu.”

 

Begitulah dua patah kalimat yang pertama kuutarakan dalam komunikasi bathin kami, tentu saja aku tidak mendengar jawaban dari sosok itu. Tapi sungguh, ia juga sedang berkomunikasi denganku. Dan aku pun mulai menguraikan komunikasi bathin itu dalam sebuah percakapan yang tersusun dari kalimat-kalimat penuh kata.

 

“Kau tidak bisa menikah dengan Grace.”

 

“Mengapa? Dia mencintaiku dan aku mencintainya.”

 

“Dia bukan belahan jiwamu. Dia bukan jodohmu.”

 

“Lalu siapa belahan jiwaku?? Bukankah aku tidak akan pernah tahu bila aku tidak pernah mencoba dan berusaha menjalani hubungan ini dengannya??”

 

“Aku adalah belahan jiwamu, akulah jodohmu.”

 

“Tapi kau tidak nyata. Kau hanya bayangan yang selalu mendatangi mimpi-mimpiku. Aku tidak pernah betul-betul mnengenalmu.”

 

“Maka carilah aku. Karena aku ada diluar sana, menunggu waktu kedatanganmu.”

 

“Lalu kemanakah aku harus mencarimu. Dan jaminan apakah bahwa aku memang akan menemukanmu di sebuah realita??”

 

Sosok itu hanya diam. Dan kamipun berhenti berkomunikasi. Saat itu pula aku terjaga dari mimpiku dan mendapati tubuhku basah oleh keringat dan merasa sangat kepanasan meski pendingin ruangan berfungsi dengan sempurna tanpa kerusakan sedikitpun.

Aku termakan kata-kata sosok baying itu hingga keesokan harinya, aku memutuskan hubunganku dengan Grace tanpa suatu alas an yang masuk logika. Tentu saja itu membuat Grace sangat kecewa dan bukan main terluka. Namun percayalah, aku jauh lebih terluka darinya. Aku terluka karena Grace bukanlah sosok yang kudamba dari setiap mimpi-mimpiku. Bahwa bukanlah Grace sosok yang kutemui dan kugandrungi setiap malam-malam itu. Karena bila Grace-lah orangnya, aku pasti sudah dapat melihat jelas wujud sosok bayangan di pantai berlangit jingga kecoklatan itu.

Dasar malang tidak bias ditimbang. Sudah 20 tahun berlalu sejak hari naas itu. Dan aku masih juga belum menemukan belahan jiwaku. Sepanjang pengetahuanku, Grace, perempuan terakhir dalam hidupku, kini telah menikah dan memiliki 4 orang putra-putri yang manis dan lucu. Dia sangat bahagia, sementara aku sendirian dan jauh lebih menderita dari sebelumnya. Usiaku kini telah genap 50 tahun. Dan baru terbangun dari sebuah mimpi panjang soal pencarian seorang belahan jiwa yang mungkin sesungguhnya tidak pernah ada.

Sosok bayangan di tepi pantai berlangit jingga kecoklatan itu juga tidak pernah hadir lagi. Karena memang selalu saja kuhindari. Dia hanya muncul bilamana aku bermimpi. Dan aku hanya akan bermimpi bilamana aku tertidur. Namun aku sudah tidak ingin tertidur, tidak ingin bermimpi lagi, tidak ingin bertemu dengan sosok itu lagi. Aku ingin terus terjaga, meski rasa kantuk menyerangku dari berbagai arah. Dialah penyebab penderitaanku kini.

Dulu aku begitu gandrung padanya hingga aku lupa dan tidak sadarkan diri bahwa aku mungkin sudah menemukan apa yang kucari selama ini. Bahwa mungkin sang belahan jiwa itu sudah datang, namun aku lupa membukakan pintu yang lalu membuatnya pergi dan berlalu. Ataupun bila tidak demikian, setidaknya aku dapat menikmati ketenangan di hari tuaku bersama orang-orang yang kucintai dan mencintaiku. Bukanlah dalam kesendirian seperti saat ini. Hingga suara teriak kesakitanku yang terjatuh di kamar mandi hanyalah didengar oleh sepasang cicak yang sedang asyik bercumbu diatas eterneit kamar mandi itu. Mereka menertawakan kenaifanku.

 

Aya Suhastra

19 July 2005

 

Advertisements