Langkah-langkah Pencarian Nasionalisme


Saya tidak pernah menghitung sudah berapa langkah saya lalui selama bertahun-tahun menjelajah negeri lain selain negeri ini. Mungkin belum banyak. Tapi setiap langkah selalu saja mengarahkan saya untuk kembali. Pulang ke Indonesia. Karena ini rumah. Rumah itu cinta dan cinta itu buta.

image
Kauppatori, Hensinki – Finland

Suatu siang di market Kauppatori, di dekat pelabuhan kota Helsinki, saya membeli beberapa souvenir khas untuk dibawa pulang. Penjualnya mbak bule cantik. Dia bertanya saya dari mana. Karena saat itu, meski musim panas yang artinya musim wisata juga di Helsinki, jarang ada tampak wajah-wajah Asia. Ketika saya bilang dari Indonesia, dia begitu semangat. Surfing!! Itu komentar pertamanya. Lalu saya pun mempromosikan lokasi-lokasi surfing yang bisa ia kunjungi. Dari Pelabuhan Ratu, Pulau Mentawai, G-Land di Jawa Timur sampai Bali. Dia pun bercerita sedang menabung untuk terbang puluhan jam ke Indonesia demi surfing. Terlintas dalam pikiran saya. Saya sudah jadi duta bangsa diluar sana dengan mempromosikan negeri sendiri.

image
Kuala Lumpur, Malaysia

Di lain waktu pada sebuah siang di kota Kuala Lumpur. Saya dalam perjalanan dari KL Sentral menuju KLCC dalam kereta cepat. Suasana tidak begitu ramai karena setelah jam makan siang. Duduk di sebelah saya seorang datuk yang menegur ramah. “Orang Indon?”, tanyanya. Saya jawab iya. Sedikit kesal dalam hati karena lagi-lagi ingat kata-kata Indon yang selalu di-refer orang sana untuk menyebut orang Indonesia. Mengobrol sedikit lalu dia bercerita kalau dia yang wna saja sampai bisa punya KTP Jakarta dengan menyogok aparat. Haduuuhh….coreng muka saya!! Kesal dan mau marah. Ya tapi bagaimana. Kenyataan hal begitu mungkin ada. Tapi dalam hati saya berkata, negeri saya tetap yang saya cinta. Meski mungkin masih banyak kurangnya. Orang lain boleh menilai, tapi toh kita yang lebih paham. Tak mau meributkan hal kecil tadi, buat saya negeri tetangga ini tetap asik untuk dikunjungi. Karena bisa jadi pemacu semangat untuk bangun negeri sendiri. Kalau tetangga saja bisa, masa kita tidak??

IMG_2971

Ta Prohm, Siem Reap – Cambodia

Siem Reap, Cambodia

Di hari lain, sebuah malam setelah pertunjukan sirkus akrobatik di kota Siem Reap. Saya berjalan hanya andalkan peta digital menuju kembali ke penginapan. Sedikit nyasar. Karena sudah malam. Ya salah sendiri sih emang karena gak mau naik tuk-tuk. Tengok kanan kiri tak ada orang. Kalau pun ada papasan, diam saja. Semacam tak pedulian. Sampai tiba di satu traffic light, bingung mau ke kiri atau kanan karena peta digital kehilangan sinyal. Hahaha….
Lalu seorang supir tuk-tuk menegur menawarkan transport. Bahasa Inggrisnya hancur lebur, tapi bisa dimengerti. Saya pun bertanya dalam Bahasa Inggris sederhana. Dia paham dan menunjukkan jalan. Tanpa usaha menawarkan jasa tuk-tuknya. Dan tanpa indikasi ingin mengerjai saya yang jalan sendirian. Tak lama saya tiba di penginapan. Dengan selamat.

 

Me @ Bukit Malimbu

Me @ Bukit Malimbu

Lombok

Pas lagi motoran setelah Bukit Malimbu menuju Pelabuhan Bangsal, disalah satu tanjak terjal, motor saya slip. Akibatnya luka-luka kecil dan motor langsung ngadat. Dasar solo traveler, ya sendirian. Sedih rasanya. Tapi pas kejadian seorang Ibu lokal yang melintas membantu membangunkan motor saya. Bertanya apa saya baik-baik saja atau gimana. Lalu seorang pemuda lokal yang lewat pun membantu meluruskan kunci motor yang bengkok sampai akhirnya motor bisa nyala lagi. Lalu dia mengawal saya setengah jalan sampai sudah dekat Pelabuhan Bangsal. Keramahan lokal. Sungguh terharu rasanya. Di jaman serba modern, manusia individualistis, di sebuah daerah masih menemukan keramahan seperti itu. Tidak pakai pamrih. Langsung bantu.

Seminyak, Bali

Pernah ketika saya tinggal di Bali selama 5 tahun, saya mengalami hal tidak menyenangkan. Ketika orang lokal alias turis domestik diberi wajah muram oleh penjaga butik-butik di daerah Seminyak. Mungkin mereka pikir kami tidak sanggup bayar atau beli. Tapi ketika ada orang asing berambut pirang masuk, langsung disapa dengan manis dan senyuman. Iya…bule masih lebih banyak dapat privilege dari pengunjung lokal.

Dari semua pengalaman diatas, saya semakin mencari arti nasionalisme. Bagaimana cara yang tepat untuk mencintai negeri ini. Semakin banyak melihat keadaan negeri sendiri, campur aduk sudah rasanya. Dari makin cinta sampai makin kesal sendiri. Semakin melihat negeri lain pun semakin campur rasa. Dari iri karena kemajuan mereka sampai kesal juga kalau bangsa kita dianggap sebelah mata.

Devil's Tear

Devil’s Tear, Nusa Lembongan

Tapi yah….saya orang Indonesia. Lahir, besar…tumpah darah. Sampai mati akan bela Indonesia. Karena saya percaya, negeri ini kaya. Budaya, seni, karya, alam dan masyarakatnya. Semua tidak bisa dibandingkan dengan negeri lain. Hujan es pun saya cinta. Iya…cinta itu buta. Meski ga nasionalis banget, tapi itu bukti kecintaan saya. Bahwa seberapa jauh pun kaki saya melangkah, negeri ini akan selalu jadi rumah. Tempat saya pulang dan berbangga. Maka akan saya bela. Sampai nafas dan darah penghabisan. Kesannya sedikit lebay. Tapi untuk seorang biasa, bukti cinta saya adalah selalu berusaha untuk berkarya bagi Indonesia. Mudah-mudahan bawa perubahan. Berkontribusi dengan menjadi warga negara yang baik. Dengan bayar pajak, supaya pembangunan merata dan kita bisa seperti negeri tetangga. Dengan menjaga alamnya, terutama kalau sedang berwisata. Supaya orang lain atau warga dunia lain bisa ikut menikmati indahnya. Dengan menjaga perdamaian negerinya baik sesama warga negera atau dengan warga dunia. Dan dengan terus membagi cerita indah tentang negeri ini. Hitung-hitung promosi. Jadi duta bangsa.

Yah….jangan suruh saya kibarkan bendera di Puncak Jayawijaya lah. Sudah tidak kuat naik gunung demi buktikan semangat nasionalisme. Eh…sudah nasionalis belum saya?

 

Note: ‘Tulisan ini disertakan dalam lomba ‘jalan-jalan nasionalisme’ yang diadakan Travel On Wego Indonesia’ #wego17an

Advertisements