[Short story] Memesan Bahagia


“dia pergi, Zee…”, kata Bry membanting kotak kecil berwarna merah muda itu sampai-sampai terbuka dan isinya berhambur keluar…sebuah cincin emas putih berkilauan.

Zee yang baru datang ke cafe itu tersentak kaget. silau oleh cincin itu dan tetiba sedih melihat air mata sahabatnya bergulir tak tertahankan. zee pun bergegas duduk di samping Bry dan merangkulnya. baru kali ini zee melihat bry begitu rapuh, begitu lemah, begitu kehilangan gairah hidup. bry baru saja putus cinta. oh, bukan…bukan putus cinta. putus harap lebih tepatnya. perempuan yang dipacarinya 2 tahun terakhir yang telah ia klaim sebagai pelabuhan terakhirnya ingkar janji. cinta pun kandas seketika. seperti ombak yang terluka ketika menerjang karang yang tajam. bry terluka hebat. baru kali ini zee melihat bry begitu terluka.

zee memeluk bry erat dan lama. bry membenamkan kepalanya di dada zee. meluapkan segala dukanya disana. sampai dada zee basah airmata. detak jantung zee diam-diam semakin cepat. semakin deras darahnya mengalir. dan tetiba bry pun berhenti menangis. dan hanya terdiam nyaman di pelukan zee.

“zee…”, panggil bry.

“ya?”

“kenapa ya kita gak bisa tau siapa jodoh kita? kenapa kita akhirnya harus mencoba dulu sebelum tau rasanya? kenapa kita harus jatuh cinta kalo akhirnya harus terluka?”

zee diam sejenak. mencerna semua.

sesungguhnya bukan hanya bry yang terluka hari itu. zee telah terluka lebih lama dari itu. lebih dalam, lebih kelam.

“mbak, satu botol lagi vodkanya”, minta zee pada si pelayan.

si pelayan hanya mengangguk dan segera berlalu.

zee mengangkat gelasnya. bry juga.

lalu kedua gelas itu bersentuhan, seraya kedua bibir mereka ikut saling menyapa.

ah….peduli setan. mereka hanya memesan bahagia.
meski sementara, tidak apa.

setidaknya mereka tidak harus sebegitu merana malam itu karena duka dan luka-luka cinta.

“cheers”

Advertisements