Tentang Tiga Puluh Tiga


3 bulan sebelumnya nyaris tengah malam ketika sepasang kakinya kembali menginjak tanah itu. rumah kedua. dimana sebagian sejarah masa mudanya tertulis disana. tetiba dadanya sesak. ada semacam rasa yang telah menumpuk lama yang siap untuk meledak. ia buka sedikit jendela mobil itu. mencoba menghirup udara malam yang dibawa laut ke daratan. masih sama. masih terasa seperti sebelumnya. dan kedua matanya tetiba basah oleh air mata. meledak sudah semua rasa. ia rindu. masa mudanya. ia rindu. jadi dirinya. ia rindu!! tak kah kau mengerti? kini ia duduk sendiri. di sebuah cafe yang ramai pengunjung. tapi ia sendiri. seperti menunggu, seperti menanti. entah apa. entah siapa. entah mengapa. sebuah pertanyaan menggantung dihadapannya. jawaban-jawaban mengambang yang tidak pernah menemukan jalan pulang.

Advertisements