A Home Will Always Be A Home


saya ke bali bulan oktober ini. lebih setahun dari yang terakhir kali. kali ini misinya adalah mengikuti sesi ubud writers & readers festival, bertemu penulis-penulis favorit dan sekaligus jalan-jalan. gak sendirian seperti biasa. kali ini ada sahabat saya, Ree yang ikut serta. kami merencanakan perjalanan ini sejak agustus lalu.

setibanya di bali tengah malam tanggal 10 oktober, rasanya seperti pulang ke rumah. saya ingat bagaimana dulu…setiap tahun setelah mudik, saya kembali ke bali dengan penerbangan malam dan sampai di tanah dewata itu tengah malam. mengantri taksi bandara lalu menuju kosan. tapi tidak malam itu. saya mengantri taksi dan menuju hotel di melasti, Ree sudah menunggu disana karena tiba pagi itu.

ah….bau laut pun menyambut. debur ombak pantai kuta ikut bernyanyi untuk saya malam itu. dan taburan bintang berkilauan untuk saya. iya…cuma di bali. pulau yang menjadi rumah kedua untuk hati dan jiwa saya ini.

malam itu, meski telah lewat tengah malam, saya memaksa Ree untuk pergi ke soto ceker polsek kuta. ah….melepas rindu. saya kangen hangat dan sedapnya semangkuk soto ceker. dan rasanya begitu puas ketika semangkuk itu mendarat mulus di perut saya yang memang sudah kelaparan karena tidak makan malam yang proper sebelum take off.

esok harinya, saya dan ree pergi ke nusa lembongan. ini pun sudah kami rencanakan sebelumnya. saya gemes liat foto temen2 di bali yang sedang getol ke nusa lembongan. dan ya….sampai sana, saya pun gak kecewa. serasa berada di bali tahun 80an. sepi, asri, indah, menghipnotis. saya pun jatuh cinta sudah.

Memandang indahnya Lembongan

Memandang indahnya Lembongan

kami berdua berkeliling dengan motor, setengah pulau. bertualang mencari pantai2 indah. bermandi matahari yang garang, berenang di air nusa lembongan yang biru menyegarkan. dan menikmati taburan bintang di angkasanya ketika malam. meski cuma semalam, kami puas. ini memang perjalanan selingan sebelum sibuk mengikut sesi favorit di uwrf.

pagi2 dari lembongan, kami langsung balik ke sanur. mampir sebentar menikmati sup ikan mak beng yang legendaris itu. hmm….masih tetep enyaaaakkkk!!

dari sana barulah kami berkendara ke ubud dengan mobil sewaan yang sudah diatur juga sebelumnya. sampai di ubud, rame. iya tentu saja…bukan cuma kami berdua yang pengen ketemu penulis favorit donk :D.

tuker tiket sama ID pass lalu cuss ke pantai saba gianyar. iya….kami menginap di villa atmadeva. kebetulan owner-nya si dayu, teman saya di bali. dia sudah berkali bilang kalau ke ubud untuk nginap di tempatnya. maka, kali ini saya coba. atmadeva villa bisa di booking juga via agoda kok.

Atmadeva Villa - Pantai Saba, Gianyar

Atmadeva Villa – Pantai Saba, Gianyar

pantai saba gianyar itu emang jauh dari ubud, 30 menitan lah. daerahnya juga sepi. pantainya berpasir hitam dengan ombak agak besar. dekat situ ada pantai ketewel dan pantai keramas yang ombaknya lebih besar. tempat orang bule surfing dan tempat kejuaraan surfing internasional.

tapi villa atmadeva itu asik. luas…kamarnya besar dan bersih. kolam renang macam punya pribadi. ada 6 kamar disana. semuanya disewakan. dan selama kami menginap 3 malam, ada 2 kamar lain yang diisi bule. surfers.

selama beberapa hari, saya dan Ree sibuk bolak-balik sana sini di ubud. ikut sesi macam orang pinter aja. membahas buku, membahas isu2 kemanusiaan dan gender. beuh!! macam orang bener yah?

Bersama dedengkot Lonely Planet, Mr. Tony Wheeler

Bersama dedengkot Lonely Planet, Mr. Tony Wheeler

dan highlight dari uwrf saya adalah sesi traveller, ketika bertemu dedengkot travel writer. nah…kebetulan sebelum berangkat pun saya dapat kesempatan untuk menulis berbayar alias paid contribution untuk meliput sesi ini dari wego indonesia website. maka….kali ini sambil menimba ilmu, saya pun iseng2 nulis untuk cari duit 😀

Bersama Mbak Dee....penulis favorit dan pujaan aku :D

Bersama Mbak Dee….penulis favorit dan pujaan aku 😀

the rest of the trip adalah bertemu kawan2 lama. rekan2 jaman kerja di seminyak dulu. ah….persahabatan masih saja kental rupanya. untuk ini…saya bersyukur 🙂

With old Elysian friends: Ika, Orisca & Rahayu

With old Elysian friends: Ika, Orisca & Rahayu

dan tentu saja, menyisakan satu hari penuh untuk bermain di pantai. dari nusa dua sampai balangan. bermandi matahari, nyebur di air yang biru sejuk sampai menikmati jingga senja yang mempesona. ah….saya berasa di rumah.

Senjanya Balangan.....ah, hipnotis!!

Senjanya Balangan…..ah, hipnotis!!

saya juga menemukan bahwa setiap perjalanan dimulai dengan pencarian jati diri. dan setiap kepulangan adalah momen menemukan diri saya kembali.

saya masih si petualang yang tak bisa diam. nekad, impulsif, mengandalkan intuisi, tukang nyasar tapi pemberani. ree mungkin tipe traveler yang lebih cari aman. tapi perpaduan kami menjadikan perjalanan ini berkesan. semoga sih dia juga gak kapok jalan sama orang kayak saya yang suka terlalu demanding :D.

bali buat saya…masih sebuah rumah. ketika saya kesana, saya bukan hanya berkunjung. melainkan pulang.

a home will always be a home. where a part of you left there….forever.

thank you, Bali….for giving me the chance to see you again 🙂

Love Balangan Beach....so much...

Love Balangan Beach….so much…

Advertisements