#WestSumateraTrip – Mencari Matahari di Padang


06 April 2013

hari sabtu itu, kami bangun di hotel Sriwijaya yang terletak di pusat kota Padang. lokasinya di jalan veteran, sangat dekat dengan rumah nenek buyut saya yang sudah almarhum. nenek buyut adalah pengusaha kue ale-ale. semacam kue serabi yang dibuat dari beras dan kelapa. kue ini enak dimakan saat hangat. kini usaha itu diteruskan oleh anaknya nenek.

keluarga di kota padang adalah keluarga dari pihak nyokap. mendiang nenek buyut adalah sepupu perempuan nenek kandung saya. ya…kira-kira begitulah hubungan persaudaraan kami ini :D.

pagi itu harusnya rencana kami adalah mencari sedikit pemandangan pantai dan sedikit matahari. namun…apa daya. sejak malam sebelumnya, hujan terus mengguyur kota padang dan sekitarnya. saya punya mimpi untuk mengunjungi pantai-pantai indah di pulau-pulau kecil di lepas pantai pesisir selatan sumatera barat ini. salah satunya ke pulau pagang, yang justru direkomendasi oleh pak rusdi, pemilik pelangi holiday dimana kami menyewa mobil untuk 2 hari sebelumnya. pak rusdi ini merekomendasikan kami untuk ke pulau pagang karena pulau sikuai sudah ditutup untuk pengunjung umum. begitu hasil pembicaraan dengan beliau ketika kami masih merencanakan perjalanan ini. secara langsung, saya pun berpikir bahwa beliau bisa mengaturkan perjalanan ke pulau tersebut, nyatanya….omong kosong semata. dia sama sekali gak punya ide bagaimana kesana. aneh….padahal di website travel itu jelas-jelas mereka menulis bisa mengaturkan perjalanan ke pulau pagang. untuk itu….saya pun kecewa berat.

kembali saya berpikir, mungkin ya begitu kalau didaerah luar jawa terutama. hal-hal macam ini yang membuat perkembangan pariwisata sangat tertinggal. akses dan fasilitas pun sangat minim. padahal potensi wisatanya sangat besar. bahkan lebih besar dari yang kita bayangkan. sekilas saja, sumatera barat ini adalah tempat wisata yang lengkap. kuliner, ada…alam, ada…budaya, apalagi….sejarah, tentu saja. tapi fasilitas, kesiapan, akses? minim luar biasa. untuk itu saya sedih sekali. sebagai pecinta traveling dan seorang hotelier, saya menganggap perkambangan pariwisata di sumatera barat ini sama saja seperti bali di tahun 80an. ketinggalan 30 tahun.

anyway, pagi itu si nenek menjemput kami, meski hujan. lalu kami pun mencoba untuk mengarah ke pesisir selatan. berhenti di pelabuhan bungus, sebuah pelabuhan untuk para nelayan. coba bertanya apakah ada nelayan yang tahu dimana itu pulau pagang. dan….tak satu pun yang tahu. OMG!!

maka, saya yang sudah kehilangan semangat langsung minta melanjutkan saja perjalanan. kami mencoba terus sampai ke pantai carocok. ada seorang teman yang juga bilang, kalau mau ke pantai yang bagus ya ke pantai carocok ini. sampai disana, hujan masih terus turun. sekitar pantai ternyata sedang direnovasi menyambut pegelaran wisata yang akan digelar. berantakan. iya…cuma berantakan. saya pun langsung tak bernafsu untuk melihat apa-apa. hati yang terlanjur begitu merindu ombak, pantai dan mataharinya langsung hancur berkeping hari itu.

kami hanya makan siang di salah satu warung,. meski menunya gulai kepala ikan yang enak itu, semangat saya pun tetap terlanjur tersungkur. maka setelah makan, kami pun kembali ke kota padang. melewati jalan pesisir dan melihat kapal-kapal feri besar ketika melewati teluk bayur yang legendaris itu.

hari itu ditutup dengan kekecewaan maka…tidur mungkin akan mengobati.

07 April 2013

pagi itu, setelah sarapan, kami membereskan semua bawaan. termasuk berkardus-kardus oleh-oleh untuk orang-orang terdekat di jakarta. rencana pagi ini hanya ke rumah nenek untuk menitip barang bawaan, lalu mencoba berkeliling kota padang. penerbangan kami ke jakarta adalah malam hari, jadi masih banyak waktu.

sepupu saya, aris, datang menjemput. lalu dia mengantar kami ke rumah nenek. nenek tinggal di daerah pasar belimbing di kuranji. sedikit keluar pusat kota padang. disana beliau punya warung kecil dan sebuah barbershop yang dikelola bersama anak-anaknya.

om buyung lalu menawarkan teh talua atau teh telur. teh yang dicampur dengan putih telur dan susu. penampilannya sangat menarik. satu gelas dengan lapisan masing-masing. macam minuman cocktail saja. setahu saya, di beberapa acara traveling, minuman ini tidak pernah tampak berlapis. tapi om buyung juara. dibuatnya begitu menarik. sebelum diminum, peras jeruk nipis ke dalamnya. ini akan membantu menghilangkan bau amis dari putih telur. teh talua rasanya mirip seperti teh tarik. sedikit lebih segar ketika jeruk nipis terasa. enak lah pokoknya.

Path 2013-04-07 10_42

setelah tengah hari dan makan siang suguhan masakan nenek, kami pun pergi jalan-jalan bersama. tante-tante bersama keluarganya ikut serta. 2 mobil tepatnya. pemberhentian pertama adalah jembatan siti nurbaya. gak jelas juga kenapa namanya jembatan siti nurbaya. jembatan ini kalo sore atau malam rupanya rame untuk orang pacaran. haahahahahaha….

Jembatan Siti Nurbaya

Jembatan Siti Nurbaya

Pemandangan dari Jembatan Siti Nurbaya

Pemandangan dari Jembatan Siti Nurbaya

lalu kami ke pantai purus. ini pantai dipusat kota padang, yang ternyata bisa walking distance dari hotel sriwijaya itu. di pantai berpasir coklat ini banyak anak-anak lokal sedang berselancar. ombaknya lumayan rupanya. meski sayang sekali…keadaannya kurang bersih. banyak timbunan sampah diatas pasir yang mengurangi keindahan. padahal secara sekilas, pantai ini mengingatkan saya pada pantai kuta di bali.

banyak kios-kios makanan dan tempat-tempat duduk berpayung untuk santai. kami pun memlilih salah satunya, duduk bersama dan menikmati buah kelapa muda. matahari awalnya malu-malu, sampai akhirnya muncul juga dari balik awan. saat itu lah saya duduk di bawah langit. i need the sun…..dan hasilnya ada belang di kaki 😀

Pantai Purus

Pantai Purus

Pantai Purus

Pantai Purus

Pantai Purus

Pantai Purus

Pantai Purus

Pantai Purus

Anak-anak peselancar di Pantai Purus

Anak-anak peselancar di Pantai Purus

setelah pantai purus, kami pergi ke pantai air manis. saya ingat ketika pertama kali ke padang tahun 1990, nenek buyut mengajak kami sekeluarga hiking bukit sampai akhirnya mendarat di pantai ini. waktu itu usia saya mungkin 9 tahunan. sepanjang perjalanan melintas bukit, saya ingat melihat penampakan siamang, sejenis monyet tapi berbulu hitam legam dan berekor panjang.

kini untuk ke pantai air manis sudah ada jalan untuk mobil. kita bahkan bisa parkir sangat dekat dengan pantai yang cukup landai ini. ada beberapa anak lokal yang juga berselancar disini. selain tentu saja, lebih banyak orang yang datang kesini untuk melihat batu malin kundang.

Pantai Air Manis

Pantai Air Manis

Pantai Air Manis

Pantai Air Manis

Pantai Air Manis

Pantai Air Manis

Pantai Air Manis

Pantai Air Manis

Pose di Pantai Air Manis

Pose di Pantai Air Manis

Bersama Sanak Saudara di Pantai Air Manis

Bersama Sanak Saudara di Pantai Air Manis

Sama Sepupu Yang Lucu...Dek Yusuf

Sama Sepupu Yang Lucu…Dek Yusuf

siapa yang tak tahu malin kundang? legenda ternama dari ranah minang tentang si anak durhaka yang kemudian dikutuk ibunya jadi batu, iya…disini dipercaya adalah batu si malin kundang itu. sayangnya seingat saya dulu penampakan batu ini justru lebih bagus. akibat abrasi pantai, batu ini pun terkikis. sayang ya? saya rasa pemerintah lokal belum melakukan tindakan restorasi sama sekali.

selain batu malin kundang, ada juga batu-batunya yang menyerupai kapal si malin yang ikutan berubah jadi batu. ya…bentuknya sudah gak keruan. abrasi itu tadi 😦

Batu Malin Kundang

Batu Malin Kundang

Batu Kapal Malin Kundang :D

Batu Kapal Malin Kundang 😀

kami berfoto dan main disana sampai semakin sore. lalu kami kembali ke kota. makan sate bersama sebelum kembali ke rumah nenek.

selepas maghrib, kami sudah bersiap. membereskan ulang barang bawaaan dan mengucap sampai jumpa pada semua keluarga. om mario dan farel mengantar kami ke bandara malam itu. penerbangan kami jam 9 malam dengan mandala. jadi jam 8 kami sudah tiba di bandara minangkabau dan mengakhiri perjalanan ini.

sekilas, saya bisa menangkap kebahagiaan nyokap bokap. diantara kekecewaan saya karena tidak menemukan pantai yang saya cari, mungkin senyum mereka cukup mengobati. 🙂

Berpose bersama sebelum berpisah

Berpose bersama sebelum berpisah

Advertisements