#WestSumateraTrip – Kedatangan Yang Disambut Hujan


04 April 2013

sejujurnya perjalanan ini sudah kami (saya, nyokap & bokap) tunggu selama 5 bulanan. berawal dari keinginan saya kembali ke sumatera barat setelah terakhir kesana tahun 1997. iya…belasan tahun lalu. nyokap yang asli berdarah minang memang lebih sering kesana. tahun 2012 saja beliau sempat kesana untuk pemakaman Om-nya. tapi tidak dengan saya. karena itu ketika ada kesempatan tiket promo dari batavia di akhir tahun, rasanya sulit untuk dibiarkan begitu saja. bermodal Rp250ribu seorang, saya dapat tiket pp Jakarta – Padang waktu itu untuk bertiga.

sebagaimana diketahui, batavia diakhir bulan januari dinyatakan pailit dan semua penerbangannya ditutup. tentu…saya yang sudah keluar uang untuk membeli tiket ini menjadi resah. berbagai cara yang disarankan pun dilakukan. dari ke kantor kurator untuk melaporkan tiket sampai ke kantor perwakilan penjualan mandala di bandara yang kabarnya mengambil alih rute tersebut dari batavia. penerbangan batavia jakarta – padang dialihkan dengan penerbangan tiger mandala. dan alhamdullilah….urusnya pun mudah. sebenarnya gratis juga. tapi ada biaya admin sebesar 30ribu. tak apalah…asal berangkat saja.

parahnya tiger mandala hanya punya 1 kali penerbangan. yaitu di pagi buta jam 5:30 dari jakarta. jadilah kami bangun jam 2 malam dan ke bandara jam 3 malam. proses check in di pagi buta itu cukup lancar. terminal 3 ternyata sudah ramai sekali. nyokap yang membawa kardus besar berisi oleh-oleh untuk para sodara di padang tampak sangat sumringah. yah….itung-itung membahagiakan orang tua. meski sekedar membelikan mereka tiket penerbangan kelas coach.

Persiapan Perjalanan

Persiapan Perjalanan

sekitar jam 7, pesawat mandala mendarat mulus di bandara internasional minangkabau yang pagi itu dibanjur hujan. rasanya sedih sampai sana hujan begitu. tapi mau apalagi. nenek, tantenya nyokap datang menyambut di bandara sekaligus mengambil kardus besar oleh-oleh itu. sempat ngobrol seadanya, karena kami juga sudah dijemput oleh supir mobil sewaan yang sudah diatur dari berminggu sebelumnya. saya menggunakan mobil travel dari pelangi holiday sebuah mobil avanza seharga Rp550ribu per hari termasuk BBM, supir, penginapan supir bila ada. tentunya harga segitu cukup pantas, mengingat perjalanan di sumbar yang terbilang menantang. iya…menembus bukit-bukit dan hutan lindung. pak rusdi, pemilik pelangi holiday, mengutus uda edi sebagai supir kami.

Arrive Minangkabau International Airport

Arrive Minangkabau International Airport

dari bandara, kami pun melanjutkan perjalanan ke bukittinggi. iya…rencana malam itu adalah menginap di bukittinggi. saya sudah booking hotel ambun suri yang terletak persis di tengah kota dengan harga Rp300ribu saja. good bargain lah…

karena masih pagi dan kami semua belum sarapan, maka kami pun mampir di warung pinggir jalan yang menjual sarapan khas minang yaitu ketupat sayur minang dan gulai pical. penampakan ketupat sayur seperti dibawah ini. sebenarnya tidak beda dengan ketupat sayur lainnya. hanya kalo khas minang itu kerupuknya pasti warna pink. gulai pical itu semacam mie dengan kuah kental rasa pecel. agak aneh sih emang…saya coba sedikit saja dari piring nyokap.

Sarapan Lontong Sayur Padang

Sarapan Lontong Sayur Padang

di peta yang saya punya memang kelihatannya dekat. tapi ternyata dari bandara menuju objek wisata pertama dalam skedul kami, danau diatas danau dibawah, memakan waktu sekitar 2 jam. melewati perbukitan dalam keadaan berkabut karena hujan tak berhenti turun.

danau tektonik yang juga disebut danau kembar ini terletak di kabupaten solok. dalam perjalanan menuju danau diatas danau dibawah, kita bisa melihat hamparan perkebunan para penduduk. mulai dari kebun teh, kebun bawang, labu, sayur mayur. wah…sebetulnya menyenangkan sekali. tapi balik lagi….hari itu terus hujan 😦

Panorama Berkabut Danau Diatas

Panorama Berkabut Danau Diatas

Danau Dibawah...dari jauuuhhhh

Danau Dibawah…dari jauuuhhhh

Panen Bawang Merah

Panen Bawang Merah

Labu

Labu

Markisa

Markisa

kami berhenti di tempat yang disebut pemberhentian panorama danau diatas danau dibawah. dari tempat ini kita bisa melihat kedua danau dari kejauhan. kedua danau tidak bisa didekati karena tidak ada akses. di sekitar danau adalah ruman-rumah penduduk.

setelah sekedar mengambil gambar sebisanya, kami ngeteh dan ngopi sebentar di warung. si uni pemilik warung memamerkan hasil kebunnya seperti penampakan diatas. di jakarta boleh susah bawang merah. disana mereka malah memanen hasil kebun sendiri.

oya…saya pun mencoba teh kayu aro. teh asli dari daerah itu. rasanya pun enak, wangi pula. tak kalah dengan teh kemasan yang terkenal itu. sayangnya teh ini tidak banyak bisa ditemukan.

sedikit kecewa karena pemandangan indah di danau diatas danau dibawah ini tidak terekam sempurna karena hujan. oya…bukan cuma hujan. tapi angin yang berhembus cukup kencang sampai-sampai saya mengancingkan jaket kulit saya saking dinginnya.

dari sana, kami melanjutkan perjalanan. jelang jam 12 siang kami berhenti di dekat pusat kota solok untuk makan sup daging di sebuah warung pinggir jalan. sup daging disini berbeda. isinya kebanyakan tetelan. ditemani dengan perkedel kentang dan sambal merah yang penampakannya seperti gumpalan darah 😀

Menu Makan Siang Sop Daging Tetelan

Menu Makan Siang Sop Daging Tetelan

tak lama berhenti, setelah makan, kami pun melanjutkan perjalanan. hujan masih menemani. kadang deras, kadang hanya gerimis.

sampai kami tiba di pinggir danau singkarak. fyi aja…di sumbar ini ada 3 danau terkenal: danau singkarak, danau maninjau dan danau kembar.danau singkarak ini saking besarnya sampai berada di 2 kabupaten sekaligus, tanah datar dan solok.

danau ini bisa didekati. pada hari cerah, kita bisa main perahu air, dll. tapi hari itu kurang cerah. angin pun berhembus bagai ingin menerbangankan siapa saja. hiks…:(

kami berhenti sejenak, mengambil gambar dan minum air kelapa. bukit barisan yang menjadi latar sungai ini tampak sangat gagah. oya…di danau ini juga ada ikan bilih. ikan kecil yang sedikit lebih besar dari ikan teri. ini makanan khas. paling enak kalo digoreng dengan sambal terus dimakan pake nasi panas. duuuhh….laper deh.

Danau Singkarak

Danau Singkarak

Pose Di Danau Singkarak

Pose Di Danau Singkarak

Danau Singkarak

Danau Singkarak

Danau Singkarak

Danau Singkarak

karena perjalanan masih sangat jauh, kami pun lanjut. kali ini sedikit lebih jauh ke arah kabupaten tanah datar dan melihat kemegahan istana pagaruyung, istana ini tahun 2007 tersambar petir dan kebakaran. tapi sekarang sudah direstorasi meski belum bisa dimasuki pengunjung. sedih juga…dari tukang foto disana, katanya masih menunggu datang SBY untuk meresmikan. duuuhhh….ribet amat dah.

istana ini adalah replika dari istananya kerajaan pagaruyung, kerajaan melayu yang berkuasa di sumatera barat dan sekitarnya yang dipimpin oleh adityawarman (kabarnya lho :D). istana ini adalah gambaran rumah adat minang dengan atap bagonjong atau atap yang menjulang keatas menyerupai tanduk.

dulu tahun 1997, saya pun pernah kesana dan masuk kedalamnya. dulu ada banyak maket, diorama tentang sejarah tanah minang dan kerajaan pagaruyung, berikut baju adat yang bisa disewa untuk kemudian berpose macam raja dan ratu minang.

yah…semoga saja segera istana ini bisa dibuka kembali dengan koleksi bersejarah yang lebih baik dan maket-maket yang lebih informatif.

Istana Baso Pagaruyung

Istana Baso Pagaruyung

Istana Baso Pagaruyung

Istana Baso Pagaruyung

Motif Cantik Nan Colorful

Motif Cantik Nan Colorful

Pose Di Depan Istana Baso Pagaruyung

Pose Di Depan Istana Baso Pagaruyung

tak jauh dari istana pagaruyung, adalah batu basurek atau batu bersurat atau batu tulis. ini adalah tempat situs berserajah prasasti adityawarman. silakan google sendiri siapa itu adityawarman. batu-batu bertulis sansekerta ini sudah ada dari abad belasan. keadaannya tidak bisa dibilang baik. malah dengan penempatan yang di luar, saya khawatir akan tergerus oleh cuaca yang makin jahat. sedih juga sih….ini bernilai sejarah yang sangat tinggi lho. setiap batu sesungguhnya ada penjelasan diatas. tapi sangat kecil hingga orang berpenglihatan minus macam saya sulit untuk membaca. sekali lagi…sangat disayangkan.

Batu Basurek

Batu Basurek

Batu Basurek

Batu Basurek

Batu Basurek

Batu Basurek

Batu Basurek

Batu Basurek

Batu Basurek

Batu Basurek

tak lama, kami pun lanjut. kembali menuju bukittinggi. sore itu kami mampir di kota padang panjang. kota-kota di sumatera barat ini memang tersebar di antara perbukitan. kondisinya sangat homey…nyaman sekali. sepi dan damai. semacam hidup di tahun 80an.

sore itu kami mampir ke sate mak syukur, sate padang terkenal di padang panjang.

Sate Mak Syukur

Sate Mak Syukur

setelah makan sore, lanjut lagi donk. saya terus terang salah perkiraan. di peta sih keliatan dekat. ternyata jauhnya ampun-ampunan. plus…saya tidak memperhitungkan jauhnya jarak yang bertambah karena medan perjalanan yang berbukit.

sore itu kami mampir di daerah pandai sikek, di daerah batu sangkar. ini adalah daerahnya pengrajin tenun songket dan sulam khas minang. ada satu tempat lagi sebenarnya, silungkang di daerah sawah lunto. ini kampung kelahiran nyokap. disana pun ada pengrajin songket. ada sodara nyokap yang masih bekerja sebagai pengrajin juga. sejak dari jakarta saya sudah bilang bahwa saya ingin melihat orang membuat songket. namun karena rutenya memutar, kami pilih untuk mampir di pandai sikek saja.

di pandai sikek, sudah terjejer toko-toko pengrajin. silakan pilih yang kita suka. di dalam toko, selain menjual hasil songket dan sulam, mereka pun memajang alat tenun. bisa kita lihat juga peragaan dari pengrajin cara membuat songket. hmm….susah ternyata. ratusan benang diatur rapih satu per satu. untuk membuat satu lembar songket ukuran 40x40cm saja bisa makan waktu 1 bulan. bayangkan kali satu meter….berbulan-bulan.

Membuat Tenun Di Pandai Sikek

Membuat Tenun Di Pandai Sikek

Membuat Tenun Di Pandai Sikek

Membuat Tenun Di Pandai Sikek

Membuat Tenun Di Pandai Sikek

Membuat Tenun Di Pandai Sikek

Pura-pura Menenun

Pura-pura Menenun

Toko Kerajinan Pandai Sikek

Toko Kerajinan Pandai Sikek

Hasil Tenun Pandai Sikek

Hasil Tenun Pandai Sikek

jadi wajar saja kalau harganya pun cukup mahal. mulai dari Rp150ribu untuk ukuran kecil sampai jutaan rupiah untuk satu set songket. tapi yah…saya sudah niat. maka…saya beli 2 buah, untuk sekedar oleh-oleh saja dan pengingat kalo saya pernah disini.

hasil sulamannya pun indah. sangat rapih. tentu…karena semua dibuat dengan ketekunan tangan para pengrajin. untuk ini saya sangat salut. semoga kerajinan macam ini bisa terus maju dan bisa punya market di luar negeri.

dari pandai sikek, kami lanjut ke bukittinggi yang sudah tidak begitu jauh. tiba di hotel kira-kira maghrib. lalu mandi dan beristirahat sebentar. hotel ambun suri yang kami inapi ini lokasinya sangat dekat kemana-mana. strategis sekali. cuma 5 menit jalan kaki ke tempat panorama lubang jepang & ngarai sianok, jam gadang dan istana bung hatta. tapi lokasinya persis di perempatan. jadi sangat ramai dan sedikit bising.

nyokap bokap di Jam Gadang di malam hari

nyokap bokap di Jam Gadang di malam hari

sambil cari makan malam, kami jalan kaki ke jam gadang. disana ramai. dari pedagang kaki lima sampai anak-anak muda yang hunting foto atau main sepatu roda. malam itu bukittinggi dingin sejuk. setelah makan malam, kami pun kembali ke hotel untuk beristirahat. it’s been a rainy tough day. meski begitu, senyum nyokap bokap yang tetap sumringah cukup menyejukkan hati yang malah galau karena kena hujan seharian…:D

*to be continued

Advertisements