Taman Nasional Baluran: Africa Van Jawa – Part 3


pengantar:

berikut adalah kelanjutan perjalanan adik-adik saya di Taman Nasional Baluran. Enjoy!

Cara Lain Menikmati Baluran

Monyet Yang Sarapan di Pantai Bama

Monyet Yang Sarapan di Pantai Bama

Pantai Bama Yang Tenang Di Pagi Hari

Pantai Bama Yang Tenang Di Pagi Hari

Esok paginya, Sanip bangun dan langsung menuju pantai untuk mengambil beberapa gambar. Pagi itu, Pantai Bama yang tampak sedang surut airnya, dipenuhi monyet-monyet yang berkeliaran mencari ikan dan binatang kecil lainnya. Sayangnya, pagi itu begitu mendung dan sunrise yang dinantikan di pantai ini juga tidak terlihat sama sekali. Sial! Tampaknya datang di musim yang salah… Daripada kecewa, Sanip mencari spot yang cukup jauh dari monyet-monyet tadi, lalu mulai menghabiskan waktu dengan memandangi tenangnya Pantai Bama di pagi hari.

Menjelang siang, Sanip, Zhey, dan Rama, memutuskan untuk menyewa kano. Sewa kano disini Rp. 25.000,-/jam. Tapi kata bapak yang menyewakan kano, selama tidak ada orang lain yang ingin menyewa kano juga, maka boleh-boleh saja memakai kano itu seharian. WOW! Fair enough!

Asik bermain Kano

Asik bermain Kano

Main Kano Rame-Rame

Main Kano Rame-Rame

hidden beach

hidden beach

Sanip diantara tanaman bakau

Sanip diantara tanaman bakau

Mereka bertiga berkano menyusuri garis pantai, melintasi hutan bakau, sampai menemukan beberapa pantai tersembunyi lainnya. Sampai tak terasa kulit mereka jadi perih dan memerah karena terbakar sinar matahari yang semakin tinggi. Kebetulan saat itu hanya mereka bertiga saja yang bermain kano. Aktivitas ini tentu menarik perhatian dari beberapa pengunjung Pantai Bama lainnya. Termasuk sekelompok bapak dan ibu yang tampaknya adalah pegawai di salah satu instansi pemerintah Banyuwangi. Mereka mungkin sedang outing ke Pantai Bama ini. Saat mereka bertiga akan mendarat lagi ke pantai, salah seorang diantara si bapak ibu itu nyeletuk: “Tuh, kalo mau maenan itu, syaratnya musti buka baju, bajunya musti diiket ke kepala..” Pada saat itu, Sanip dan Zhey sama-sama gak pake baju dan sama-sama mengikat kaos di kepala. Hahahaha…

Si Bapak Ibu lalu menyapa dan mulai menanyakan asal-usul mereka. Setelah bilang bahwa mereka dari Jakarta, si bapak ibu terlihat kaget. Sejurus kemudian, salah satu diantara mereka bilang: “Kok kalian jauh-jauh kemari sih? Di Jakarta kan banyak air?! Kadang malah gak perlu keluar rumah kan?? Tinggal buka pintu, udh langsung masuk ke rumah, airnya…” Beuh!! Kena nih mereka dicengin lagi.. Mereka bertiga yang sadar bahwa itu adalah sebuah sindiran untuk Jakarta yang banjir, selow-selow aja dan cekakakan sambil mulai melipir sebelum makin habis dicengin.. Hahahahaa…

Menjelang sore, mereka bergerak kembali menuju pos penjagaan Bekol. Melintasi savanna sejauh +/- 3 km sambil memanggul ransel-ransel yang hampir semuanya overload. Cukup melelahkan! Sampai di Bekol, mereka lalu menyewa kamar untuk 1 malam lagi seharga Rp. 50.000,-/orang/hari. Malam itu, mereka kumpul di teras depan kamar sambil menikmati angin malam sampai akhirnya Sanip dan Zhey tertidur di sofa-sofa yang tersedia di teras itu sedangkan Rama sudah lebih dulu masuk untuk tidur di kamar. Hahaha.. Tampaknya angin pegunungan yang berhembus membawa kesejukan telah sukses membuai Sanip dan Zhey ke alam mimpi.

Monyet Nakal

Monyet Nakal

Saat terbangun pagi itu di penginapan Bekol, Sanip langsung dikagetkan dengan kehadiran seekor monyet berbadan besar di teras yang sedang asik menghajar sisa cemilan tadi malam. Ia lalu kabur setelah selesai ‘sarapan’ dan menyadari kalau Sanip sudah bangun dan memperhatikan gerak-geriknya. Tak lama kemudian, sekawanan rusa berduyun-duyun turun dari gunung menuju savanna untuk sarapan juga. Wah, wah… Dimana lagi anda bisa terbangun di pagi hari dan langsung disajikan pemandangan seunik ini?!

Waktunya Sarapan

Waktunya Sarapan

Penginapan di Bekol ini tidak punya warung penjual makanan seperti di Bama. Hanya ada etalase kecil di pos penjagaannya yang menjual snack dan mie instan. Tapi Pak Kasman, sang penjaga pos bilang, kalau punya bahan makanan sendiri, di belakang pos-nya ada dapur umum. Akhirnya mereka membeli 3 bungkus mie instan untuk bertiga. Pak Kasman juga bilang kalau di dapur umum itu juga ada beberapa bahan makanan seperti telur, tempe, tahu, dan nasi yang bisa dimasak sendiri bila mau. Nanti saat akan pulang, tinggal dihitung saja berapa banyak yang dimakan. Mereka bertiga lalu mulai memasak dan setelah kenyang, tentu harus mencuci sendiri peralatan makan dan masak yang dipakai. Lucunya, saat sedang memasak, didepan dapur umumnya, berkeliaran dua ekor burung merak. Tampaknya ini burung merak yang sama dengan yang dijumpai saat baru turun dari menara pandang Bekol saat tiba pertama kali.

Saat besok paginya Sanip mengurus pembayaran makanan-makanan itu ke Pak Kasman, Sanip menyebutkan dengan jujur berapa banyak bahan makanannya yang disikat. Walaupun beliau juga tidak akan tahu berapa banyak sebenarnya yang dimakan karena tidak ada catatan pastinya, tapi ternyata Pak Kasman ini luar biasa baiknya. Dia menolak untuk menghitung nasi, tempe dan tahu yang sudah dimakan. Ia hanya mengitung mi instan, snack, dan telurnya saja. Wah, betapa beruntungnya bertemu orang sebaik beliau.

Menjelang siang, mereka bertiga sudah menumpangi ojek yang membawa meninggalkan Taman Nasional Baluran. Terima kasih, Baluran… Atas indah dan damainya alammu, terima kasih untuk keramahan para penghunimu.

See You Again, Baluran

See You Again, Baluran

Di gerbang depan, mereka ngobrol sebentar dengan sang penjaga sambil bertanya mengenai transportasi ke Banyuwangi. Mereka memang memutuskan untuk mencoba rute baru untuk kembali ke Surabaya. Yaitu dengan menumpangi kereta dari Banyuwangi menuju stasiun Gubeng, Surabaya. Mereka naik bis kecil dari Batangan menuju Banyuwangi dengan ditemani pemandangan laut di sebelah kiri hampir di sepanjang jalan. Ongkos bis-nya Rp. 6.000,-/orang. Di bis itu, Sanip ngobrol dengan seorang pengamen untuk menanyakan arah ke stasiun. Dari obrolan itu, Sanip akhirnya tahu bahwa dia juga pernah tinggal di Depok, di daerah Cimanggis. Sampai di Terminal Banyuwangi, Sanip, Zhey, dan Rama, ngopi-ngopi sebentar sambil menunggu keberangkatan angkot yang melewati Stasiun Banyuwangi Baru. Untuk angkot ini, mereka bayar Rp.5.000,-/orang.

Sampai di stasiun, mereka ternyata tidak kebagian tiket untuk berangkat hari itu ke Surabaya. Dan akhirnya membeli tiket kereta kelas bisnis untuk ke Surabaya yang baru akan berangkat besok malam dengan harga Rp. 80.000,-/orang. Mereka lalu menyewa kamar penginapan di dekat stasiun seharga Rp. 50.000,-/malam. Not bad kamarnya.. Sesuai deh dengan uang 50 ribu yang dikeluarkan. Sore hari, mereka masuk ke perkampungan warga dan akhirnya tiba di garis pantainya. Pantai ini sebenarnya adalah halaman belakang dari rumah-rumah para penduduk di sekitar situ. Dari tempat berdiri, langsung terlihat Pulau Bali, Pelabuhan Ketapang, dan beberapa kapal Ferry yang mengarungi Selat Bali. Saat memandangi pantai, mereka ditegur oleh seorang waria yang tampaknya tinggal di dekat situ, dan ditawari minum kopi di rumahnya. Mereka bertiga berlagak cuek walau sebenernya sih males banget diajak ngopi di rumahnya doi. Hiiii….

Malam hari di Banyuwangi, mereka keluar makan nasi kucing pake potongan ayam atau telor, tempe, dan kerupuk, lengkap dengan sambelnya yang ‘dewasa’ banget! Harganya pun sangat bersahabat. Cuma Rp. 5.000,-/bungkus. Selesai makan di samping kantor polisi, mereka jalan-jalan ke dalam stasiun dan ke depan pelabuhan sampai akhirnya terdampar di trotoar pinggir jalan. Bengang-bengong ngeliatin mobil yang berlalu-lalang.

Esok paginya, Sanip bangun dan keluar mencari warung kopi. Sambil ngopi sendirian, ia duduk di pinggir jalan memperhatikan kesibukan Banyuwangi di pagi hari. Sekali lagi, keramahan orang lokal berhasil memukau. Mereka yang melintas di depan Sanip, tidak jarang ada yang menyapa atau sekedar melemparkan senyuman. Enak banget suasananya, bikin pagi itu jadi berasa semakin adem!

Kembali ke kamar, Sanip lalu meneruskan menulis catatan ini sambil ngerokok di depan kamar. Penghuni kamar seberang ternyata adalah 2 orang wanita dan 2 orang laki-laki. Salah satu wanita itu lalu meminjam charger HP dan menitip HP-nya untuk dicharge di kamar. Perempuan ini lalu mulai membuka obrolan dengan Sanip hingga seorang teman wanitanya yang lain juga ikut terlibat dalam obrolan. Wanita yang meminjam charger ternyata asli orang Bali. Dia tinggal di Renon, Denpasar. Dulu saya (@BebsAya) tinggal di Renon, jadi Sanip bisa nyambung ngobrol sama perempuan ini. Tiba-tiba, salah satu dari pria itu menyela percakapan dengan berbicara menggunakan bahasa jawa. Karena Sanip tidak mengerti, dia hanya bengong saja. Si wanita asal Bali ini menjelaskan kepada cowoknya kalau Sanip tidak mengerti bahasa jawa. Pria ini lalu berbicara lagi, tetap dengan bahasa jawanya. Kali ini, si wanita Bali ini sampai harus membungkam mulut cowoknya itu. Sanip hanya tertawa saja. Tapi mulai menangkap sinyal kurang enak dari pria ini yang terpancar dari cara dia melihat.

Siang hari, mereka bertiga sudah luntang-lantung di stasiun menunggu kereta yang baru akan berangkat nanti malam jam setengah 10. Saat itulah mereka bertemu dengan seorang bapak asal Flores, NTT. Bapak ini kini tinggal bersama istrinya di Banyuwangi dan dia baru saja turun dari pelabuhan setelah mengunjungi anak-anaknya yang bekerja di Bali. Dia bercerita bahwa dia adalah salah satu orang yang ikut membangun jalan-jalan aspal dan gedung-gedung pemerintahan di Timor Timur pada era Pak Harto. Ia bercerita tentang bagaimana kepalanya pun pernah ditodong senapan oleh geriliyawan Fretilin di Timor Timur. Dari ceritanya pula, bisa ditangkap kesan kekecewaannya bila mengingat bagaimana Timor Timur kini bukan lagi bagian dari NKRI. Juga bagaimana dia pernah bekerja sebagai supir truk yang mengangkut sayur dari berbagai daerah untuk sampai ke Pasar Kramat Jati, Jakarta. Dari ceritanya jugalah kita jadi bisa mengerti kenapa supir-supir itu kerap ngebut-ngebutan di jalanan. Bukan untuk dibilang jagoan, tapi karena setiap detik yang mereka buang di jalan, sama dengan berapa banyaknya uang yang harus mereka buang untk menutupi kerugian.

Karena jadwal keberangkatan masih beberapa jam lagi, mereka pun memutuskan untuk menyewa kamar di rumah salah satu rumah penduduk di dekat stasiun seharga Rp. 25.000,-/malam. Tapi tentu saja, hanya digunakan untuk tidur-tiduran, mandi, dan nge-charge HP sambil menunggu datangnya kereta nanti malam. Sang pemilik rumah ternyata adalah seorang simpatisan Partai Demokrat. Setelah ia selesai shalat Isya, Sanip, Zhey, Rama, dan seorang penyewa kamar lainnya terlibat obrolan seru dengannya. Mulai dari budaya orang Indonesia, objek-objek wisata, sampai soal Anas Urbaningrum, Angelina Sondakh, dan Ruhut Sitompul. Ternyata sang bapak pemilik rumah ini adalah seorang mantan pegawai Freeport. 13 tahun ia pernah bertugas di Papua sebelum akhirnya pensiun. Sedangkan seorang penyewa kamar lainnya ini ternyata berasal dari Bandung. Namanya Yosef dan dia beserta istrinya baru saja tiba dari Bali untuk mengurus tender bisnis konveksi yang dia geluti di Bandung.

Pukul setengah 10 malam. Sanip, Rama, dan Zhey, sudah berada di stasiun setelah sebelumnya makan nasi kucing lagi di depan stasiun. Setelah kereta akhirnya mulai bergerak meninggalkan Banyuwangi, Zhey dan Rama duduk bersebelahan di dalam kereta. Sedangkan Sanip duduk sendirian dideretan sampingnya. Melewati beberapa stasiun, akhirnya datang juga sang pemilik tiket bangku disebelahnya. Seorang wanita. Gadis muda, tepatnya. Apakah dia cantik?? Yup! She’s a gorgeous young lady! Sialnya, dia tampak ketakutan saat menyadari bahwa harus duduk bersebelahan dengan Sanip. Kebetulan waktu itu adik saya ini memakai kaus buntung dan tato di tangan kirinya tentu tak bisa disembunyikan, begitu juga dengan ketakutan di wajah perempuan itu. Mungkin dikiranya adik saya ini penjahat. Sanip lalu mencoba ramah dengan menawarkan kursi dekat jendela yang ia duduki. Sebetulnya, nomor kursi itu memang miliknya. Sanip yang seharusnya duduk di bangku pinggir. Setelah duduk di samping adik saya, perempuan itu bahkan memakai hoody untuk menutupi wajahnya. Hahaha… Kasian ya, orang cakep sering kali harus hidup dengan ketakutan berlebihan akan dunia yang kasar dan tidak ramah.

Tiba di Surabaya menjelang pagi, mereka naik angkot dari Stasiun Gubeng menuju Stasiun Pasar Turi. Disitulah akhirnya menemukan kamar di rumah penduduk yang disewakan seharga Rp. 50.000,-/malam. Inilah kamar terburuk sepanjang perjalanan ini. Sempit, panas, kotor, dan berdebu. Dari kamar inilah Sanip akhirnya membawa pulang flu dan pilek sampai ke Jakarta. Bahkan untuk mandi, mereka masih harus menimba air terlebih dahulu. Beruntunglah Rama yang tidak perlu merasakan bermalam di kamar itu karena pada sore hari, ia harus mengejar pesawat di Bandara Juanda untuk segera kembali ke Jakarta.

Setelah Rama pulang duluan menggunakan pesawat, sore itu Sanip dan Zhey berburu tiket di Stasiun Pasar Turi karena Zhey belum memiliki tiket pulang. Beruntunglah, ia masih mendapatkan tiket untuk berangkat dengan kereta yang sama. Hanya saja duduk di gerbong yang berbeda. Tentu saja, Zhey juga membeli tiketnya dengan harga yang berbeda dari tiket yang sudah saya beli beberapa hari sebelumnya. Kalau tidak salah, seharga Rp. 250.000,-. Selesai ngurus tiket, mereka makan nasi bebek dan ngopi-ngopi sambil ngobrol di salah satu kedai di depan stasiun sambil berteduh dari hujan. Lumayan, hujannya sedikit menyejukkan Surabaya yang panas.

Malam harinya, Zhey mengajak Sanip bertemu dengan Pende’. Salah seorang temannya yang anak Surabaya. Pende’ bersama Lauren datang menjemput di depan stasiun. Mereka lalu dibawa ke salah satu daerah tempat mereka biasa nongkrong. Disitu, mereka berkenalan dengan beberapa anak Surabaya lainnya. Mereka semua menyambut dengan ramah. Sebagian dari mereka ada yang anak Surabaya asli, tapi ada juga yang aslinya berasal dari Bekasi atau Jakarta. Seperti Lauren sendiri, dia sebenarnya adalah anak Jakarta. Rumahnya di daerah Pisangan, Jakarta Timur.

Nongkrong disitu, mereka minum-minum Cukrik. Cukrik ini katanya adalah minuman asli Surabaya yang terbuat dari fermentasi beras. Setelah mulai merasa mabuk, Pende’ membawa mereka keliling melihat-lihat Dolly di malam hari. Benar saja, di malam hari daerah ini berubah 180º. Banyak sekali wanita-wanita yang dipajang di akuariumnya. Tempat prostitusinya tidak cuma berada di jalan utama, tapi juga sampai masuk ke gang-gang senggol yang hanya bisa dilewati motor. Sekarang jadi mengerti kenapa tempat ini menjadi lokasi prostitusi terbesar di Asia Tenggara. Selesai melihat-lihat Dolly, Pende’ lalu mengantarkan kembali sampai depan Stasiun Pasar Turi. Mereka sempat makan dan ngopi-ngopi lagi sebelumnya akhirnya berpisah.

Keesokan paginya, Sanip dan Zhey bangun dan ngopi serta sarapan di dekat tempat menginap. Menjelang siang, udara di Surabaya terasa semakin menyengat. Sebelumnya Sanip bahkan sempat nongkrong tanpa pake baju di depan rumah yang ditumpangi itu. Orang-orang yang berlalu-lalang pun banyak yang memperhatikan. Hahaha… Mungkin karena terlihat sekali bahwa ia bukan orang lokal dan tidak terbiasa dengan panasnya Surabaya.

Sore itu, akhirnya tibalah saatnya mereka harus meninggalkan Surabaya dan kembali ke ibukota. Setiap perjalanan adalah peruntungan tersendiri. Kita diberikan kesempatan bertemu dengan orang-orang menarik, menarik pelajaran dari banyak hal yang kita temui dan lihat. Maka perjalanan ke Taman Nasional Baluran ini tentu sangat membekas di hati adik-adik saya ini. Sekali traveling, jangan pernah berhenti traveling. Ada yang bilang, orang yang traveling ibaratnya membawa banyak buku dengan banyak halaman. Orang yang tidak pernah traveling hanya membaca satu buku dan satu halaman saja.

“Stay off the beaten path, meet the locals, listen to them!

Travelling can be a good learning experience..”

Berikut beberapa tips berharga untuk kamu yang ingin melakukan perjalanan ke Taman Nasional Baluran:

  • Rute terbaik untuk sampai ke Taman Nasional Baluran dengan menggunakan jalan darat adalah dengan naik kereta ke Stasiun Pasar Turi, Surabaya. Lalu naiklah angkot ke Stasiun Gubeng, Surabaya. Dari Stasiun Gubeng, anda tinggal naik kereta lagi menuju Stasiun Banyuwangi Baru. Dari Stasiun Banyuwangi Baru, anda tinggal naik bis kearah Surabaya dan turunlah di Batangan. Perjalanannya akan terasa lebih cepat daripada harus meneruskan perjalanan dari Pasar Turi ke Batangan dengan menggunakan bis.
  • Untuk tiket keretanya sendiri, sebaiknya anda sudah booking tiketnya dari jauh-jauh hari. Karena sekarang, tiket kereta bahkan sudah bisa dibeli 90 hari sebelum hari keberangkatan. Tidak perlu antri, karena sekarang tiket kereta sudah bisa dibeli di mini market seperti Indomaret atau Alfamart.
  • Sebelum masuk Taman Nasional Baluran, pastikan anda sudah membawa uang tunai yang cukup. Karena mesin ATM terdekat jaraknya masih beberapa kilometer dari pintu masuk taman nasional di daerah Batangan.
  • Untuk menginap di Savanna Bekol atau Pantai Bama, ada baiknya anda melakukan booking terlebih dahulu demi memastikan ketersediaan kamar.
  • Bila anda memiliki matras atau sleeping bag, bawa saja. Karena akan sangat bermanfaat bila seandainya harus tidur di alam terbuka. Untuk mendirikan tenda, anda butuh izin khusus dari pengelola taman nasionalnya. Kata mereka, karena alasan keamanan, jadi anda tidak bisa mendirikan tenda di sembarang tempat semau anda.
  • Bila anda ingin membawa bahan makanan sendiri, juga tidak apa-apa. Karena di pos penjagaan Bekol, disediakan dapur umum.
  • Ada baiknya juga anda membawa Powerbank untuk segala kebutuhan gadget anda. Karena disini, listriknya sangat terbatas. Ada baiknya juga membawa fitting listrik letter T. Karena colokan listriknya pun biasanya hanya ada 1 di setiap kamar-kamar penginapan.
  • Terakhir, bawalah losion anti nyamuk, sunblock, dan obat-obatan pribadi yang sekiranya akan anda butuhkan.
  • Semua harga yang dicantumkan disini hanya ditujukan sebagai referensi saja. Sewaktu-waktu, harga bisa berubah.
  • Hati-hati terhadap calo dan copet di terminal maupun stasiun, awasi terus barang-barang bawaan anda, jangan mudah menerima barang pemberian orang yang tidak anda kenal, jangan menggunakan perhiasan yang berlebihan, dan bacalah doa.

Ini link website resmi yang bisa anda kunjungi sebelum anda berangkat ke Baluran:

Kasman: 087857429277

Katanya, anda bisa langsung menghubungi dia untuk booking kamar penginapan di Bekol. Tapi kalau agak susah dihubungi, ya harap maklum aja.. Abis, disana kan sinyalnya juga rada-rada susah. Walaupun masih jauh lebih baik daripada di Pantai Bima yang mati total.

Sebagai penutup, silakan menikmati foto slideshow hasil jepretan adik saya, Sanip:

This slideshow requires JavaScript.

*the end*

*terima kasih untuk adik saya, @Sanip, yang memberikan catatan perjalanan ini untuk menghiasi blog saya. Sampai jumpa di petualangan saya bulan depan ke Sumatera Barat 🙂

Advertisements