Taman Nasional Baluran: Africa Van Jawa – Part 2


pengantar:

berikut adalah kelanjutan dari petualangan adik-adik saya: Sanip, Zhey & Rama ke Taman Nasional Baluran. Ikuti terus, guys….kalo saya aja iri, kalian apalagi? :p

Bersafari di Baluran

Keesokan paginya, mereka bangun disambut segarnya udara pegunungan dan merdunya kicauan burung. Ditambah lagi dengan kehadiran sekelompok monyet yang keluar dari rumahnya masing-masing dan mencari makan di sekitar visitor area tempat kami bermalam.

Peta Taman Nasional Baluran

Peta Taman Nasional Baluran

Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp. 2.500,- /orang, mereka masuk ke dalam taman nasional dengan menggunakan ojek. Ongkos ojeknya Rp. 35.000,- /orang, atau bisa juga dengan menyewa mobil bertarif sewa Rp 100.000,- /mobil. Kendaraan ini akan mengantarkan anda dari visitor area (pintu masuk Taman Nasional), melintasi hutan dan beberapa jembatan, sebelum akhirnya anda akan sampai di Savanna Bekol, pos penjagaannya, lalu lanjut lagi menuju Pantai Bama. Mungkin anda merasa keberatan dengan tarif sewa ojek dan mobil-mobil ini yang kelihatannya cukup mahal. Sebenarnya, tidak ada larangan sih kalau anda ingin berjalan kaki saja untuk menuju ke Savanna Bekol dan Pantai Bama. Hanya saja, jalanan yang akan anda lewati sebagian besar kondisinya sangat memprihatinkan. Hampir seluruhnya adalah jalan berbatu, dan hanya sedikit yang merupakan jalan aspal, lengkap dengan lubang-lubangnya yang cukup dalam. Oh iya, satu lagi! Jarak dari pintu masuk ke Savanna Bekol dan pos penjagaannya +/- 12 km. Jarak dari Bekol menuju Pantai Bama +/- 3 km. Lumayan ya kalau harus ditempuh dengan berjalan kaki?!

Menuju Bekol

Menuju Bekol

Sepasang Monyet Yang Asik Bermain

Sepasang Monyet Yang Asik Bermain

Santai Di Pohon

Santai Di Pohon

Di sepanjang jalan menuju Bekol, mereka melintasi hutan dan berjumpa dengan berbagai satwa liar yang hidup di dalamnya. Mulai dari beraneka ragam kupu-kupu, ayam hutan, lutung, monyet, burung merak, bahkan sampai ular. Di sepanjang jalan, tukang-tukang ojek yang mereka tumpangi ini sepertinya memang sudah dilatih untuk bertugas sebagai guide anda selama menaiki ojek mereka. Dengan ramah, mereka akan mengajak anda ngobrol sambil menjelaskan tentang beraneka ragam satwa yang kita jumpai di sepanjang jalan. Mereka juga menunjukkan beberapa tempat lain yang menarik di Taman Nasional Baluran ini. Seperti, lokasi sumur tua yang ada di dalam hutan, dan Evergreen Forest yang katanya akan selalu hijau dan tidak pernah kekeringan bahkan di musim kemarau sekalipun.

Bukan Africa....Tapi Savanna Bekol

Bukan Africa….Tapi Savanna Bekol

The Feeling of Africa in Baluran

The Feeling of Africa in Baluran

Begitu tiba di Savanna Bekol, barulah kita paham kenapa Taman Nasional Baluran ini disebut juga “Africa Van Java”. Luar biasa luasnya! Settingannya persis seperti padang-padang rumput di Afrika yang sering kita lihat di Animal Planet atau National Geographic. Dan kata tukang ojek tadi, bila anda beruntung, anda bisa saja suatu hari melihat seekor leopard atau macan tutul berlarian di savanna ini untuk mengejar kawanan rusa. Wuiiih..excited ya!! Tentu adik-adik saya ini langsung merasa pengen jadi petualang natgeo yang bisa melihat dan menangkap gambar peristiwa itu. Hahahaha…..

Mengintai Kawanan Rusa dari Menara

Mengintai Kawanan Rusa dari Menara

Setelah berfoto di Savanna-nya, mereka bergerak menaiki menara pandang di pos penjagaan Bekol. Katanya, dari menara pandang ini, anda akan bisa menyaksikan pemandangan yang luar biasa. Benar saja! Setelah sampai di atas menara, kita bisa melihat langsung seberapa besar Savanna Bekol ini sebenarnya. Belum lagi dengan kehadiran Gunung Baluran yang terlihat begitu gagah dengan hiasan awan-awan putih serupa kapas di puncaknya. Dari menara ini, tampak sekelompok rusa yang sedang makan dan mencari minum di Savanna. Ditambah dengan hembusan angin yang sejuk dan nyanyian merdu burung-burungnya, terasa semakin nyaman saja untuk berlama-lama di menara ini. Turun dari menara pandang kembali ke pos penjagaan Bekol, mereka berpapasan dengan 2 ekor burung merak yang juga sedang berjalan-jalan. Mereka pun tampak tidak terlalu takut saat didekati untuk diambil gambarnya.

Sepasang Burung Merak Yang Cantik

Sepasang Burung Merak Yang Cantik

Proud Beauty :)

Proud Beauty 🙂

Lalu perjalanan di lanjutkan menuju Pantai Bama. Beruntungnya mereka karena ternyata masih tersedia kamar kosong di penginapan di Pantai Bama ini. Harga kamar disini Rp. 75.000,- /orang/hari. Info: bila anda berniat untuk bermalam di kawasan Taman Nasional Baluran ini, sebaiknya anda melakukan booking terlebih dahulu untuk memastikan ketersediaan kamar. Karena ini bukan resort, maka jumlah kamarnya pun sangat terbatas. Di Pantai Bama, mungkin hanya ada 4 – 6 kamar. Di Bekol, mungkin hanya ada 6 – 8 kamar. Tapi di Bekol ini juga terdapat semacam mess/barak yang bisa diisi sampai +/- 10 orang.

Pantai Bama Yang Terpencil

Pantai Bama Yang Terpencil

Pantai Bama ini sebenarnya cukup bagus. Tidak banyak sampah, pasirnya putih, airnya juga cukup bening. Sayangnya, bagi beberapa orang mungkin pantai ini akan terasa terlalu terpencil. Karena walaupun sudah tersedia fasilitas air tawar untuk mandi dan buang air, tapi ternyata disini belum masuk listrik. Listriknya menggunakan tenaga matahari dan hanya tersedia dari jam 6 sore sampai 11 malam. Yah….maka kembalilah kita ke jaman sebelum ada listrik 😀

Di Pantai Bama, Taman Nasional Baluran

Di Pantai Bama, Taman Nasional Baluran

Parahnya lagi, semua sinyal HP akan langsung menghilang begitu anda sampai di pantai ini, tak peduli apapun provider yang anda gunakan. Lagi….kita kembali ke jaman batu dimana komunikasi masih sulit. Hahaha…nasib! *tepok jidat* Jangan harap bisa internetan, update socmed dll, sinyal buat nelepon aja sama sekali gak ada -__-“.

Sialnya lagi, sesampainya di Pantai Bama ini keuangan adik-adik saya ini memprihatinkan. Maka dari itu, bila anda ingin bermalam di Taman Nasional Baluran ini, pastikan bahwa anda membawa uang tunai yang cukup! Karena bila tidak, anda akan direpotkan untuk mencari ATM yang berjarak beberapa kilometer dari depan pintu masuk taman nasional. Bahkan bila saat itu mereka punya uang pun, disini sangat sulit untuk mencari makanan, minuman, atau rokok. Maka pastikan pula bahwa anda membawa suplai makanan, minuman, obat-obatan, dan kebutuhan pribadi anda lainnya. Disini hanya ada satu warung yang hanya buka bila ada orang yang mengunjungi Pantai Bama ini. Buka-nya pun tidak terlalu lama. Hanya dari menjelang jam makan siang, sampai jam 7 atau 8 malam. Begitu juga dengan makanan yang disediakan. Hanya ada nasi goreng, soto ayam, dan mie instan. Tapi nasi goreng dan soto ayamnya enak banget kok. Apalagi sambelnya.. Beeeuhh… Mantap! Si ibu dan bapak pemilik warung juga sangat ramah melayani orang-orang yang makan disitu. Adik saya bahkan sempat asik ngobrol-ngobrol sama si ibu warung Baluran, segala keterbatasan fasilitasnya, dan bagaimana tidak pedulinya Pemkab Situbondo terhadap salah satu aset berharganya ini. Kita juga akan terpesona memandangi pajangan kepala-kepala banteng yang terdapat di warung itu. Besar sekali ukurannya! Belum lagi dengan pajangan kelelawarnya. Mungkin panjang dari satu ujung sayap sampai ke ujung sayap yang lainnya bisa mencapai satu setengah meter. Si ibu warung menjelaskan bahwa pajangan ini adalah sisa-sisa dari hewan-hewan di Taman Nasional Baluran yang mati secara alami dan di air keras oleh si ibu dan suaminya sebagai pajangan.

Ngeri Tapi Juga Seni Alami :)

Ngeri Tapi Juga Seni Alami 🙂

Jelang Sunset di Savanna

Jelang Sunset di Savanna

Setelah berenang dan bersantai di pantai sepanjang hari, mereka berencana kembali ke savanna untuk menyaksikan sunset menghilang di balik Gunung Baluran. Langkah menuju savanna akhirnya terhenti setelah perlahan tapi pasti, hujan mulai turun dan memaksa untuk kembali ke penginapan. Lebih dari itu, mereka gagal juga untuk  mengirim kabar kepada keluarga dan orang-orang yang kami sayangi. Karena katanya, sinyal HP memang baru akan muncul saat anda berada di savanna. Tapi setidaknya, dalam perjalanan untuk sunsetan di savanna ini, mereka berhasil menjumpai salah satu hewan langka. Yaitu burung Elang Jawa. Yaaa.. sebenarnya mereka juga gak tahu persis itu Elang Jawa atau bukan. Maklum…mereka cuma 3 anak Jakarta dan bukan peneliti hewan. Tapi setidaknya, saat burung itu melintas di depan mereka dan membentangkan sayapnya, burung itu terlihat sangat besar dan terbang dengan begitu gagah.

*to be continued

*ikuti terus ya….masih banyak keseruan lainnya 🙂

Advertisements