Taman Nasional Baluran: Africa Van Jawa – Part 1


pengantar:

catatan perjalanan ini adalah catatan milik adik saya, @sanip_ yang berwisata petualangan bersama kedua temannya: @zheythomas & @prasetyomaulana yang bertualang di Taman Nasional Baluran di Jawa Timur bulan Februari kemarin. catatan ini diposting disini karena adik saya ini tidak punya blog aktif. jadi untuk tetap berbagi cerita serunya, disinilah dia meminta saya untuk membaginya. jujur…saya iri banget tidak ikutan kesana. karena dari membawa cerita dan melihat gambarnya, rasanya macam ikut langsung dalam salah satu acara di natgeo adventure atau animal planet channel. hahahaha…..

semua foto adalah hasil jepretan adik saya, @sanip_ ….semoga berkenan dan cukup informatif untuk semua yang ingin menambah satu petualangan di negeri sendiri.

ingat…tak kenal, maka tak sayang. maka…kenalilah Indonesia-mu 🙂

Menuju Baluran – The Africa Van Java

Perjalanan berawal dari stasiun Pasar Senen, Jakarta, adik saya ( @sanip_ ) dan kedua temannya:  Zhey Thomas ( @zheythomas ), dan Rama ( @prasetyomaulana ) akan melakukan perjalanan menuju stasiun Pasar Turi, Surabaya. Sebuah perjalanan panjang selama +/- 12 jam.

Saat hari keberangkatan tiba, sekitar pukul 3 sore, Sanip dan Zhey sudah menunggu di peron keberangkatan. Saat itu, kereta yang akan mereka tumpangi belum tiba. Sedangkan Rama akan menyusul dengan menumpangi kereta yang berbeda karena dia tidak mendapatkan tiket untuk naik kereta yang sama dengan Sanip dan Zhey.

Sore itu, mereka duduk menunggu di dekat seorang perwira TNI berseragam lengkap. Saat pertama kali duduk si perwira tampak curiga dan memperhatikan dengan seksama. Apalagi (mungkin), karena Sanip dan Zhey sama-sama terlihat memiliki tato.  Terkait dengan pemahaman kuno bahwa orang bertato nampaknya masih dicap buruk oleh masyarakat sebagai kaum penjahat. Hahahaha….padahal kan tato itu adalah bentuk seni dan sekaligus peninggalan budaya paling tua lho.

Sanip lalu lebih memilih untuk menyiapkan kamera dan mulai mengambil beberapa gambar yang dibutuhkan. Selesai mengambil gambar, dia lalu duduk lagi di sebelah Zhey dan membuka sebotol bir dingin yang sudah mereka beli sebelumnya di mini market dekat stasiun. Si perwira TNI tampak cukup kaget melihat mereka bergantian menenggak sebotol bir di depan mukanya. Tapi belakangan, malah si perwira yang membuka obrolan dengan menanyakan kemana tujuan mereka. Obrolannya lalu berkembang dan terasa cukup asyik sampai akhirnya kereta yang ditunggu pun datang.

Kereta yang ditumpangi adalah kereta Kertajaya kelas ekonomi AC dengan harga tiket Rp. 135.000,- /orang. Untuk tiket kereta, sebaiknya anda beli tiket dari jauh-jauh hari sebelum hari keberangkatan. Karena sekarang tiket kereta sudah dapat dibeli online bahkan mini market seperti Indomaret atau Alfamart sejak 90 hari sebelum hari keberangkatan. Pada awal perjalanan, si AC terasa cukup adem. Sampai lama-kelamaan, si AC-pun mulai menghangat. Pasti karena kurangnya biaya perawatan! *cih, masalah klasik transportasi di negeri ini!!

Posisi duduknya juga terasa kurang nyaman karena susah banget buat bisa selonjoran dan seringkali harus beradu dengkul dengan penumpang lain yang duduk di bangku seberang. Sepanjang perjalanan, Sanip dan Zhey beberapa kali bolak-balik ke ruang kosong di persambungan kereta untuk sekedar meluruskan badan, merokok, cari angin dan menghilangkan bosan. Iya…terbayang perjalalanan yang memakan waktu itu.

Nah, di persambungan gerbong inilah mereka bertemu dan ngobrol-ngobrol dengan beberapa penumpang lainnya yang juga kebetulan sedang merokok disitu. Beragam obrolan pun tercipta. Mulai dari geografi pulau Jawa, petunjuk & arah jalan, narkoba & dunia permabukan, musik, wanita, tato, sampai sepakbola. Itulah serunya traveling. Kita tidak pernah tahu akan bertemu begitu banyak orang dan mendapat begitu banyak obrolan seru yang sering kali berwarna-warna.

Menjelang tiba di stasiun Pasar Turi, Surabaya, Sanip ngobrol dengan seseorang yang duduk di seberang bangkunya. Namanya Anjar. Di Jakarta, dia tinggal di daerah Ciledug. Tapi aslinya, dia orang Surabaya. Dia lalu cerita bahwa sejak di stasiun Senen, dia udah ‘ngegambar’ gerak-gerik Sanip dan Zhey yang menenteng-nenteng kamera dan tripod. Dia lalu bercerita soal ketertarikannya pada dunia film & broadcast. And… Guess what?! Si Anjar ini ternyata adalah calon teman seangkatan Sanip saat nanti mulai berkuliah di Universitas Mercu Buana, beberapa minggu setelah pulang dari perjalanan ini. Bahkan, mereka mengambil jurusan yang sama. Ya, Broadcasting. Tapi tidak sekelas… Hahaha… Suatu pertemuan yang unik, bukan?!

Kereta tiba di stasiun Pasar Turi sekitar pukul setengah 6 pagi. Setelah cuci muka di WC umum stasiun, Sanip dan Zhey lalu menunggu kedatangan Rama sambil ngopi-ngopi dan nge-charge HP di sebuah warung. Tidak terlalu lama, kereta yang ditumpangi Rama akhirnya tiba. Setelah bertiga berkumpul, tinggal menunggu kedatangan seorang temannya yang anak Surabaya. Namanya Ceper.

Sekitar pukul setengah 7 pagi, Ceper datang menjemput dengan mobil Innova-nya. Lalu dia membawa mereka city tour pagi hari di tengah sibuknya Surabaya. Awalnya, mereka ingin dibawa melihat jembatan Suramadu. Tapi kata Ceper, jaraknya terlalu jauh. Sanip lalu punya ide untuk melihat Dolly. Ya, komplek prostitusi itu! Hehehe.. Mungkin karena penasaran ya. Hahahaha…..gila!! Eh tapi bener lho. Kompleks prostitusi Dolly dikabarkan yang terbesar di Asia Tenggara dan adalah di wilayah negeri kita. Hayo…ada yang udah pernah kesana? :p

Lambang Kota Surabaya

Lambang Kota Surabaya

Setelah mereka melihat langsung, ternyata Dolly di pagi hari nyaris tak ada bedanya dengan daerah pemukiman padat penduduk lainnya di kota-kota besar di Indonesia. Yang membedakan mungkin hanya kehadiran plang dan neon box dari sejumlah bangunan yang di malam hari beralih fungsi menjadi cafe remang-remang dan lokasi prostitusi.

Posenya Sanip, Zhey, Rama & Ceper di landmark Kota Surabaya

Posenya Sanip, Zhey, Rama & Ceper di landmark Kota Surabaya

Setelah dibawa melihat beberapa landmark kota Surabaya lainnya, mereka makan siang sambil membeli tiket kereta untuk pulang kembali ke Jakarta dengan menggunakan kereta api Gumarang kelas bisnis dengan harga Rp. 170.000,- /orang. Tentu sebelum keburu lupa dan malah gak bisa balik ke Jakarta :D. Pukul 2 siang, Ceper mengantarkan mereka ke terminal Bungurasih dan kami pun harus berpisah dengannya.

Di terminal Bungurasih, mereka nyaris aja dijebak calo untuk naik di kelas eksekutif. Dengan sedikit adu argumen, akhirnya mereka lolos dan memilih bis kelas ekonomi untuk membawa mereka menuju Situbondo dengan harga tiket Rp. 45.000,- /orang. Oya, Taman Nasional Baluran itu letaknya di wilayah Situbondo, kira-kira hampir mendekati Banyuwangi dan di naungi oleh Gunung Baluran yang gagah.

Setelah bis keluar dari terminal, mereka baru menyadari bahwa si supir bis ternyata gila nyupirnya! Selap-selip dengan perhitungan jarak yang sangat tipis sampai ngilu sendiri melihat manuver-manuvernya. Satu-satunya yang bikin mereka rada tenang mungkin karena para penduduk lokal yang juga menumpangi bis itu terlihat tenang-tenang aja melihat aksi pak supir. Mereka lalu berpikir, mungkin di daerah sini, cara nyupir kayak gitu memang udah biasa. Tiba di Probolinggo, mereka lalu dioper untuk naik bis lain kearah Situbondo, lalu menuju kearah Banyuwangi. Di bis ini, mereka dimintai lagi tambahan ongkos Rp. 15.000,- /orang. Nantinya, sebelum masuk wilayah Banyuwangi, mereka harus turun di sebuah daerah bernama Batangan. Nah, Batangan inilah pintu masuk kami ke Taman Nasional Baluran. Tujuan utama dalam perjalanan ini.

Sekitar jam 8 malam, mereka tiba di Batangan. Taman nasionalnya sendiri tentu sudah tutup. Mereka lalu melapor ke pos penjagaan. Setelah bercerita asal-usul yang datang jauh-jauh dari Jakarta, si penjaga mungkin merasa kasihan bila harus menyuruh pulang dan kembali lagi besok pagi. Ia lalu menawarkan untuk tidur saja di visitor area. Gratis! Bahkan ia gak minta ‘uang rokok’ atau apapunlah istilahnya..Hmm…keramah tamahan lokal macam ini yang kadang menjadi sangat langka di kota besar macam Jakarta yah.

Bermalam di Pos Pintu Masuk Taman Nasional Baluran

Bermalam di Pos Pintu Masuk Taman Nasional Baluran

Visitor area ini sebenarnya adalah kantor registrasi sebelum para pengunjung masuk ke taman nasional. Bayar tiket, nyatet data-data, dll. Tapi, disini disediakan dua buah pos. Mirip pos Kamling gitu deh.. Paling ukurannya cuma 3×3 meter. Tapi setidaknya, ada atapnya, colokan listrik, lampu, dan dua buah WC umum yang ternyata terjaga dengan cukup baik kebersihannya. Di belakangnya pos-nya, saat hari sudah terang nanti, bisa terlihat pemandangan gunung Baluran di kejauhan. Jadilah pada malam itu mereka tidur di alam terbuka di salah satu pos di visitor area. Walau hanya bermodalkan sebuah matras, sebuah sleeping bag, dan 2 botol losion anti nyamuk untuk bertiga.

*to be continued, guys…

*cerita petualangan adik-adik saya ini akan berlanjut lagi. ikuti terus pokoknya!! ini mah belum seru…..masih banyak keseruan lain 😀

Advertisements