#KLMalaccaTrip – Day 4 – Malacca, The World Heritage Site


kita emang gak boleh nengok ke masa lalu terus. tapi tanpa masa lalu, masa kini gak akan ada. dan masa depan akan sulit dibangun 🙂 – #AyaQuote

28 January 2013

pagi itu sesuai yang sudah saya rencanakan, saya berangkat ke Melaka. Yus hari itu bekerja. jadi saya hanya diantar sampai ke TBS atau Terminal Bersepadu Selatan yang lebih ke pinggir Kuala Lumpur. ini adalah terminal bis antar kota. bus tujuan ke berbagai distrik di Malaysia atau bahkan bus untuk ke Singapore. semua ada.

Penampakan Terminal Bersepadu Selatan

Penampakan Terminal Bersepadu Selatan

saya sudah membeli tiket bolak balik sebelumnya di Pudu Sentral dengan transnasional bus seharga RM25 return. jadi ketika datang saya tinggal ke loket menukarkan tiket dengan sebuah boarding pass. ebuset!! naek bus aja pake boarding pass lho. tapi sungguh….ini terminal sangat besar, rapih dan modern. bahkan ada screen besar berisi jadwal keberangkatan dan kedatangan tiap bus yang real-time. di dalam bangunan baru ini pun ada berbagai kedai makanan dan beberapa toko pakaian. tempat keberangkatan dibagi dengan berbagai gerbang. persis seperti di bandara saja. luarrr biassssaaaa…..saya pun tak habis-habis takjub. btw…ada hotel transit juga lho di terminal ini. hmm….jadi tambah takjub aja deh.

hotel simpanan di TBS :))

hotel simpanan di TBS :))

penampakan boarding lounge di Terminal Bersepadu Selatan

penampakan boarding lounge di Terminal Bersepadu Selatan

berangkat dari gate 6 dengan Transnasional Bus tujuan Melaka Sentral

berangkat dari gate 6 dengan Transnasional Bus tujuan Melaka Sentral

tepat jam 10, dari gate 6, saya pun naik keatas bus transnasional tujuan Melaka Sentral. bus besar ber-AC yang sangat nyaman, bersih, kira-kira 40 seats. oya…di tiket sudah ada nomor kursi lho, jadi pas didalam bus tinggal cari kursi kita aja. dan pagi itu, bus tidak terlalu penuh. saya pun duduk nyaman dan bebas.

perjalanan ke Melaka Sentral memakan waktu sekiranya 2 jam. via jalan tol lintas propinsi gitu lah. gak banyak yang bisa dilihat sepanjang perjalanan. maka saya habiskan untuk tidur saja. kira-kira tengah hari, bus sampai di Melaka Sentral. terminal utama di Melaka. tempat segala macam bus berhenti, menurunkan dan menaikkan penumpang. dari sana saya tinggal naik bus sekali lagi ke pusat kota tua Melaka. iya…pusat kehidupan pariwisata Melaka ada di kota tua-nya yang berpusat di Bangunan Merah atau Lapangan Merah, tempat bernaungnya Gedung Christ Church dan Staadhuis yang semua bertembok merah. jaraknya kira-kira 20 menit saja dari Melaka Sentral dengan naik bus no. 17 dan membayar ongkos RM1.30 seorang. bus-nya sama seperti bus kota RapidKL di Kuala Lumpur.

Berpose di Lapangan Merah

Berpose di Lapangan Merah

saya turun dari bus no. 17 bersama beberapa turis lain di Lapangan Merah. langsung melihat keindahan Gedung Christ Church dengan tembok merahnya. taman ini cukup ramai meski siang hari bolong. banyak turis mengambil gambar disini. ada riuh suara air mancur, beberapa burung gereja terbang bebas dan bunga warna-warni yang mekar subur. indah…..

Pintu Masuk ke Staadhuis

Pintu Masuk ke Staadhuis

Lapangan Merah Melaka

Lapangan Merah Melaka

Melaka Red Square

Melaka Red Square

di sebelah gereja itu ada staadhuis atau balai kota Melaka yang juga berwarna merah. di dalamnya ada musium pemerintahan. tentu berisini berbagai peninggalan sejarah Melaka. untuk masuk tidak gratis, ada harga tiket masuk yang harus dibayar. tapi saya tidak masuk. karena takut uangnya gak cukup :D.

dari lapangan merah, saya mencari-cari jonker walk. ini kabarnya adalah jalan paling ramai di Melaka. pusat berbagai restoran, cafe, hotel dan toko-toko. saya telah memesan kamar melalui online untuk Oriental Riverside Guest House yang menurut gambarnya berada di dekat Jonker Walk dan persis di pinggir sungai Melaka. maka…saya pun menyusuri saja jalan sungai dengan berharap menemukan guest house ini. dalam panas terik Melaka, butuh waktu 1 jam buat saya menemukannya. hahaha….dasar!! *self toyor*. apalah artinya wisata bila tidak pakai acara tersesat segala? padahal setelah diperhatikan, saya pernah melewatinya sampai setidaknya 2 kali.

Oriental Riverside Guest House

Oriental Riverside Guest House

IMG_0492Oriental Riverside Guesthouse adalah bangunan berlantai 2 dengan tembok bermodel dan beratap rumah Cina. tapi begitu masuk ke dalam suasananya sangat adem. iya sih…saya sudah kepalang berkeringat dan bau matahari hehehehe…..owner guest house pun menyambut saya dan meminta saya mengisi buku tamu. lalu beliau memberikan saya peta sekitar dan menjelaskan beberapa tempat yang menarik. kemudian beliau mengantar saya ke kamar. kamarnya berada di lantai 2 paling depan, menghadap ke jalan. pada siang hari sedikit riuh karena kanan kiri dari guest house adalah berbagai toko. dari toko kain, pernak-pernik Imlek, toko ekspor impor, dll. tapi di malam hari suasana cukup tenang dan memungkinkan untuk istirahat kok. di sebelah kamar saya adalah kamar mandinya. jadi enak. hehehehe……

Jonker Walk

Jonker Walk

IMG_0503edit

Taman Warisan Dunia Jonker Walk

Taman Warisan Dunia Jonker Walk

Patung di Taman Jonker Walk

Patung di Taman Jonker Walk

Kuil Kwan Im di Jonker Walk

Kuil Kwan Im di Jonker Walk

Chicken & Rice Ball, khas Melaka

Chicken & Rice Ball, khas Melaka

saya hanya beristirahat sebentar. karena saya cukup lapar, saya pun kembali melanjutkan perjalanan saya keliling Melaka. menuju Jonker Walk. di sana sempat masuk ke beberapa toko souvenir. dan akhirnya berakhir di restoran Chicken Rice Ball. nah….jadi chicken rice ball itu seperti namanya adalah masakan ayam berbagai rupa yang ditemani dengan nasi yang dibentuk bulat seperti bakso. saya memesan rice ball dengan sepiring roasted chicken. hmm…rasanya ya authentic Chinese. lalu sambil makan saya pun baru ingat. Jonker Walk itu adalah daerah China Town di Melaka, alias semua restonya memang khas Chinese. wah…..sial!! mungkin masakan itu tidak halal. tapi yah…saya pasrah saja. daripada kelaparan. saya percaya Tuhan bersama para traveler lintas negara :). amiiinnn…..

Patung di Bukit St. Paul Old Cemetary

Patung di Bukit St. Paul Old Cemetary

Bukit St. Paul

Bukit St. Paul

Reruntuhan Gereja St. Paul

Reruntuhan Gereja St. Paul

batu nisan pada bekas pemakaman Belanda di St. Paul Hill

batu nisan pada bekas pemakaman Belanda di St. Paul Hill

informasi sejarah St. Paul Hill

informasi sejarah St. Paul Hill

setelah makan, saya pun kembali berjalan kaki ke arah Lapangan Merah. melihat beberapa museum berjajar. Melaka rupanya memiliki banyak sekali museum. ah….susah disebutkan satu per satu. mending didatangi saja. lalu saya hiking sedikit ke bukit St. Paul, tempat reruntuhan gereja dan permakaman Belanda berada. dari atas bukitnya bisa melihat garis pantai Melaka lho. hmm…kalau senja tentu akan lebih indah deh. oya…bagi yang gak tau, Melaka ini letaknya di pesisir selatan Malaysia sebelah Selat Melaka. jadi memang sebuah negara bagian dengan udara dan aroma pantai. tapi bukan berarti amis ya. hehehehe…..

Rumahnya Ibu Pejabat Polis :D

Rumahnya Ibu Pejabat Polis 😀

Ini kapal terdampar beneran lho ternyata

Ini kapal terdampar beneran lho ternyata

Museum Islam Melaka

Museum Islam Melaka

Museum UMNO

Museum UMNO

Melaka telah diresmikan menjadi World Heritage Site oleh lembaga PBB – UNESCO sejak tahun 2008 bersama kota George Town di Penang. keren yah….tentu saja! Melaka memegang sejarah penting lho karena posisinya berada pada Jalur Sutera perdagangan rempah-rempah di masa silam. jadi disini pernah dikuasai oleh 3 bangsa yang berbeda: Portugis, Belanda dan Inggris. belum lagi ada percampuran budaya dengan pendatang dari negeri Cina. laksmana Cheng Ho yang terkenal itu juga pernah beberapa saat berada di Melaka lho. ada museum Cheng Ho di dekat Jonker Walk juga yang berisi benda peninggalan Cheng Ho. di staadhuis pun ada patung besarnya.

Museum Cheng Ho

Museum Cheng Ho

Museum Cheng Ho

Museum Cheng Ho

Melaka adalah tempat perpaduan berbagai budaya. gedung-gedung gereja tuanya sampai saat ini masih digunakan untuk ibadah. begitu pun masjid tua Kampung Kling dan kuil-kuil Cina tua. disini pun banyak hidup warga peranakan, perpaduan dari Melayu Malaysia dengan Portugis, Belanda atau Cina. benar-benar sarat budaya.

gerakan 10,000 langkah di Melaka

gerakan 10,000 langkah di Melaka

di Melaka ada gerakan 10ribu langkah menyusuri sungai Melaka. hal ini adalah gerakan kesehatan sekaligus gerakan “eco life”. iya…warga Melaka diajarkan dan diajak untuk berjalan kaki saja ketimbang menggunakan kendaraan. keren sekali kan. kabarnya pemerintah daerah ini pun menerapkan eco-government lho. sadiiissss….kerennya!

Rumah pinggir sungai Melaka

Rumah pinggir sungai Melaka

Melaka Pirate Eye Park

Melaka Pirate Eye Park

Informasi harga Melaka River Cruise

Informasi harga Melaka River Cruise

Rumah pinggir sungai Melaka

Rumah pinggir sungai Melaka

Melaka juga punya monorail tapi sekarang sudah tidak terpakai

Melaka juga punya monorail tapi sekarang sudah tidak terpakai

signage Melaka River Cruise di harbor port-nya

signage Melaka River Cruise di harbor port-nya

salah satu jembatan di Melaka River

salah satu jembatan di Melaka River

begitu banyak yang saya lihat di Melaka. tentunya beberapa hanya bisa saya tunjukkan melalui foto seadanya. kalo semua saya ceritakan ya gak bakal selesai. hehehehe….jadi sore itu pun saya putuskan untuk ikut Melaka River Cruise. perjalanan menyusuri sungai Melaka dengan boat wisata. dengan membayar RM15, saya bisa melihat Melaka Tua. banyak orang menyarankan untuk ikut cruise ini ketika malam hari, karena lampu-lampu kota akan membuat kota ini lebih hidup. tapi saya tidak mau. kata owner guest house, kehidupan di Melaka biasanya akan mereda setelah jam 6 sore, terutama di hari kerja. maka jalan-jalan akan sepi dan toko-toko akan lebih cepat tutup. dan saya ingat, hari itu adalah hari senin. maka yah…setelah matahari tampak lebih ramah, saya pun memutuskan untuk naik cruise saja.

cruise di mulai dari dermaga di dekat hotel besar Casa. dari sana menyusuri Melaka River selama 40 menit pulang pergi. melewati keindahan kota tua ini di kanan kiri. di atas boat ada rekaman informasi lho. jadi kita tinggal duduk manis dan mendengarkan sejarah bangunan di kanan kiri dan kota Melaka sambil menikmati pemandangan. oya…jangan khawatir, rekamanan informasinya 2 bahasa kok, Melayu dan Inggris.

Gereja St. Francis

Gereja St. Francis

Kincir air di sungai Melaka dgn Melaka Tower as background

Kincir air di sungai Melaka dgn Melaka Tower as background

setelah kembali ke dermaga awal, saya pun berjalan pelan kembali ke guest house. melewati Lapangan Merah yang justru semakin ramai di sore hari dengan turis dan orang-orang lokal. kembali di guest house, saya beristirahat sebentar lalu mandi. betul saja…setelah saya selesai mandi, suasana di luar tedengar sudah lengang. nyaris jarang mobil lewat depan guest house. tapi saya tetap harus keluar. setidaknya untuk mencari makan, meski ownernya berpesan saya untuk hati-hati dan menghindari jalan-jalan gelap dan sepi karena adanya penjambret. ah….ternyata dimana pun sama aja kan ya? di Melaka pun sama seperti Jakarta, banyak copet dan penjambret.

saya berjalan kembali menyusuri sungai, berputar di Lapangan Merah, berhenti sebentar di sebuah toko kaos dan berjalan lagi mencari makan. ah…susah sekali ternyata mencari makan malam. toko-toko benar-benar banyak yang sudah tutup dan gelap. mungkin betul kata owner guest house. Melaka sepi di hari kerja. bila di akhir pekan, Melaka akan mengadakan night market yang menjual berbagai macam barang dan makanan, jadi banjir orang lokal dan turis.

Melaka River at night time

Melaka River at night time

berpose di pinggir Melaka River, persis di belakang guest house

berpose di pinggir Melaka River, persis di belakang guest house

Terang bulan di Melaka River

Terang bulan di Melaka River

akhirnya saya menemukan warung makan Chinese yang sebenarnya dekat dengan guest house. makan sebentar lalu kembali ke guest house. lalu saya pun duduk di belakang guest house, memandang Melaka River di kala malam yang bermandikan lampu jalan dan sinar rembulan penuh malam itu. sampai seorang prempuan bule ikut duduk bersama saya. Nama saya, Aya. nama dia, Oya. what a coincidence :D. kami saling bercerita. Oya dari Sweden sedang liburan selama 3 bulan di Asia. setelah Malaysia, dia akan ke Indonesia, berkunjungan ke Pulau Jawa, Bali bahkan Lombok. dia berusia 30an dan bekerja sebagai marketing. dan yah….dia traveling solo.

rasanya saya sering kali bertemu rekan traveling solo dari negara lain. dan perempuan. mereka perempuan-perempuan pemberani yah, seperti saya juga. semoga Tuhan bersama kita selalu…perempuan perkasa penjelalah lintas benua :D. kemudian Oya pun pamit beristirahat. dia masih cukup lama di Melaka karena sangat menikmati suasana Melaka yang ramah dan damai. sementara saya harus kembali ke KL esok pagi. maka kami pun berpisah disana. di pinggir Sungai Melaka di malam bulan terang 🙂

*to be continued

Advertisements