Banjir & Masa Lalu


hujan deras mengguyur kota jakarta sejak kamis, 17 januari kemarin. ruas-ruas jalan menjadi sungai. tenda-tenda darurat dibangun untuk para pengungsi yang rumahnya ditenggelamkan air hujan dan luapan sungai. ah….jakarta pun kembali menyambut limpahan air itu, seperti 5 tahun sebelumnya dan 5 tahun lagi sebelumnya.

rumah saya pun tak luput dari air bah. setidaknya 30cm masuk ke dalam rumah. merendam semua barang yang tergeletak di lantai. bahkan air memaksa masuk dari sela-sela lantai keramik.

entah harus berduka atau merasa biasa aja. toh…ini memang bukan yang pertama. rasanya kami sekeluarga sudah siap mental menghadapi semua. mungkin masih bisa dikatakan beruntung. ketika keluarga lain terpaksa meninggalkan rumahnya karena luapan air yang sudah 2-3m, kami masih bisa tinggal di rumah. iya…banjir selalu mengajarkan kami untuk bekerja sama. membersihkan sisa-sisa air yang ngumpet di sela-sela perabot. mengeringkan semua yang masih bisa dikeringkan dan menyelamatkan sisa-sisa kenangan yang masih bisa diarsipkan.

seperti sebelumnya, ratusan lembar foto lama pun ikut basah karenanya. dan seperti biasa, saya pun seakan berjalan kembali ke masa lalu. menyelamatkan sisa-sisa bukti masa lalu. dan yah…saya menemukannya. sebuah foto yang rasanya 3 tahunan lalu sempat saya cari-cari. foto saya dan dia. hahahaha…..sambil membersihkannya dari percikan air yang menempel, saya pun tersenyum.

foto itu diambil ketika hari perpisahan smp saya. ah….jangan ditanya sudah berapa tahun lalu. jelas sudah lama sekali. saya memang sempat ingat bahwa saya sepertinya pernah berfoto dengan dia. tapi sesungguhnya saya tak ingat 100% kapan. dan ini jawabannya.

ketika kami bertemu lagi di pulau 3 tahun lalu, saya justru tidak ingat dia sama sekali. padahal dia mengingatkan saya bahwa kami dulu duduk berdekatan semasa sekolah. dia sering meminjam koleksi kaset band rock saya. dan kami sering gitaran di sela istirahat belajar. dia bahkan ingat ikut datang ke rumah waktu kami sekelas mengerjakan proyek kabaret untuk perpisahan. hahahaha…..lucu rasanya betapa semua yang dia katakan saat itu tidak membuat saya ingat apa pun. seakan masa smp saya begitu blur. kabur.

pada akhirnya masa lalu, sekabur apapun sering kali muncul ke permukaan. entah sebagai pengingat atau sekedar lewat. meski yang paling penting adalah masa setelah itu. bagaimana saya dan dia menjadi begitu dekat. bagaimana dia membantu proses penyembuhan saya setelah sebuah akhir cinta yang menyakitkan. bagaimana kami saling hidup dalam denial bahwa kami saling merasa ‘lebih dari sekedar bersahabat’. dan bagaimana kami tidak pernah mengucapkan perpisahan ketika kami berpisah jarak.

masa lalu banyak mengajarkan. masa lalu yang membentuk masa sekarang. saya tidak pernah menyesal mengenalnya, sayang kepadanya. rasa itu akan terus ada. kami pernah saling berbagi rasa. dan dengan orang lain, rasa itu tidak akan pernah sama seperti dengannya. terima kasih sudah ada. semoga kamu bahagia.

oh iya…saya juga menemukan surat cinta dari pacar lama. hahahaha…pacar pertama yang kini sudah di amerika. saya ingat, saya menyimpan surat ini karena isinya. dia yang selalu menyemangati saya menjalani hidup, dia yang selalu percaya saya punya sesuatu yang luar biasa dalam diri saya. dia yang selalu percaya saya akan menemukan kebahagiaan saya. maka surat lusuh yang basah itu saya bungkus dengan plastik rapat-rapat. mungkin suatu hari, saya akan kembali membacanya. tapi biarlah sekarang ini surat itu tertumpuk rapih di laci saya.

semoga tidak akan ada lagi banjir yang menghanyutkan segala kenangan dan memaksa kita melihat ke masa lalu. kita harusnya melihat kesana dengan penuh kesadaran, bahwa kita berdiri sekarang hanya karena kita pernah ada disana.

*untuk F dalam sebuah foto usang*

Advertisements