Catatan Perjalanan Lombok – Gili #LoGil part 4


kita semua pelaut…mengemudikan perahu kehidupan. kadang diombang-ambing ombak pasang. pelaut yg pemberani akan berusaha selamat dari ombak apapun sampai ke daratan. kita pun begitu..daratan adalah tujuan tiap pelaut pulang. karena tidak mungkin hidup selamanya di lautan.

pagi itu, pagi terakhir saya di Gili. saya akan kembali ke pulau Lombok untuk menuju Senggigi dan beristirahat semalam disana, sebelum akhirnya kembali ke hutan beton ibukota esok siang.

terbangun dengan setengah kaget. iya…kaget. karena matahari sudah begitu garang. padahal saya berencana untuk bangun lebih pagi dan menyaksikan matahari terbit di cakrawala. tapi apa daya….alarm hape saya terlewat begitu saja. mungkin karena saya pun masih begitu lelah setelah sehari sebelumnya snorkeling. yah…bilamana matahari terbit itu diibaratkan jodoh, mungkin ya ini kenapa saya belum ketemu juga. karena sering kali kelewatan sebelum saya betul-betul sadar. hahahahaha…..

pagi itu sarapan terakhir saya di woodstock. saya lebih santai…berusaha menikmati saat terakhir di pulau ini. nyaris tidak ada satu pemikiran berat yang terlintas. seakan kosong, tapi jauh dari hampa. saya rupanya masih….jatuh cinta. pada bumi, laut, pasir dan pantai. masih….sekarang dan selamanya. sampai mati 🙂

breakfast at woodstock

saya pun dengan santai merapihkan kembali backpack saya. bersiap untuk kembali ke Lombok melalui dermaga Gili T dengan kapal umum yang ada setiap jam. saya berencana untuk berangkat jelang tengah hari, agak setelah jam makan siang saya sudah santai di Senggigi dan beristirahat saja.

satu yang saya suka dari woodstock, kaos seragam staff-nya. “come as guest, leave as friend”. ada keakraban disana. dan yah…saya pun merasakan pengalaman menginap yang menyenangkan. nothing to complain at all. i love woodstock dan akan kembali lagi bila suatu hari ada waktu.

come as guest, leave as friend

sekitar jam 11, saya pun berjalan kaki ke dermaga Gili T. dengan satu backpack besar di punggung dan backpack kecil saya di dada. sampai dermaga ternyata sudah ada kapal yang siap berangkat. kembali hanya dengan 10ribu, saya segera naik ke kapal tersebut. dan mengucap selamat bertemu lagi pada Gili.

Gili Trawangan, Lombok….dari kapal yang menjauh

perjalanan ke Bangsal diwarnai ombak yang lumayan menakutkan. saya duduk persis di sebelah seorang ibu berjilbab. nampaknya orang Lombok. beliau terlihat tidak biasa berada di kapal saat ombak seperti itu. dengkul saya tidak sengaja diremasnya sambil ia terus menyebut asma Allah.

lalu terlintas di benak saya. mungkin kita hanya mengingat Tuhan ketika sedang berada dalam keadaan mendekati bahaya. ingatkah kita pada Tuhan ketika kita mencapai bahagia? ingatkah saya?

ombak terus mengombang-ambing kapal itu, sampai air laut terpercik ke dalam kapal. membasahi wajah saya. yang ternyata menyamarkan air mata saya yang tak tertahan untuk jatuh ke pipi. ada rasa….luar biasa. saya sudah sejauh ini. dan saya masih tersesat :(.

lalu seketika, dalam hati, saya berdoa. untuk kebahagiaan orang-orang sekitar saya, untuk kesabaran mereka mencintai saya, petualang yang masih terus berlari, mendaki, menyelam mencari arti bahagia. dan saya berterima kasih atas kekuatan yang mereka semua berikan. karena tanpa itu semua, saya tidak punya daya untuk bertahan diombang-ambing hidup ini.

hanya 30 menitan dan saya kembali berlabuh di dermaga bangsal. Mas Myster sudah disana menjemput. demi keamanan dan keselamatan, setelah sebelumnya jatuh dari motor di Malimbu, saya putuskan untuk menggunakan jasa Mas Myster jadi guide dan ojek saya sampai waktunya pulang. tak apa lah….i had my chance of riding. it was the best experience. dan di 2 hari terakhir itu, rasanya saya harus lebih bersantai. menikmati sisa-sisa waktu di pulau Lombok yang indah itu.

Mas Myster membawa saya ke Senggigi lewat jalur Pusuk. ini adalah monkey forest, tentu selama perjalanan saya bisa melihat monyet-monyet bergerombol di pinggir jalan, hidup bebas. jalur Pusuk juga lebih adem karena memang diperbukitan dan banyak pohon-pohon. meski jalannya cukup sempit dengan jurang dan berkelok-kelok. tapi karena Mas Myster ahli, saya tinggal duduk tenang dibonceng.

Jalur Pusuk, Lombok

Monyet yang ogah di foto di jalur Pusuk, Lombok

lewat sedikit tengah hari, saya sampai di pusat Senggigi. lalu check in di Sendok guesthouse yang lokasinya tepat di tengah pusat Senggigi, dekat banyak restoran, supermarket dan hanya 500 meter dari pantai Senggigi. guesthouse ini lumayan. arsitektur dan dekornya dibuat ala german…sangat eropa. ada sebuah pool dengan air biru segar di tengahnya, membuat saya tergoda untuk nyebur seketika dan melenyapkan lelah.

Sendok guesthouse, Senggigi – Lombok

inside the fan room of Sendok guesthouse, Senggigi – Lombok

proses check in cepat. saya memang sudah booking sejak lama melalui agoda. begitu melihat kamarnya agak sedikit shock, karena ternyata sangat kecil dan kurang ventilasi. saya memilih kamar dengan fan yang lebih budget-friendly, cuma 200ribu semalam termasuk sarapan. tapi bila dibandingkan dengan woodstock yang juga sama 200ribu, saya jelas lebih angkat topi untuk woodstock. tapi yah…saya hanya disini semalam, sekedar numpang tidur. jadi tidak perlu juga terlalu bagus. kamarnya sih bersih, dengan kasur ukuran besar, sebuah meja dengan cermin dan kamar mandi yang juga bersih dengan western toilet dan shower. oke….i paid what i deserve.

Nasi Balap Puyung Ayam

setelah check in, saya pun kembali dibonceng Mas Myster. cari makan siang. dan dia membawa saya ke warung kecil yang membuat Nasi Balap Puyung. yang ternyata berselera pedas. sampai keringat jatuh bebas di seluruh muka saya. nasi ini sebetulnya macam nasi campur, dengan lauk ayam, telor, kacang dan ada semacam serundeng. tapi asli….pedesnya luar biasa sekali. untuk 12ribu sepiring, saya jelas tidak kecewa. rasanya cukup enak.

dari makan siang, Mas Myster membawa saya ke Toko Gandrung, toko oleh-oleh. semacam toko Krisna di Bali. tersedia berbagai souvenir dari kaos, gantungan kunci, dll. semua tentu dengan tulisan Lombok. yah….saya pun membeli beberapa untuk orang-orang terdekat di hati. keluarga saya. yang telah memberikan saya waktu mengenali diri saya sendiri dengan menikmati perjalanan ini.

dari Gandrung, saya lalu ke toko lain yang menjual makanan2 oleh-oleh khas Lombok. ada dodol rumput laut berbagai rasa, telor asin Lombok yang ternama, madu Sumbawa dan banyak lagi. dan kembali….kali ini budget traveling saya bertambah bengkak karena rasanya ingin membawa sedikit rasa Lombok pulang ke Jakarta.

setelah puas dan bangkrut, Mas Myster membawa saya kembali ke hotel. lalu kami pun berpisah untuk esok dia kembali menjemput saya dan mengantar saya ke bandara. dan sisa siang itu saya putuskan untuk duduk di pinggir pool, menikmati sisa matahari Lombok dan menyegarkan diri dengan menceburkan diri di pool.

santai di pinggir pool Sendok guesthouse, Senggigi – Lombok

kaki legam sang petualang 😀

di depan kamar sebelum mengejar senja Senggigi

lelah rasanya….tapi bahagia tak terkira. mungkin tak ada satu kata pun yang bisa mengungkapkan ini semua. saya pun seketika gagap bahasa.

sore hari, setelah mandi, saya berjalan menyebrang ke arah pantai Senggigi. untuk ke area pantai ada donasi 2ribu saja. yah…tak apa, mungkin untuk pemeliharaan kebersihan disana. pantai ini ramai sekali oleh orang lokal yang duduk diatas pasir beralaskan tikar-tikar yang memang disewakan. menikmati dan menanti senja sambil main air, berenang, main canoe atau hanya nongkrong dengan keluarga dan orang terkasih. seketika…saya rindu ibu saya. perempuan cerewet yang selalu mencintai kelebihan dan kekurangan saya, yang selalu ada ketika saya pulang.

teman senja paling juara 😀

saya duduk di sebuah cafe pinggir pantai. disana sedang happy hour. tentu untuk menghemat budget yang tersisa, inilah yang saya cari. 2 botol bir dengan harga 1 botol :D. suasana cafe ini lebih mirip seperti suasana cafe pinggir pantai di jimbaran. saya pun duduk….berpikir tanpa tahu apa yang sebenarnya saya pikirkan. menikmati sebotol bir sambil mendengarkan alunan musik oldies dari band mereka.

Senja di Senggigi, Lombok

Tuhan sedang bermain warna di cakrawala 🙂

lalu senja pun perlahan tiba. Tuhan semacam menumpahkan belasan cat warna-warni ke cakrawala. senja disini lebih indah dari yang saya lihat di Gili, mungkin pengaruh cuaca hari itu. seketika seluruh tubuh saya bergetar. begini rasanya jatuh cinta….dan saya ingin seperti ini selamanya.

setelah gelap, saya kembali hotel. sempat mampir di warung pecel ayam untuk makan malam lalu kembali ke hotel dan beristirahat total. malam itu, hujan lewat di Senggigi. dan sedikit membantu untuk saya tidur, meski di kamar yang minim ventilasi. selamat malam dari Senggigi yang sepi 🙂

*to be continued

Advertisements