Catatan Perjalanan Lombok – Gili #LoGil part 3


langit sama laut itu misterius yah. saya selalu merasa mereka menyimpan rahasia yang belum diungkap manusia. 
pagi itu, 3 November. hari sabtu. rencana hari itu adalah menghabiskan waktu menikmati bawah laut 2 gili dengan snorkeling. iya…..semua sudah diatur oleh staff woodstock. cukup bayar 100ribu termasuk mask, life vest dan complimentary bottle water. meski tidak termasuk fin dan makan siang di pemberhentian gili air. but overall…it was good price.
pagi itu saya terbangun jam 7…iya, sepagi itu saya bangun meski tau sedang liburan. tapi matahari di gili yang tidak pernah ingkar janji membangunkan dengan nyala terangnya. saya pun tak bisa mengelak lagi kecuali segera bangkit dari kasur berkelambu itu dan mandi.
setelah mandi, saya pun pinjam sepeda sekali lagi. ingin berkeliling dulu sebelum sarapan. maka saya gayuh itu sepeda menuju jalan dermaga. melihat toko-toko sekitar baru dibuka. restoran yang baru saja merapihkan kursi-kursinya. dan orang-orang yang sibuk dengan kegiatan paginya. dan yah….di sana sini ada saja orang yang akan menyapamu. mereka tahu kamu turis. entah beneran ramah atau karena mereka ingin tahu, mereka selalu menambahkan pertanyaan “dari mana, mbak?” setelah “selamat pagi”. ah…saya sih tak begitu peduli. paling lempar senyum saja lalu selesai. kadang terlalu ‘ramah’ macam itu terasa begitu palsu. dan yah…saya tidak sedang mencari kepalsuan di pulau ini. kepalsuan yang bisa saya temui di setiap sudut ibukota.
saya mampir ke sebuah toko yang tampaknya menjual beberapa kaos souvenir. mungkin mereka mencari penglaris, saya yakin saya yang pertama menginjakkan kaki di toko mereka yang baru buka. adek saya minta dibawakan kaos tangan buntung bertuliskan “gili trawangan”. yeah…what better place to look for it than gili trawangan itself?
dengan hati-hati saya bertanya harga, “berapa kaos ini?”
“120 ribu”, dan dengan sukses air muka saya pun berubah. harga segitu untuk sebuah kaos lengan buntung berbahan tipis dan bersablon seadanya yang bila di cuci pakai selama 2 bulan pun akan pudar dan kemudian lebih tampak semacam kain bersih-bersih??
“bukannya 30 ribu?”, tawar saya. saya rasa harga itu sangat masuk akal untuk kaos macam begini.
“mana aja mbak kaos gitu 30ribu”, jawabnya dengan nada nyeleneh semacam merendahkan saya.
“ow….ya sudah kalo gak ada”.
saya pun kembali naik sepeda dan menggowesnya menjauh. saya cuma berpikir…pagi itu saya tidak jadi beli apa-apa di tokonya. tapi semoga ada orang lain yang akan membawakannya rejeki. cuma ya rada sebel juga. kadang ya begitulah cara warga lokal memperlakukan bangsa sendiri. sementara ketika ditawar bule dengan harga sama, bisa jadi mereka malah menyerah rela. tanpa perlawanan sama sekali. mentalitas dijajah memang. tapi biarlah…itu rejeki dia, yang jelas bukan berasal dari kantong saya.
kembali ke woodstock, saya langsung pesan sarapan. hmm…sarapan ala amerika yang lezat dan sehat, bekal saya sebelum nyebur ke laut gili yang biru. setelah sarapan saya ada waktu untuk menyiapkan keperluan. dan bersantai sebentar sebelum diantar ke dermaga meeting point. menyiapkan nyali. terakhir snorkeling itu july kemaren di bali. sudah lama…nyaris lupa caranya :D.
jam 10, salah satu staff woodstock mengantar saya. sampai disana saya ditawari untuk menyewa fin. ya sudah…cuma 15ribu kok, kenapa tidak? seorang perempuan bule di sebelah saya pun akhirnya ikut menyewa juga. saya perhatikan dia juga sendirian. lalu saya beranikan diri untuk memulai percakapan.
“are you coming alone?”
“yes…”
“me too. am Aya”
“hi, Aya…i’m Jodi”
kemudian kami malah banyak berbincang. seharian itu Jodi adalah teman saya. teman bicara, teman sharing, teman snorkeling. bahkan saat makan siang di gili air pun kami makan bersama, sambil bercerita banyak hal. jodi adalah seorang guru konsultasi di sebuah sma negeri di idaho, US. iya…guru BP kalo disini. bersuami, tapi saat itu sedang traveling solo ke Indonesia dengan entry point Bali. sudah melewati 2 minggu di Bali dan kini sudah 3 malam di Gili. esok, sama seperti saya yang kembali ke Lombok, Jodi akan kembali ke Bali. lalu menginap disana lagi sampai akhir minggu ini.
kami bicara keindahan indonesia, keberanian traveling solo, pekerjaan, politik amerika, pendidikan, snorkeling sampai membicarakan anjing-anjing peliharaannya di Idaho. jodi betul-betul teman yang menyenangkan. rasanya luar biasa bertemu orang yang begitu menginspirasi seperti dia. begitu down to earth sekaligus begitu intelek. saya pun terkesan padanya. seperti ia yang terkesan pada keberanian saya traveling solo di negeri saya sendiri. dia bilang,”if you keep worry, worry will not take you to see the world”. ah….keren itu!! iya….saya hanya perlu lebih nekad lagi untuk lebih banyak melihat dunia. mungkin seperti dia yang lintas benua hanya untuk melihat dan mengagumi indonesia yang dia bilang indah. “you country…so many beautiful places. hard to choose one”.
namanya juga snorkeling 3 pulau gili, kami, satu glass bottom boat yang memuat sekitar 20 orang dibawa ke snorkeling point di tengah laut antara Gili trawangan dengan Gili Meno. disana keren banget……ikannya banyak, kecil-kecil dan beraneka ragam. terumbu karangnya masih cukup baik. dan yah….kenapa saya bilang baik? karena tetiba saya tanpa terasa menabrak salah satu karangnya. hehehehe…..terlalu dangkal rupanya, dan kaki saya terjebak. dengkul pun mencium karang dengan sempurna dan menggoreskan luka. hehehehe……untung gak ada hiu datang karena mencium darah yang keluar dari luka saya.

underwater of 3 Gilis, Lombok

underwater 3 Gilis, Lombok

dari sana kami dibawa ke lebih dekat dengan Gili Meno. nah…ini turtle point. alias disini bisa liat penyu. seorang awak kapal pun turun ke air dan jadi pemandu. menunjukkan dimana kita bisa melihat penyu. saya lihat!! ada seekor penyu persis di dasar laut kedalaman 7-8 meter. dia diam saja…mungkin sedang tidur siang :D. so cute…..iya. lucu banget. sayangnya kamera saya tidak cukup baik untuk underwater photo. dan saya pun belum cukup mahir menyelam hingga tak berani menyelam lebih dekat. hanya berani di permukaan saja. tapi tak apa, saya dapat apa yang ingin saya lihat di bawah laut sana. misterius. meski kadang terlihat dasarnya, saya tak pernah paham sedalam apa lautan sesungguhnya. ada isteri yang saya rasa belum terungkap satu manusia pun. mungkin hanya ikan warna-warni yang tahu jawabnya.

underwater 3 Gilis, Lombok

Gili Air, Lombok

dari Gili Meno kami mendekat ke perairan Gili Air, disini memang taman laut. ikannya begitu beragam dan terumbu karangnya sangat indah. tapi ada perpotongan ombak di tengah laut. wuiii….syeremnya. ombaknya lumayan lho. membuat yang snorkeling terhempar ke sana kemari. but it was a lot of fun. yeah….tidak sengaja menelan air laut lah. hahahah…..lalu jadi mual sendiri.

lalu siang itu kami makan siang di Gili Air. makan dan bersantai menikmati matahari Gili yang panas terang. saya dan Jodi berbagi cerita banyak hal. lalu setelah makan kami sempat jalan kaki di pesisir Gili Air sambil kembali saling bercerita. saya senang. sesaat menemukan teman bicara yang mengusir kesepian. iya…traveling solo itu bisa jadi cukup kesepian, meski berada dalam keramaian dan hati riuh karena merasakan sensasi kebebasan.

suasana Gili Air, Lombok

lalu jelang sore, kapal kami pun membawa kami kembali ke Gili Trawangan. ombak sedikit bergejolak, maklum…jelang sore angin mulai berhembus rada kencang. sesaat sambil memandang ombak, saya begitu terharu. ini perjalanan yang saya pilih. dan setengahnya sudah saya jalani dengan sukses. lalu apa lagi yang masih saya takuti? dan ombak pun menjawab semua kerisauan saya tentang masa depan. kemana pun angin berhembur, ombak tetap bergerak. mengikuti angin sampai ia menghempaskan diri ke karang lalu kembali lagi ke lautan lepas dan semakin kuat. mungkin begitulah kehidupan. kita adalah ombak-ombak yang terbawa angin, menabrak karang lalu kembali menjadi ombak yang kuat. lebih kuat dari sebelumnya.
sore itu kapal berlabuh lagi di dermaga gili trawangan. lelah pun langsung terasa. perjalanan setengah hari snorkeling di tiga tempat jelas membuat seluruh tubuh saya lemas, energi pun terkuras. tapi ada sebuah rasa puas. saya dan Jodi berjalan bersama dari dermaga, hotel kami searah. di perjalanan kami bertukar kontak dan berjanji untuk saling add di facebook. sayang…saya lupa berfoto dengan dia. teman seperjalanan saya. terima kasih, Jodi…was a great time to have a nice friend and conversation on the day 🙂
sekembalinya saya di woodstock…saya tepar di lantai. berkeringat, kepanasan dan kelelahan. saya tak lama saya menyegarkan diri dengan mandi. dan tentu saja membersihkan luka-luka akibat menabrak karang tadi. yah….dibersihkan saja agar tidak infeksi.
sore pun datang dan saya sudah rapih kembali. tapi saya terlalu lelah untuk mengejar senja. maka saya putuskan untuk bersantai saja di teras cottage. mencoba menulis pengalaman saya hari itu. tapi entah keriaan macam apa…saya justru tidak bisa menuliskannya.
setelah matahari pulang ke pelukan malam, saya pun berjalan kaki ke pasar tradisional di gili trawangan. disini bila malam tiba menjadi pusat jajanan murah meriah. dari sate, soto, pecel ayam, nasi padang…semua ada. tentu saja dengan harga bersahabat, kantong lokal. banyak juga bule2 yang makan di sini. untuk 15ribu saya sudah dapet 10 tusuk sate ayam berikut nasi. rasanya cukup wajar.
setelah makan malam, saya pun mampir ke sama-sama reggae bar. menikmati 2 botol bir sambil ditiup angin sepoi-sepoi yang dingan. tentu karena itu reggae bar, saya pun ditemani musik reggae easy listening yang menambah nuansa kepulauannya. yah….santai saja di pinggir pantai.
begitu kembali ke hotel, saya memutuskan duduk di pinggir pool. mencoba mencari satu bintang di langit yang lumayan kelam malam itu. tak ada bintang sama sekali. sejak semalam sebelumnya pun tidak ada bintang. langit malam hanya hampa. hitam.
tapi di dalam hati saya ceria. satu hari lagi dari rencana perjalanan saya telah terlaksana. saya bahagia.
*to be continued
Advertisements