Catatan Perjalanan Lombok – Gili #LoGil part 2


Jiwa-jiwa yang bebas, di tepi pantai pun lepas.
Tak ada cemas.
mungkin itu alasan kenapa saya memilih traveling dan pantai. selalu. setiap saat kepenatan sudah menyiksa dan saya merindukan damai.
hari itu, 2 november, saya terbangun dengan segar di kamar hotel Kuta Indah, Lombok. lalu mandi, merapihkan backpack sekali lagi sebelum pergi ke restoran hotel untuk sarapan. ya…sarapan sambil memandang pantai di kejauhan, mendengarkan debur ombak pagi yang menenangkan dan merasakan matahari ramah di pagi hari. indah. sesaat rasanya semua penat saya hilang. ini yang saya nantikan.
setelah sarapan saya pun check out dan melanjutkan perjalanan. hari itu berat karena saya akan menempuh perjalanan dari Kuta di Selatan Lombok sampai ke Pelabuhan Bangsal untuk menyebrang ke Gili, yang letaknya agak ke Utara. iya…jauh ya? rute saya mudah….lewat pesisir Lombok Barat.
dengan bermodal nekad, bensin full tank dan peta seadanya, saya pun berangkat dari Kuta sekitar jam 8 pagi. melewati jalan sama yang saya lewati kemaren dari airport di Praya. dengan tantangan jalan rusak yang sama tentunya. sempat melewati juga Desa Sasak Sade, tapi saya putuskan tidak mampir. karena takut kesiangan dan takut perubahan cuaca tiba-tiba. karena kabarnya daerah Lombok Barat mulai sering berawan bahkan hujan dan bila itu terjadi perjalanan saya yang hanya ditempuh dengan motor itu akan sangat terganggu. saya belum tau medan macam apa yang akan dilewati, karena itu semua harus saya perhitungkan dengan baik.
hanya satu jam, dan saya sudah melewati airport lagi. artinya seperempat perjalanan sudah terlampaui. jalan menuju Mataran relatif lebih baik. semacam jalan by pass atau jalan tol tak berbayar. besar, sepi dan lancar. ah…andai jalan2 di jakarta macam beginian. tak terasa speedometer motor pun sampai tembus 90km/jam…dan saya masih merasanya jalannya lambat saking sepi dan jarak depan belakang yang jauh daru pemotor lain.

Me as Pembalap 😀

saya sampai di pusat Mataran sekitar 1 jam kemudian. iya…sudah 2 jam berkendara. dari Mataram saya mengambil rute lewat daerah pesisir atau lewat Senggigi, pusat wisata Lombok yang berkembang paling awal. dan yah…another perbaikan jalan. sigh!! ribet juga….cukup mengganggu perjalanan bermotor saya yang harus lebih hati-hati. Senggigi ini perbukitan dengan pantai, jadi jalannya tidak flat, ada tanjakan dan turunan juga.
tak jauh dari pusat keramaian Senggigi beberapa menit kemudian saya tiba di Bukit Malimbu. ini terkenal sekali sebagai sunset point di sore hari. pemandangan lautan lepas dengan pantai berpasir putih yang dikelilingi perbukitan di bawah. keren banget….kebayang kerennya kalo senja tiba. di bukit malimbu ini banyak orang yang berhenti berfoto sebentar. termasuk saya dan sepasang suami istri muda yang waktu itu ternyata juga dari jakarta. hanya saja mereka sudah dari gili dan akan kembali ke senggigi. mereka cukup kaget ketika tahu saya berkendara motor sendirian menuju Bangsal :D. setelah saling membantu mengambil foto, kami pun berpisah. saya jelas tidak bisa disana sampai senja, karena kapal penyebrangan ke Gili biasanya hanya sampau jam 5 atau 6 sore saja. dan sudah lebih 2 jam saya berkendara nyaris non stop, saya ingin cepat sampai.

From Bukit Malimbu

Me @ Bukit Malimbu

tapi apa daya, setelah lewat dari Malimbu, akibat menghindar sebuah batu di jalan yang lumayan besar di sebuah jalan sedikit menurun, motor saya pun ngesot sedikit. alias saya kehilangan keseimbangan. jatuh dari motor, tas pun ikut jatuh. yup…ngesot, sampai mesin motor mati dan kuncinya pun bengkok :(.
seorang ibu berkerudung dengan motor berhenti di seberang saya dan bergegas menyebrang mengangkat tas saya yang jatuh menjauh ke pinggir. lalu beliau membantu saya bangun. iya…saya terduduk di tanah, sedikit shock, tapi alhamdullilah tidak terluka sama sekali. meski kemudian saya tahu…saya punya lebam biru, mungkin karena tertimpa motor sedikit. ibu itu lalu memastikan saya baik2 saja. beliau berkata, “tidak apa kan? hati-hati disini curam”. begitu saya yakinkan bahwa saya tidak terluka, ibu itu pun kembali ke motornya dan sempat berpesan sambil menyalakan motornya, “hati-hati ya”. saya jawab dengan senyum,”iya…makasih, ibu”. lalu si ibu pun berlalu.
setelah ibu itu pergi saya baru sadar motor saya jelas tidak bisa menyala, karena kuncinya bengkok. hiks….rada panik sedikit, karena ingat bahwa perjalanan ke Bangsal masih lumayan jauh, mungkin sekitar 20 menitan atau sekitar 6km lagi. tak jauh dari saya berdiri di dekat turunan berjurang itu, ada sebuah pondokan peristirahatan di pinggir jalan. saya lihat ada sebuah motor berhenti disana dan seorang laki-laki duduk disana. nekad…saya mendekat dengan mendorong motor saya.
“Mas…bisa minta tolong gak ya?”
“Kenapa tadi jatuh, mbak? luka?”
“nggak…saya ngindarin batu aja terus hilang keseimbangan. ini motor gak mau nyala, kuncinya bengkok, bisa bantu gak ya, mas?”
“emang mau kemana, mbak nya?”
“mau ke Bangsal, nyebrang Gili”
lalu si Mas tadi itu membantu saya menengok motor, mencoba kunci bengkok berkali-kali sampai ia ketemu akal untuk memukul kunci dengan batu sampai lurus kembali. dan akhirnya dengan kesabaran si Mas itu, motor bisa nyala lagi.
“Ayo bareng saya mbak. saya ikutin dari belakang, jadi kalo kenapa-napa di bawah turunan nanti kita cari bengkel. saya juga mau ke Gili sih, tapi ketemu temen dulu di bawah”
akhirnya si Mas itu mendampingi saya sampai turunan. sambil diatas motor kami berbincangan dengan high pitch. dia ternyata engineer staff di villa ombak. setelah sampai di dataran rata, kami pun berpisah.
“hati-hati mbak….Bangsal udah gak jauh lagi kok”
saling melambai dan saling memberikan klakson. untuk si mas engineer villa ombak yang lupa saya tanyakan namanya, terima kasih. tanpa anda…saya akan tambah panik mungkin. itu lah kenapa saya percaya, kemana pun kamu pergi dengan membawa niat baik, sesungguhnya kamu akan bertemu orang2 yang juga baik.
perjalanan saya pun lanjut dengan lancar sampai tiba di Bangsal. lalu menelepon Mas Myster untuk mengambil motornya, karena saya akan 2 malam di Gili dan tak ingin menitipkan motor di penitipan motor di Bangsal. Mas Myster pun tak lama datang karena memang tinggal di daerah sana. beliau agak kaget setelah saya ceritakan apa yang terjadi, apalagi pas tau kunci motornya bengkok. tapi beliau minta agar saya tak usah panik. nanti akan dia kabari kalo ada apa-apa. saya pun lalu pergi ke loket untuk membeli tiket penyebrangan ke Gili Trawangan. hanya 10ribu per orang. tak lama Mas Myster pun membawa motor itu dan saya berdiri di pinggir pantai, dibawah satu2 pohon untuk menunggu panggilan naik kapal.
sekitar 15 menit kemudian, kapal pun siap diberangkatkan. satu per satu penumpang dipersilakan naik ke kapal dari kayu dengan mesin itu. ya…..saya siap berlayar melintas sampai ke Gili Trawangan. ombak terasa cukup bersahabat. tidak ada goncangan berarti. hanya dalam sekitar 30 menitan, kapal itu sudah kembali berlabuh di dermaga Gili Trawangan. ah…rasanya tak percaya ketika kedua kaki saya menjejak di pasir putihnya. ini Gili….dan saya akhirnya ada disini.
hari itu sudah siang, tepat tengah hari. saya pun menelepon pak ketut, pemilik homestay woodstock yang sudah berhubungan via email dengan saya sejak beberapa bulan lalu. hehehe….saya menemukan homestay ini waktu browsing hotel di Gili Trawangan. setelah melihat namanya, saya langsung merasa ini yang saya mau. spirit of woodstock. rock n roll. dimana tiap cottage-nya diberi nama sesuai para rock star legendaris macam santana, janis joplin, joan baez, Joe cocker, jimi Hendrix, dll. iya…keren. siang itu Pak ketut mengirim staffnya menjemput saya di area dermaga, karena toh saya tak paham harus kemana. tak lama pak reza datang dengan sepeda, lalu membantu saya membawa salah satu backpack saya.
homestay woodstock berada di tengah pulau. agak ke dalam, sekitar 5 menit jalan kaki dari dermaga. tapi tak apa. saya sudah tahu hal ini. dan memang ini yang saya mau karena tak ingin istirahat malam saya terganggu para penggila party di gili.

Janis Joplin Cottage at Woodstock Homestay

Posing inside my Janis Joplin cottage at woodstock

begitu sampai disana, pak ketut sudah menyambut dan mengantar saya ke cottage saya. yang dengan kerennya bernama Janis Joplin yang ternyata lahir di bulan January juga, meski bukan sesama aquarius (read: oke…ini gak ngefek sih…tapi penting :p). cottagenya keren banget. semua dibuat dari kayu dan bambu. meski saya pilih cottage dengan fan karena budget, tapi rasanya ventilasi cukup mumpuni, jadi kemungkinan gak panas2 banget kalo malam. kasurnya diberi kelambu untuk menghindari nyamuk di malam hari. kamar mandinya ala western dengan shower air panas dan toilet duduk yang bersih dan sangat nyaman. wah……menyenangkan sekali. setelah masuk cottage, pertama yang saya lakukan adalah mandi. iya….saya sudah keringetan waktu jatuh tadi ditambah panas hari itu yang luar biasa dan kelelahan berkendara dari Kuta sampai Bangsal selama 3 jam. iya…saya perlu mandi.

setelah mandi, rasanya energi saya terisi kembali. bersantai sesaat sambil berpikir saya mau kemana selanjutnya. lalu teringat bahwa saya belum makan siang. maka, saya sewa itu sepeda yang disediakan woodstock, hanya 30ribu saja untuk pakai seharian. dari woodstock, saya keliling setengah pulau. iya….sudah setengah pulau Gili T saya jelajahi. hebat kan?

teman-teman perjalanan 😀

setelah kelelahan dan semakin lapar, saya duduk manis di cafe horizontal. yah….rindu sekali rasa bir bintang. hahahahaha….makan, sambil membaca dan melihat pemandangan laut biru dan bule2 setengah telanjang yang berjemur badan. kira2 begitulah yang saya lakukan sampai jelang sore. horizontal itu bukan tempat untuk melihat sunset. sore itu saya ingin melihat sunset gili. maka saya gayuh itu sepeda sampai ke baratnya. sebuah bar bernama sunset, ini sunset point di gili. duduk manis disana, memesan bir dan mencoba menulis bak seorang penulis ternama yang mencari inspirasi dari senja.

duduk manis di Sunset Bar, Gili T – Lombok…menanti senja

Senja sore itu di Gili Trawangan – Lombok

lalu senja pun tiba….sedikit merah mengintip dari langit yang kurang cerah. sedikit kecewa sih. tapi tak apalah. hidup kan kadangan ajarkan kita untuk menerima segala rasa, termasuk kecewa. saya tetap disana nikmati senja, sampai semu warna jingga merahnya menghilang dan ditelan gelap malam. lalu kembali ke woodstock bersih-bersih dan memutuskan untuk bersantai saja di pinggir kolam, menikmati udara pulau yang bebas polusi karena tidak adanya kendaraan bermotor sama sekali. sampai kantuk datang luar biasa dan saya putuskan untuk menutup kelambu. mengakhiri hari melelahkan ini dengan tersenyum lalu berterima kasih pada tuhan atas segala keberanian yang ia berikan dan tertidur bersama album rectoverso yang menambah rasa pada hidup saya. selamat malam dari Gili Trawangan 🙂

*to be continued
Advertisements