Catatan Perjalanan Lombok – Gili #LoGil part 1


kalo nggak pernah pergi, mungkin gak akan pernah tau rasanya pulang #AyaQuote

yup….mungkin itu alasan kenapa saya selalu merasa tidak ingin diam saja di satu tempat. kenapa saya selalu merasakan kebutuhan untuk selalu pergi. karena saya ingin tau rasanya pulang. dan itu rasa yang luar biasa.

pilihan traveling saya kali ini adalah Lombok dan Gili. ini perjalanan terakhir saya untuk tahun ini. perampungan resolusi tahun ini: lebih banyak traveling negeri sendiri, minimal 3 bulan sekali. hahahaha…iya, kesampean juga akhirnya.

berawal dari ke-impulsif-an saya membeli tiket early bird Garuda Indonesia di bulan May lalu. tetiba merasa ingin tahun ini berkunjung ke Lombok. karena toh tahun 2012 ini tahunnya Visit Lombok – NTB. perfect timing, saya pikir. plus…karena adik saya sudah lebih dulu ke sana di bulan July, yang tentu sejak bulan May itu sudah dia rencanakan. sayangnya saya memilih untuk pergi bulan November, diawal musim penghujan. karena toh July kemaren sudah habis satu minggu di Bali untuk perhelatan pernikahan sahabat saya.

yah….tiket early bird pun terbeli dengan destinasi Lombok. lalu saya mulai meriset penginapan sesuai budget dan rute-rute. ini sebuah kesenangan tersendiri. saya gak suka ikut paket2 wisata krn keterbasaan waktu untuk menikmati sekitar. maka merencanakan perjalanan sendiri adalah sebuah kepuasan yang tak terkira.

pagi itu, 01 November 2012, saya berangkat dari rumah dengan sebuah back pack besar warna biru di punggung, backpack kecilan warna biru di depan dada. yup…am all set! dari rumah saya ke terminal rawamangun untuk naik damri ke airport soetta. bus damri itu favorit saya. selain dia bersih dan terawat, waktu perjalanan pun bisa dihemat. plus…hemat biaya pula. hanya 20ribu saja.

sampai terminal rawamangun cuma 5 menit saja bus sudah terisi penuh dan langsung jalan. perjalanan ke airport soetta melalui jalan tol sunter – soetta termasuk lancar jaya. cuma 40 menit sudah sampai deh di terminal 2F. proses check in juga mudah dan cepat. jam 9:30 saya sudah masuk ke area boarding. santai menunggu saatnya naik pesawat. sambil menunggu, saya membaca rectoverso Dee, yang memang sudah saya niatkan untuk dibaca ulang selama perjalanan ini.

jam 10:30, panggilan naik pesawat. perjalanan ini pun dimulai. sudah lama tidak naik maskapai Garuda. ternyata masih tetap yang terbaik diantara penerbangan nasional lainnya. aircraft sangat baik, pelayanan sangat bagus. menyenangkan. sampai penerbangan 1 jam 40 menit itu pun tak terasa begitu cepat berlalu setelah sajian makan siang di pesawat dan sambil membaca beberapa cerita di rectoverso.

begitu tiba di tanah Lombok, hati rasanya girang bukan kepalang. semacam ingin loncat-loncat gitu. hehehe….matahari nyala terang disana, jam 2 siang. Mas Myster dari Guides n Porters sudah siap menunggu di depan bandara mengantarkan motor matic sewaan saya. iya…tujuan pertama saya adalah bermalam di selatan. daerah Kuta….yang kabarnya berjarak 30 menitan dari bandara baru di Praya ini. dan saya nekad berkendara motor saja. Guides n Porters ini saya temukan di forum kaskus. dan setelah berbincang virtual di YM, akhirnya saya memutuskan untuk memakai jasa penyewaan motor mereka. hanya 100rb per hari saja. termasuk bensin. cukup murah dan juga mudah.

baggage handling di bandara Praya ini cukup cepat. tak lama backpack biru besar saya sudah keluar. dan dengan pasti saya melaju ke luar bandara sampai bertemu Mas Myster di parkiran. motor untuk saya juga berwarna biru. lengkap dengan helm, jas hujan dan peta perjalanan. tanpa menunda, saya dan Mas Myster pun berpamitan. saya harus mengejar sore sampai di Kuta area. rute ke daerah Kuta hanya satu-satunya. gak bakal nyasar kok. jalannya cukup besar. hanya saja di beberapa ruas sedang dalam perbaikan. iya…ini cukup mengganggu. karena menuju ke Kuta, kita melewati beberapa perbukitan, alias jalanan menanjak dan menurun yang cukup berbahaya.

sempat salah berputar sedikit, tapi akhirnya saya menemukan jalan ke Kuta. iya…apa artinya jalan-jalan kalau tidak sampe nyasar. tapi saya tetiba ingat…untuk ke pantai, carilah dimana kau lihat paling banyak pohon kelapa. maka disanalah arah pantai….hahahahaha.

dan saya menemukannya. Pantai Kuta, Lombok. suasanya mirip Kuta, Bali, di tahun 70an. masih begitu sepi meski sudah banyak hotel di seberangnya dan beberapa warung makan atau cafe. tapi masih sangat sederhana. dari dekat bisa tampak air lautnya yang biru dan pasirnya yang putih merica. ah…indah….

tanpa buang waktu, saya pun mencari arah ke hotel. Hotel Kuta Indah. hotel ini saya pilih dari agoda.com karena cukup murah. hanya 200rb semalam berikut sarapan, kamar dengan fan. yah…cuma itu yang saya sanggup toh. kalo mau enak ya sana di novotel Lombok yang tarifnya bintang 5. dengan susah payah, hotel itu ketemu juga. sedikit tua dari luar tapi ternyata tidak terlalu buruk. kamarnya pun cukup lumayan, meski tidak bisa dibilang istimewa sekali.

Hotel Kuta Indah

setelah check in, saya pun bersantai sejenak dan mandi. ah….tubuh dan pakaian saya dekil akibat perjalanan mendaki dan menurun di jalan2 penuh perbaikan tadi. apalagi kalo sudah terjebak di belakang truk. aduuuhhh….gak bisa kemana-mana deh. terpaksa menikmati imbas dari knalpotnya dan debu jalanan. yup….cemongan 😦

My Cottage at Kuta Indah Hotel

setelah mandi, saya pun bersiap jalan lagi. ingin melihat Tanjung Aan. dengan bermotor, saya menuju kesana. sayangnya jalan kesana masih jalan desa. banyak yang rusak dan sangat tidak nyaman dilewati. apalagi karena jalan desa, kita pun harus berbagi jalan dengan para sapi atau kerbau yang ikut melintas. iya…dan mereka bisa saja tetiba berhenti di tengah jalan untuk buang hajat. hiks…

Tanjung Aan, Lombok

tapi semua menjadi berarti ketika saya menemukan Tanjung Aan. hamparan pasir yang putih merica, air laut yang kebiruan, angin sepoi-sepoi yang menidurkan. seakan segala lelah saya pun lenyap seketika. seakan perjalanan 1 jam berkendara motor dari airport pun tidak terasa capeknya. indah….meski tidak bisa dibilang sepi. disini ramai para ‘penunggu’ pantai: pedangan asong dari anak-anak sampai ibu-ibu dan para preman setempat yang menjaga area parkir. meski sedikit tidak nyaman dengan keberadaan mereka, saya pun tetap menyempatkan duduk memandangi laut barang setengah jam. ter’jebak’ membeli dagangan kain para ibu-ibu. iya…saya kasihan dengan mereka. melihat daerah di selatan Lombok ini yang lumayan gersang. pariwisata memberi semacam harapan baru untuk mereka berpenghasilan. toh bagi saya…kain yang mereka juga lumayan. maka bersantailah saya di sana sambil minum kelapa muda yang ditawarkan anak SD pedagang asong.

Me @ Tanjung Aan, Lombok

sayangnya karena adanya para preman ‘penunggu’ pantai tadi saya merasa tidak ingin berdiam disini sampai gelap. dengan berbagai cerita kriminal yang terjadi di daerah Kuta, saya rada ciut nyali juga. maka bersegeralah saya kembali ke keramaian. membayar parkir yang dipatok 5ribu rupiah dan ngebut ke Kuta.

sampai di Kuta, mampir sebentar melihat pantainya. lalu memutuskan bahwa saya terlalu lelah dan terlalu lapar. iya….sejak tiba di pulau Lombok jam 2 tadi saya belum makan siang. derita sekali :(. maka menyasarlah saya di warung bule. warung kecil ini dibuat semacam warung2 makan khas tongkrongan bule di legian, lengkap dengan menu western dan jaringan wifi. saya pernah membaca ulasan warung bule ini di tripadvisor. mungkin itu kenapa saya ingin mampir kesini.

maka duduklah saya disana. sampai memandangi langit yang semakin berwarna. memesan sepiring ikan bakar kemangi dan sebotol bir bintang. hmm…..what’s a vacation without bintang? πŸ™‚

Ikan Bakar Kemangi at Warung Bule – Kuta, Lombok

ternyata segala ulasan baik soal warung bule itu memang benar adanya. rasanya enak, pelayanan mereka pun ramah. serasa seperti bersantai di rumah saja. saya pun sempat berbincang dengan pemiliknya, seorang anak Lombok yang telah berkelana sampai ke Australia bekerja di hotel bintang 5. ya pantes aja…standar makanan dan pelayanan sangat baik, untuk ukuran warung di tempat wisata baru berkembang seperti ini.

sunset sore ini tidak istimewa. ah…masih ada sunset lainnya, pikir saya. saya pun memutuskan tidak ingin terlalu lama di luar hotel. lagi…sebuah twit dari teman yang bikin tambah parno memperingati ketidakamanan daerah Kuta. meski sesungguhnya saya percaya, Tuhan selalu bersama orang-orang seperti saya. yang memutuskan untuk berkelana modal nekad tanpa ingin menyusahkaan orang lain.

maka kembalilah saya ke Kuta Indah. dan menutup hari melelahkan itu dengan membaca rectoverso sebelum terlelap. perjalanan selanjutnya akan lebih berat. saya akan berkendara motor, sendirian, menyusuri pesisir Lombok Barat melalu Senggigi sampai ke Pelabuhan Bangsal untuk menyebrang ke Gili. So help me GOD πŸ™‚

*to be continued*

Advertisements