Curhat Dari Dan Untuk Sahabat


sebelumnya…bukan maksud meniru judul cerpen Dee. tapi ya emang nyata-nyata ini soal sebuah curhatan. dari sahabat untuk sahabat. curhatan dua orang sahabat. yang insekyur soal percintaan dan hidup.

“menurut loe, kenapa jg gw doyan traveling? gw butuh pengalihan…distraksi dari kesepian gw yang masih belum menemukan pelabuhan”

“iya….emang enak malem mingguan sendirian malah ke panti pijat? gw juga maunya sama pasangan lah”

ada rasa sedih….jauh di dalam hati yang kadang sering saya tindih dengan berbagai kesibukan. sedih pada cinta-cinta yang diharapkan tapi tak kunjung datang. untuk saya, untuk sahabat saya.

kami…mungkin serupa. hampir sama. sama-sama terlanjur ‘nakal’ tapi kini ingin segera ‘pulang’. tapi belum ada satu ‘rumah’ pun untuk kami berlindung, dari penatnya kehidupan ibukota yang terus menggerogoti romantisme kami, terus menghisap mimpi-mimpi kami ke dalam realiti bagai lintah yang tak kenal ampun jahatnya.

entah ya…saya terus gak habis pikir. kenapa orang-orang macam kami yang sesungguhnya tidak menuntut banyak, mencintai semua yang sederhana, tapi justru menjalani hari-hari penuh liku, tanjakan dan tikungan tajam.

seperti lirik dalam lagu….”yang cuma ingin diam, duduk di tempatku…menanti seorang yang biasa saja”. iya…..kami cuma ingin yang biasa saja. well…meski ukuran “biasa” itu mungkin berbeda untuk tiap orang. tapi yang saya tangkap dari “biasa”nya sahabat saya dan saya kurang lebih sama. masih dalam batas ke”biasa”an yang wajar.

kami berbagi curahan hati….saling meminta solusi…saling tarik menarik menuju realiti. kami…masih bingung. bingung gimana caranya menyelesaikan semua ini.

berada dalam sebuah fase dimana terjangan tuntutan sudah datang dari kiri kanan. semua gak gampang. ketika prioritas utama kami masih membahagiakan orang-orang tersayang. kami pun dipaksa berkorban. berevolusi mengikuti tuntutan jaman. lalu terpaksa menanggalkan berbagai idealisme kami. yah….demi. demi kebahagiaan yang saya pribadi merasa belum tentu ia datang.

ah….ini terlalu penuh komplikasi. terlalu kompleks untuk saya tuliskan. ini masalah hati. dan hati tidak bisa digambarkan. hati mungkin soal rasa. dan ketika sudah berada pada fase saya, hati sudah meleleh dibakar berbagai rasa yang campur aduk. hati sudah entah kemana.

kadang….tanpa sadar, kami pun bertanya keras…protes, mungkin kadang mengumpat. pada Penguasa Jagad, pada nasib…pada perjalanan. memohon kemudahan untuk banyak hal, yang masih belum bisa kami temukan.

deep down….saya selalu percaya satu hal. dalam bentuk apa pun…cinta, baik yang diberi, dirasa atau didapatkan akan terus menghidupi kita. meski kesepian mencabik-cabik jiwa sampai merana.

maka saya pun berdoa pada Tuhan yang saya percaya…berikan kami kekuatan untuk menguatkan kaki-kaki…untuk meringankan langkah-langkah…untuk melembutkan hati-hati…

sabarlah, sahabat….pelayaran kita masih panjang. kabut di lautan menyamarkan pandangan. tapi bersabarlah…kita dayung terus perahu kita. daratan akan mendekat, pelabuhan akan terlihat. maka kita akan merapat. sebentar lagi…sebentar.

*untuk aku dan sahabatku…dari 3 jam pembicaraan tentang hati dan dari hati*

Advertisements