Surat Cinta Untuk Langit


“lihat bulannya. di negaraku bulan itu akan tampak terbalik”

Kepada Langit yang luas disana…

tiap kali ada bulan menghiasi gelap malam, aku ingat dia. laki-laki tinggi yang berbagi cerita tentang bulan, bintang, alien dan galaksi denganku. malam itu. kala dentuman musik keras klab malam justru jadi backsound untuk obrolan seru kami. kala suara orang sekitar yang berbincang setengah berteriak semacam desingan nyamuk diantara seru obrolan kami.

Langit…

tiap ku lihat bulan itu lagi, aku ingat dia. ingin rasanya aku kembali memandangi sepasang mata coklatnya yang berbinar terang tiap kali bercerita. ingin pula ku kecupi bibirnya yang selalu tersenyum manis memabukkan. lebih memabukkan dari bergelas vodka dan berbotol bir yang kuteguk malam itu. malam itu aku menemukan pasanganku….sama aneh, sama unik, sama menarik. sama-sama berbeda. sama-sama tidak biasa. tapi aku tahu, aku dan dia….lengkap.

aku ingin mengenali hangat peluknya, bersandar manja di bahu lebarnya. memusnahkan semua galau, semua resah, semua gundah…lalu berbaring di dadanya dan tertidur disana sambil mendengarkan detak jantungnya.

aku ingin mengenali kehidupannya. menjadi bagian dari senyum bahagianya. menjadi ‘rumah’ untuk kepulangannya. menjadi penjaga hatinya yang setia. menjadi partnernya. menjadi kekasih semasa hidupnya. menjadi bagian darinya.

langit….

disana….di tempat ia berada kini, hiasi langitnya dengan sebuah bulan sabit yang menyerupai sebuah senyum. ingatkan ia pada malam itu, kala ia bertemu denganku. kala kedua pasang mata kami bertemu. kala ia kecup pipiku. kala kami tertawa bersama. kala suaranya menggema sampai ke dalam sukma. kala ia bersamaku….yang kemudian memujanya. dan kirimkan satu bintang paling bersinar di langitnya….agar ia tahu, aku disini menunggu. sampai ia kembali….pulang ke pelukku.

*nulis sambil dengerin Firasat – Dee Lestari itu kayak menyayat nadi pake pisau tumpul…nyeesss tapi….ah, sudahlah

Advertisements