Merindu Hujan Juli


Dia bilang hujan bulan Juni itu tabah merahasiakan rintik rindunya pada pohon berbunga.

Lalu apa kabarnya hujan di bulan Juli? Apakah masih setabah Juni? Masih menyimpan rahasia rintik rindu yang lambat laun telah berubah menjadi air bah yang luber?

Iya…ini bukan lagi rintik kecil yang sekedar membasahi tanah kering. Ini air bah yang tumpah meski terbendung ego dan ketabahan itu sendiri. Dan rindu itu tetiba sulit untuk dirahasiakan lagi. Sulit untuk ditutupi deras hujan bulan Juni.

 

Dia juga bilang hujan bulan Juni itu bijak karena mampu dihapuskan jejak-jejak kaki yang meragu.

Lalu apa kabarnya hujan di bulan Juli? Masihkah ia sebijak itu? Mampukah ia menghapus jejak-jejak yang terus meragu?

Iya…ini jejak kaki yang masih meragu. Tak paham arah. Sering terbawa arus air bah yang melimpah ruah dan menyamarkan arah. Dan kebijakan itu semacam isapan jempol semata, ketika jejak pun semakin tercecer tak karuan.

 

Dia pun bilang, hujan bulan Juni itu arif ketika ia biarkan semua yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga.

Bagaimana dengan kabar hujan di bulan Juli? Masih arifkah ia menyerap semua yang tak terucapkan meski dalam doa?

Iya…ini doa-doa yang tak menemukan kata . Yang terburu diserap waktu sampai layu. Yang berkali coba diucapkan sampai lidah pun jadi beku.

 

Katakan padanya, aku ingin hujan di bulan Juli yang suburkan harap dan lenyapkan pengap. Hujan bulan Juli yang dinginkan otak tapi tak bekukan hasrat. Yang basahi dahan-dahan kering cabang hati dan tumbuhkan pohon-pohon baru yang terbangun dari bibit rindu. Lalu membiarkan aku mensesap bahagia dari buahnya. Dan berdiri bijak dan arif dibawah lindungannya. Menemukan jawaban atas semua pertanyaan dan meluruhkan keraguan. Dan biarkan Juli dan hujan satu-satunya yang aku tahu menyenangkan.

* untuk rinduku pada hujan, kekagumanku pada Juni dan Sapardi dan untuk Juli yang penuh harap

Advertisements