Life Is (Not) A Fairytale


Belakangan ini, Hollywood banyak mengangkat cerita fairytale ke layar perak atau layar kaca. Ada Puss in Boots, Shrek, Snow White & The Huntsman, Mirror Mirror dan nanti ada juga Jack and The Beanstalk. Gak ketinggalan ada serial televisi yang sudah dimulai dari akhir tahun 2011 lalu, Once Upon A Time. Semuanya menarik garis dasar cerita fairytale ternama dunia. Dengan sedikit twist modernisasi tentunya, bumbu komedi dan drama yang lebih kompleks dari sekedar cerita dongeng fairytale biasanya.

Sebagai seorang individu dengan daya khayal berlebihan macam saya, saya menemukan dunia yang luar biasa fenomenal dalam cerita-cerita ini. Saya terbawa jauh dalam berbagai imajinasi yang ditawarkan cerita-cerita ini. Sejak kecil memang saya senang dengan cerita dongeng. Mungkin Ibu saya bukanlah seorang pendongeng sejati. Rasanya gak pernah dia bercerita dari buku dongeng tentang Cinderella atau Sleeping Beauty. Yang saya ingat, dia membuat dongeng fiktifnya sendiri tentang seorang Putri Bungsu. Entahlah…saya nggak begitu ingat ceritanya. Yang saya ingat bahwa kebaikan akan selalu menang diatas kejahatan. Itu saja. Yah…karena toh, sebelum cerita usai, biasanya saya sudah tidur duluan. Cerita karangan Ibu yang bernama tokoh Putri Bungsu ini biasanya diceritakan saat akan memaksa saya yang masih mau main untuk tidur siang.

Lalu cerita-cerita dongeng ternama itu diperkenalkan kepada saya melalui kaset-kaset Sanggar Cerita. Bagi yang tumbuh dan besar di tahun 80an, mungkin pernah dengar. Medianya kaset, isinya cerita dongeng fairytale atau bahkan legenda folklore local yang dimainkan oleh pemain-pemain sandiwara Sanggar Prathivi yang pada tahun 80’an wara wiri juga di TVRI main fragment atau sinetron, jauh sebelum sinetron jadi gak jelas dan over komersil seperti sekarang. Iya…Ayah saya salah satu pemainnya. Terbiasa berperan sebagai Ayah atau hanya sekedar pembawa cerita atau announcer.

Dari kaset-kaset itulah saya mengenal banyak cerita dongeng internasional macam Cinderella, Snow White, Sleeping Beauty, Pinocchio dan masih banyak lagi. Dan nggak ketinggalan cerita legenda local macam Jaka Tarub & 7 Bidadari, Lutung Kasarung, Keong Emas dan banyal lagi. Setiap kaset, setiap cerita, membawa otak saya berimajinasi tingkat tinggi. Gak urung saya ikut menangis waktu mendengarkan cerita Bawang Merah Bawang Putih, ikut tertawa waktu mendengar cerita Aladdin & Jin Lampu Wasiat yang bertingkah. Mendengarkan melatih sensitivitas pendengaran, menstimulasi pemahaman dan kreativitas imajinasi. Sesuatu yang saya rasa sudah jarang dilakukan anak-anak kecil sekarang.

Anak kecil sekarang sudah terlalu dimanjakan visual. Televisi, game console…semua memanjakan dengan visual yang persis seperti nyata. Kalau dalam cerita dibilang tinggi besar berewokan ya digambarkan tinggi besar berewokan. Tapi toh…yang tinggi dan besar bisa berbeda ukurannya kalau dalam imajinasi kita kan?

Ok…bukan untuk membahas anak-anak jaman sekarang, saya malah ingin kembali membahas fairytale ini. Kenapa sih disebutnya fairytale? Ya tentu karena ada sosok fairy atau Peri di cerita itu. Well…nggak selalu Ibu Peri sih, kadang bentuknya monster-monster gitu juga. Sesuatu yang tidak mungkin kayaknya ada di dunia nyata. Iya…fairytale. Fairy land. Fairy life. Fairy love. Fairy romance. Fairy endings. Hahahaha…. Semacam curcol nih :p

Hampir 2 tahun yang lalu, saya ikut proyek keroyokan dari nulisbuku.com untuk buat cerita2 fairytale yang kita buat twisted. Dua cerita saya masuk kompilasi waktu itu. Tapi entah…kayaknya sampai saat ini hanya isapan jempol si penggagas proyeknya aja, karena toh saya gak pernah liat itu buku akhirnya diterbitkan. Padahal sudah siap untuk promo besar-besaran. Well…biar eksis aja sih. Karena toh saya memang yakin bahwa tulisan saya belum sebagus para penulis Once Upon A Time series yang setiap episode membawa spin baru pada dongeng yang sudah kita kenal sebelumnya.

Inilah kenapa satu bulan terakhir ini, tiap hari Minggu adalah saatnya saya ngadem di kamar, pasang tv kabel dan menonton marathon Once Upon A Time series. Sejak episode satu, saya sudah jatuh cinta. Pada cerita Snow White yang kemudian berkembang dan menjadi titik awal untuk cerita-cerita dongeng lain dari Cinderella, Beauty & The Beast sampai Red Riding Hood. Entah berapa banyak cerita dongeng akan terus di spin di serial ini. Tapi tiap spin membuat saya terkagum-kagum pada cara bercerita para penulisnya. Damn!! I should’ve thought of that!!

Apa jadinya kalo Red Riding Hood itu justru si Serigala jahat? Apa jadinya kalo Cinderella itu seorang perempuan manipulative yang melakukan segala cara untuk pergi ke pesta, termasuk menjual harga dirinya pada Rumpelstiltskin? Apa jadinya kalo ternyata dongeng Sleeping Beauty dan Snow White itu sebetulnya menceritakan tentang perempuan yang sama? Apa jadinya kalo ternyata The Evil Queen dan Rumpelstiltskin itu sebetulnya gak jahat tapi cuma insecure? Dan apa jadinya kalo ternyata Gepetto itu an old-man pervert yang bikin boneka anak laki terus untuk di….. ah, sudahlah!! Jadi ngelantur nih. Tuh….lihatlah gimana imajinasi bisa bekerja. Sejauh mana ia berjalan meninggalkan realita.

Inti semua cerita fairytale pada akhirnya adalah kemenangan The Good from The Evil. Sedrama apapun ujung2nya pasti The Good yang menang. Meski tentu saja along the way dibumbui dengan makhluk berkekuatan magis macam fairy atau Ibu Peri dan Jin Lampu Wasiat. Yah…semua yang magis dan diluar realita kita. Tapi jangan pernah ngarep ada Ibu Peri baik hati yang akan bikinin gaun indah buat pergi ke pesta. Kamu harus kerja, kumpulin uang, pergi ke Toko dan beli gaun yang indah. Ok…some does not have to work, they just plainly ask for their parents, boyfriends or spouses, maybe :p. Jangan juga ngarep ada Jin Lampu Wasiat yang mengabulkan 3 permintaan kamu seperti enteng jodoh, kaya raya dan mati tua. Ketiganya harus dengan kerja keras, bung. Jodoh yang harus di prospek dari milyaran makhluk bumi. Kaya raya ya harus usaha. Kadang sampe jungkir balik berkeringat bagai air bah. Mau mati tua ya harus sehat jiwa raga, jasmani rohani. Dunia makin tua dan makin gila bikin usia rasanya makin tersedot. Kalo gak kuat mental bisa-bisa pengen bundir saking galaunya. Hidup ini bukan dongeng. Life is not a fairytale. Dan you know what…dengan adanya dongeng-dongeng yang di spin sedemikian rupa itu, gw rasanya makin percaya kalo nggak ada tuh fairytale endings. Apalagi yang namanya first true love kiss. Ah….isapan jempol aja kali. First true love kiss breaks all bad spell? Yeah…right!! Coba siapa yang berani ini ngasih gw first true love kiss untuk memecahkan kutukan jomblo ini?? #eeaaa …. :p *ditimpuk pembaca*

*tulisan ini berakhir dengan si penulis berdoa for a Fairy Godmother untuk segera mengirimkan sejumlah uang ke rekeningnya*

 

 

 

Advertisements