Goyang Penasaran: Tubuh Perempuan dan Dangdut


Mungkin saya pertama kali membaca cerpen Goyang Penasaran sekitar tahun 2009. Cerpen karya Intan Paramadhita yang terdapat di buku kumpulan cerpen “Kumpulan Budak Setan” yang merupakan buku tribute to Abdullah Harahap, penulis terkenal di genre horror. Dalam buku itu terdapat 3 orang penulis yang kesemuanya menulis cerita ber-genre horror. Ada Intan Paramadhita, Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad. Sebelum itu saya memang sudah pernah membaca karya-karya Eka Kurniawan, maupun Intan. Tapi jujur…karya Intan-lah yang sangat menarik perhatian saya.

Goyang Penasaran adalah karya Intan yang sangat menonjol. Ada semacam ‘keakraban’ dalam ceritanya. Tentu saja…karena cerita yang diangkat dalam cerita ini sangat dekat dengan budaya kita. Dibalut dengan musik dangdut dan goyangan ‘maut’, Goyang Penasaran menawarkan cerita horror urban legend yang diselipi pesan moral. Tentang perempuan, tubuh perempuan, gairah, dendam, cemburu, cinta dan kematian. Hmm….sedikit santer bau darah juga.

Adalah seorang Salimah yang dikisahkan sukses menjadi bintang panggung dangdut akibat goyangannya yang aduhai yang berhasil membuat laki-laki sekampung tergila-gila dan terus penasaran. Salimah yang berlatar seorang perempuan biasa, bekas anak masjid pula, berubah dari lugu menjadi penyebab zinah mata para laki-laki. Sebuah jenis dosa ‘kecil’ yang sering kali tidak kita sadari kita lakukan.

Tubuh perempuan, tubuh Salimah adalah penyebabnya. Salimah yang digambarkan sexy dan montok itu telah menyihir beratus pasang mata sampai rela lunglai di kakinya demi cinta. Oh wait….mungkin bukan cinta, mungkin hanya nafsu gairah semata. Salimah menebarkan harum sensual yang sekaligus seksual hingga siapa pun di dekatnya termabuk pasrah.

Cerita pun berkembang. Disini kita diingatkan pada sebuah kasus nyata dimana seorang Inul Daratista dan goyang ngebor-nya yang heboh itu sempat menjadi kontroversi karena dianggap tidak senonoh dan vulgar oleh sang Raja Dangdut Rhoma Irama yang juga seorang Haji. Hmm….munafik kah? Ketika kejadiaan itu merebak, cuma satu hal di otak saya. Rhoma Irama sudah zinah mata melihat Inul bergoyang sampai gairah tak tertahan. Namun sayang, Inul yang bersuami tidak menganggapnya. Sampai akhirnya Rhoma Irama menggunakan paham-paham dan pakem-pakem agama untuk melindunginya dari kemunafikannya sendiri. Ok…ini pure pendapat pribadi. Tapi bukan berarti nggak mungkin kan?

Yang terjadi pada Salimah pun sama. Kurang lebih. Penampilannya yang provokatif dicerca oleh pemuka agama kampung sebagai penyebab degradasi moral para pemuda kampung. Penyebab mudharat. Nah….sementara Salimah dengan Haji Ahmad, si pemuka agama yang sok vokal itu ternyata punya sejarah masa lalu, dimana keduanya sempat nyetrum dari sebuah zinah mata pada suatu malam setelah belajar mengaji. Bingo!! Kemunafikan detected :p

Pada perkembangan cerita Salimah pun dikabarkan pensiun dari panggung dan menjadi macam hantu hidup yang pendiam dan macam bisu. Ini lebih mengerikan dari penampilannya diatas panggung. Ini jelas lebih membuat banyak orang penasaran. Apakah Salimah berhenti dari panggung karena tidak tahan cacian atau sekedar mempersiapkan pembalasan dendam kesumatnya pada para munafik yang mencelanya tapi diam-diam tetap mendambanya?? Hahahaha….najis dah bahasa saya.

Cerita Goyang Penasaran ini dipentaskan di Teater Salihara Jakarta minggu lalu. Saya berkesempatan untuk menonton bersama beberapa teman. Memang sudah sejak setahun lalu, sejak pertama kali dapat informasi bahwa cerita ini diteaterkan, saya berniat untuk menonton. Semacam ingin memuaskan diri dan imajinasi saya atas apa yang saya baca. Dibawah penyutradaraan Naomi Srikandi dan penulisan naskah yang dibuatnya bersama si penulis asli, Intan, Teater Garasi, mampu menampilkan cerita ini secara baik. Yah….saya seperti melihat tiap paragraf menjadi hidup dan bermakna. Nyawa kemisteriusan dan kengerian dari goyangan Salimah yang buat penasaran pun begitu terasa, bahkan sejak awal masuk ke Teater Salihara.

Seperti bersiap menonton pergelaran panggung dangdut, kami disambut suara si pembuka acara dengan gaya penyiar radio dangdut yang memutarkan lagu dangdut hits macam Sedang-Sedang Saja dari Vetty Vera. Legendaris. Hihihihih…..

Dan adegan awal pun sudah memberikan sambutan mencekam, ketika kita melihat sosok Salimah bercermin, seperti sedang menyesali hidupnya. Kemudian disambung dengan penampilan Salimah di atas panggung dan euphoria para laki-laki penontonnya yang memuja dari bawah panggung sambil berharap Salimah menanggalkan pakaiannya saat itu juga. Cerita kemudian tersusun sesuai plot yang ada pada cerpennya. Iya…karena saya sudah baca berulang kali, saya tahu persis susunannya. Dari penggambaran Solihin, si pemuja nomor wahid Salimah dengan obsesinya memiliki Salimah sampai Pak Haji Ahmad yang lebih banyak di gambarkan melalui monolog dari speaker sedang berceramah soal goyangan Salimah yang haram dan tidak bermoral.

Yang berbeda ketika alasan-alasan terjadi tragedi Salimah pada cerpen diceritakan dalam sisipan pada paragraf-paragrafnya, di pementasan ini malah ditampilkan dalam bentuk flash back dan ditaruh paling belakang sebagai penutup. Iya…setelah adegan dimana Salimah bergoyang sambil menanggalkan pakaian di depan Solihin yang sedang nafsu berat dan dimana Salimah memeluk kepala Pak Haji Ahmad yang banjir darah dengan penuh gairah. Hihihihih….adegan ini memakai property bentuk kepala manusia dan cucuran darah berwarna merah. Hiks…kengeriannya pun dapat sekali.

Goyang Penasaran macam memberikan tamparan pada masyarakat kita yang masih memandang tubuh perempuan dengan rendahan. Seakan seonggok tubuh perempuan hanya sebatas pemuas nafsu gairah dan syahwat laki-laki saja. Tubuh perempuan di puja sekaligus dicela. Terlalu provokatif salah, tidak menarik pun salah. Dan pada banyak hal, tubuh perempuan adalah komoditas yang diperdagangkan. Salah satunya di industri musik. Bukan hanya dangdut, mungkin semuanya. Bukan hanya industri musik, tapi semua bidang juga sama. Dan perempuan yang sadar betul mereka ‘barang yang diperdagangkan’ jadi punya semacam power untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Entah itu kuasa atau harta. Salimah pun demikian rasanya. Dengan tubuhnya dan goyangannya yang membuat laki-laki penasaran, dia menggerakkan laki-laki untuk berkorban demi dia. Solihin adalah korbannya ketika ia bersedia membunuh demi memuaskan sepasang matanya yang ingin dimanjakan goyangan tubuh Salimah.

Dan karena setting dari cerita ini yang dibuat dengan latar masyarakat kita, saya rasa di luar sana ada banyak perempuan macam Salimah. Cari makan dari nyanyi dan goyang, tanpa maksud untuk provokatif, mungkin punya alasan dan latar belakang mungkin juga tidak, di puja sekaligus di cela sebagai manusia hina penyebab dosa. Dan banyak pula manusia macam Pak Haji Ahmad yang demi melindungi reputasinya dan kemunafikannya malah berlindung di balik fatwa-fatwa agama. Yah….ini pendapat saya sih. Entah menurut anda.

Buat saya malam itu malam dimana saya mendapatkan pengalaman visual sempurna atas apa yang saya baca. Tata ruang panggung dibuat begitu apik. Satu yang jadi highlight adalah ketika panggung dangdut Salimah dibangun diatas setting masjid. Menurut Naomi, ini dibuat tanpa sengaja dan awalnya hanya untuk menghemat ruang. Tapi toh berkembang menjadi sesuatu yang filosofis. Keduanya, baik panggung ataupun masjid sama-sama menjadi tempat orang-orang ‘tampil’ dengan misi mereka masing-masing. Ah…ada benarnya. Dan yang unik lagi, semua aktor yang digunakan adalah laki-kaki, termasuk sosok Salimah yang sentral dimainkan oleh laki-laki. Ini pun dimaksudnya untuk menuji interpretasi penonton akan seksualitas perempuan. Hmm…dashyat!

Plus…akhirnya setelah sekian lama saya bisa bertemu langsung dengan Intan Paramadhita yang menginspirasi saya. She’s damn good! Kedua buku karya Intan pun ditandatangani, menambah koleksi buku saya yang ditandatangani penulisnya. Semoga saja ada karya-karya Intan lain yang nantinya diangkat jadi pertunjukan lagi, atau mungkin film layar lebar. Hehehehe…..Karena buat saya Intan membawa genre berbeda melalui karyanya. Kengerian yang terasa begitu akrab dengan kita.

* dimuat juga di @kreanesia

Advertisements