Ke Pantai Untuk Santai @PulauPari – Day 1


bila penat datang, maka ke pantai lah. bercengkrama dengan pasir, ombak dan anginnya yang semeriwing. yah….5 tahun tinggal di pulau sana membuat gw cinta banget sama pantai. tempat buang resah, gelisah…buang galau atau malah jadi parau karena banyak memanggil nama kau. halah :p

anyway….perjalanan kali ini tujuannya adalah Pulau Pari di gugusan kepulauan seribu yang masih bagian dari ibukota DKI Jakarta. awalnya hanya dari perbicangan iseng via skype antara gw dan @AmyQueenDSX yang sejak tinggal di negeri bersalju Finlandia selalu mendamba matahari jalang Indonesia. maka…mulailah kami berencana. browsing sana sini sampai bertandang ke website Paradisonesia. Pulau Pari namanya. dari gambar jelas langsung jatuh hati. indah…pantai2 berpasir putih, air laut berwarna kebiruan dan ketenangan ombak yang membius pikiran.

maka ide itu disambungkan ke adek gw, Andi. dan mulailah tugas gw yang seperti biasa, seorang organizer. cari info. kontak paradisonesia. booking dan rempong sendiri. awalnya  hanya kita bertiga. tapi ternyata bertiga saja tidak bisa berangkat. satu hal yang harus diingat adalah perjalanan ke pulau-pulau macam begini sangat mahal biaya transportasinya. maklum…pake kapal motor yang pake solar. itung aja deh sendiri berapa harga solar dan berapa liter yang diperlukan untuk perjalanan kesana. *ngitung* *ambil kalkulator*

maka gw pun mengajak salah seorang teman baik, Ronald untuk ikut serta. pas pula dia sedang bisa cuti dan tidak sibuk. jadilah kita sudah ber 4 orang. sebulan sebelum fix date, malah sempat ribet karena orangnya mau bertambah. yah…tapi seminggu mau berangkat malah balik lagi ber 4. well….semakin banyak peserta sesungguhnya semakin akan murah. tapi toh…sejak awal pun kami udah gak masalah meski harus ber 4 saja yang berangkat. emang niat sudah bulat.

ketimbang hanya menghabiskan satu malam, kami memilih 2 malam. dari tanggal 9 yaitu hari jumat sampai tgl 11 yang hari minggu. yup….a long weekend on the island. that’s our aim. soalnya emang kalo cuma sehari semalem yang cuma dapet capeknya aja. buang waktu sama buang uang tapi gak dapet apa-apa.

dari Paradisonesia kami sudah dibuatkan paket 3 hari 2 malam. termasuk transport pulang pergi, penginapan di homestay, makan 3 kali sehari alias 2 dinner 2 lunch 2 breakfast, snorkeling dan island hopping seharian dan barbeque di malam terakhir. well…..quite complete. yang jelas gak ribet lagi. harga seorang waktu kemaren adalah 650ribu saja. termasuk semua lho. which means cuma 300rban aja sehari. murah lah…menurut gw sih…tapi toh bukan price yang penting tapi value.

pagi ini, tgl 9 maret, hari jum’at kami berangkat pagi-pagi buta. ya gak buta2 amat sih. udah jam 6 gitu emang. tapi ya buat makhluk2 malam macam gw, Ronald, Amy dan Sanip, jam 6 pagi adalah disaster. masih ngantuk….hahahahaha

Pagi hari di Muara Angke

tapi toh karena disana kabarnya jam 7 sudah harus stand by keberangkatan dengan kapal motor penyebrangan. Ronald pun datang berkendara taksi yang siap mengangkut kami ke muara angke, dermaga kali adem. karena menurut info dari paradisonesia, disana semua berawal. dari rumah langsung tembus tol priok- pluit. lumayan lancar sih. tapi sudah ada indikasi si bapak supir taksi ekspress yang kita tumpangi ini lelet jalannya. sampe gw agak panik karena udah di sms Riyan dari Paradisonesia. gw suruh aja pak supir nge-gas sedikit. sampe pol kalo perlu lah. daripada telat kan.

dan tambah disaster waktu ternyata si pak supir gak paham banget jalan ke angke. mampus!! telatlah sudah. sampe sana juga cari-carian sama si Riyan. tambah mampus! celaka 12 pasanglah. alhasil kami pun tertinggal itu kapal. hiks…hiks…..dari situ baru terasa bener-bener ‘bangun’. gak lagi ngantuuukkk……hahahaahahah

lalu Riyan dari Paradisonesia memberi alternatif, dengan tambah bayar 250rb kami bisa naik kapal motor penyebrangan berikutnya. hanya saja tidak langsung ke Pulau Pari, tapi berlabuh di Pulau Tidung. dan biaya tambahan itu adalah untuk membayar kapal motor lain yang akan membawa kami ke Pulau Pari. lalu kami pun sepakat!! yup…gpplah, udah terlanjur basah. asal jangan suruh basah2an berenang ke Pulau Pari aja.

menunggu 30 menit lalu kami naik kapal penyebrangan km. lumba-lumba menuju Pulau Tidung. perjalanan akan ditempuh dalam kurang lebih 2 jam saja. kapal motor lumba-lumba itu cukup layak. milik dishub. cukup terawat dan bersih. life vest tersedia diatas kepala tempat duduk. ber-AC pula. tempat duduk juga nyaman. yang agak ganggu cuma selama perjalanan kami musti dengerin lagu2 karaoke Mansyur S dari layar tipi 32 incinya. damn!! sayang bener dah tuh tipi…hahahahaha. sampe suara dari headset iPod pun kalah kenceng *tepok jidat*. untung sesekali bisa naik ke rooftop sekedar untuk angin-anginan dan panas-panasan gitu deh. hahahaha…sambil liat pemandangan tentunya. hamparan pulau-pulau dimana-mana. yang gak seribu pulau juga sih seperti namanya kepulauan seribu. tapi cukup banyaklah yang dilihat.

Rooftop Km. Lumba-Lumba

sebelum tiba di Pulau Tidung, kami berhenti sejenak menurunkan penumpang tujuan Pulau Pramuka. cuma 5 menit aja terus jalan lagi. sampai di Tidung kami disambut dengan keramaian. yup…pulau ini udah rame banget euy. dermaganya penuh orang berjualan dari sayur mayur sampai macam-macam. penuh kapal-kapal motor yang juga berlabuh. hmm….seandainya hati kayak dermaga Tidung, ramai yang berlabuh. halah :p

dari Pulau Tidung, kami langsung mengontak Bang Andi, si pemilik kapal yang akan membawa kami ke Pulau Pari. bertemu Bang Andi dan langsung naik ke kapal motornya. lalu perjalanan pun di mulai. Bang Andi menyarankan kami untuk berhenti di beberapa pulau menuju ke Pulau Pari. sekedar melihat katanya. tentu kami gak keberatan. asal gak tambah bayar. hahahaha…..toh ini menjadi ‘keterlambatan yang manis’.

di Jembatan Cinta...@AmyQueenDSX @sanip_ @ronaldrofiandri & @BebsAya

Jembatan Cinta Pulau Tidung

di perjalanan, masih di seputar Pulau Tidung, kami berhenti dan berfoto sejenak di Jembatan Cinta yang katanya hits itu. halah….hits dari mana?? jembatannya udah usang. gw aja nyaris salah langkah sekali. untung gak nyebur. bisa tengsin gw…hehehehe. tapi toh…masih jadi daya tarik Pulau Tidung. karena pas saat kami berhenti di jembatan itu pun ada orang lagi photo shooting pre-wed. buset dah…panas bener begitu mereka pada wedding dress lengkap *lap jidat*.

Pulau Payung Besar

gak lama di Jembatan Cinta, kami lanjut ke Pulau Payung Besar. liat2 aja sih….pulaunya cukup besar. pasirnya putih juga, cuma tidak landai. jadi gak bisa main2 di pantai. Sanip, adek gw yang lagi gila fotografi ya sibuk ambil2 gambar deh. gw sih agak laper sama terlanjur kepanasan. jadi ngadem aja sesaat.

dari sana baru kami menuju ke Pulau Pari. sampai di dermaga Pulau Pari rasanya tenang. akhirnya sampai juga. setelah perjuangan pagi itu. langsung kami disambut Bang Tono, guide selama di pulau. 4 buah sepeda sudah siap. kami pun naik sepeda ke penginapan. wisata di Pulau Pari adalah wisata kemasyarakatan. artinya kita disini ‘menumpang’. tinggalnya ya di rumah penduduk yang sudah disiapkan sedemikian rupa ketika ada wisatawan datang. kebayang juga…tiap ada turis, yang punya rumah musti tidur di ruang belakang. tapi toh wisata macam begini menjamin tidak adanya pengerusakan fasilitas umum seperti wisata biasa. karena toh kalo kita numpang kan jadinya gak enakan tuh. hehehehe….

rumah penginapan ‘Silvia’ cukup besar. ada 3 kamar untuk kami disana. 2 dengan AC dan 1 dengan kipas angin. ruang tamu yang luas dan kamar mandi yang besar. iya, bak mandinya ukuran 2,5×1,5 meter. gede banget. liat air pasti pengen nyemplung deh. lah….dikata bathtub kali. dan keadaan rumah ini cukup bersih dan rapih. jadi gak terlalu ‘jengah’. cuma kendalanya…depan rumah persis itu masjid. jadi ya tiap waktu adzan kita yang pertama kedengeran. hehehehe…..

siang itu makan siang pun sudah tersedia di meja. masakan ala rumahan gitu. tapi lidah dan perut langsung jatuh cinta terutama karena enaknya sambel terasi yang tersedia. hehehehe….nyam nyam.

dan abis makan penyakit lama kambuh deh. ngantuk. maka kami yang udah terlanjur panas-panas pun memutuskan untuk istirahat sejenak. sekedar mengembalikan energi yang habis terbakar matahari. tidur siang sesungguhnya adalah sebuah ‘barang mahal’ bagi manusia2 sibuk macam kami. maka…ketika ada kesempatan tidur siang, ya kami gak pikir panjang. langsung naik ranjang. hehehehe….

Pantai Pasir Perawan

Pantai Pasir Perawan

Mendayung ke hatimu.... :p @Pantai Pasir Perawan - Pulau Pari

Jump for joy @ Pantai Pasir Perawan - Pulau Pari

pose ala model @ Pantai Pasir Perawan - Pulau Pari

Menikmati angin sore @ Pantai Pasir Perawan - Pulau Pari

terbangun di sore harinya dan langsung bersiap menuju Pantai Pasir Perawan di sebelah barat. sayangnya hari itu mendung. hiks….ini jadi kesedihan kami bersama. matahati yang tadi jalang kini sudah pulang ke pelukan awan. tapi toh kami tetep pergi ke pantai. merasakan angin sore yang sejuk dingin, pasir putih landai yang halus dan air biru yang dingin. duduk-duduk di pondokannya minum kopi sore. ah…..ada kedamaian tersendiri setiap pergi ke pantai. ada penat yang akan selalu lumat. sore itu pun kamu tutup dengan kelegaan. menutup hari yang melelahkan.

kembali ke penginapan pun makan malam sudah kembali tersedia. hmm…di pulau ini rupanya makan akan selalu tepat waktu. hihihi….dan selalu dijamu dengan makanan rumahan yang lezat. menu malam itu ikan tongkol bakar dan sayur kangkung. hmm…..sambal terasinya pun gak ketinggalan. membuat lengkap hari yang seru.

sayangnya malam itu rencana kami untuk bersantai malam di dermaga sambil liat bintang terpaksa batal karena bintang-bintang tidak datang setelah dihadang hujan yang tak selesai sampai pagi harinya. biarlah….masih ada satu malam lagi untuk dinikmati. malam itu kami habiskan dengan bercengkrama saja di penginapan. sambil menikmati sebotol vodka grey goose bawaan dari Amy. hehehehe…..

*to be continued*

Advertisements