Sejuk Tapi (Kurang) Damai


ceritanya wiken kemarin, kami sekeluarga melarikan diri sedikit dari ibukota menuju kepadatan lain bernama Bogor – Puncak. sekaligus membawa misi perayaan ulang tahun bokap yang ke 59 yang sebetulnya jatuh pada 15 February kemarin. yah…setidaknya cari sedikit udara lebih sejuk dari super panasnya ibukota seminggu kemarin itu.

gak jauh-jauh…pilihan untuk menginap cukup di daerah Cipayung saja. tentu supaya pas pulang tidak terlalu terjebak kemacetan arus turun dari arah Cipanas.

hari itu kami memang berencana untuk berkunjung ke Curug Cilember. sebuah air terjun di kaki bukit yang cukup menarik. gilanya…tahunan sudah bolak balik nginep di daerah Bogor – Puncak, baru kali ini kepikir untuk kesana. kemana aja cinnnnn??? :p

ternyata jalan menuju Curug Cilember ini sangat mudah ditemukan. bisa dari jalan menuju Mega Mendung atau lewati sedikit sampai depan hotel Grand Ussu dan belok ke kiri. jalannya memang sedikit kecil. pas-pasan untuk 2 mobil saja. dan kalo ketemu bus tanggung, alamat rempong pula. tapi toh…lepas dari kepadatan kanan kiri perumahan, ada jalan lebih lapang dengan sawah di kanan kiri. setidaknya ini membuat perjalanan menanjak jadi adem ayem dengan semilir angin persawahan. hehehehe…..

Curug Cilember

ternyata Curug Cilember ini adalah objek wisata yang sudah dikelola dengan baik. dari masuk parkiran, sudah rapih. lalu terdengar suara dari speaker yang memberikan informasi dan ucapan selamat datang. macam objek wisata besar saja. masuknya tidak pula mahal. cuma 12 ribu aja kok. didalamnya kabarnya ada 7 buah curug atau air terjun kecil yang tersebar di beberapa arah kaki bukit. kami cuma ingin lihat satu aja. gak sanggup kalo liat semua.

begitu masuk, gw pribadi cukup amazed melihat betapa objek wisata ini sudah baik terkelola. bersih. itu kesan pertama. pathway-nya sangat bersih. tiap beberapa meter ada tong-tong sampah bergandengan. organik dan non organik. ada bagian khusus untuk para penjaja souvenir dan jajanan. ada sebuah dome besar berisi kupu-kupu yang terbang bebas. yup..ini taman kupu-kupunya. di bagian hutannya, tersedia kavling-kavling lengkap dengan tenda siap pakai untuk para campers. bisa disewa perhari atau hanya perjam. tapi ya….jam-jaman gak berarti buat tempat mesum macam di kota. hahahahah¬† *ups*

cukup berjalan sekitar kurang dari 500 meter saja, bertemulah kita dengan curug itu. tingginya mungkin sekitar 50 meteran. ada 2, di kiri dan kanan. airnya hari itu deras. ya mungkin karena memang musim hujan juga toh. didasar curug banyak bebatuan besar yang bisa diduduki santai sambil menceburkan kaki ke air dingin itu. sejuk. dingin. segar.

buat gw, ada rasa senang karena tempat ini sangat rapih terawat dan indah. padahal biasanya objek wisata kecil dan non main stream di pulau Jawa ini rata-rata dalam keadaan mengenaskan. alias sama sekali gak dilirik sama pemda-nya. entahlah…tapi yang ini cukup memuaskan. kita bisa betah nongkrong disana sampai sore sambil mendengarkan riuh air yang terjun bebas ke dasar bebatuan itu. menarik.

kalo dihitung entah sudah berapa kali kami sekeluarga liburan akhir pekan di daerah ini. sejak jaman gw pun masih balita lucu. dan semakin kesini semakin banyak perbedaan nyata yang terasa. dulu di daerah Bogor jalur Puncak ini terkenal dengan damai dan sejuknya. disinilah orang-orang Jakarta menghabiskan akhir pekan cari santai dan terbebas dari segala beban hidup ibukota. tapi toh, sekarang tidak seperti itu lagi.

jalanannya ramai luar biasa dengan genk motor besar yang sok menguasai jalan dengan kebut-kebutan dan memborbardir telinga kita dengan suara sirine acak-acakan mereka. alhasil, meski di dalam mobil pun kita tetep deg-degan dan mobil pun minggir memberi mereka ruang jalan.

di banyak tempat juga ramai laki-laki bertubuh besar berkebangsaan arab yang entah sedang apa. ok….soal entah itu jelas saya mungkin terlalu lugu. kita semua tau, rasanya sudah tau…bahwa di daerah Bogor jalur Puncak ini memang banyak ditemukan kasus perempuan-perempuan lokal yang dikawin kontrak oleh pria-pria berkebangsaan arab. yah….ini toh masih terjadi sampai saat ini. apalagi sih alasannya kalo bukan ekonomi. ekonomi telah jadi berhala saat ini. disembah, dipuja.

sedikit gerah juga sih. padahal udaranya sejuk. tapi jadi gerah melihat pria-prian dengan mata jalang ini mencari mangsa. saya pun agak deg-degan. maklum, namanya lagi liburan kostum wajib adalah tank top dan celana pendek.

alhasil saya yang dulunya cukup suka berwisata ke daerah pegunungan tidak lagi menemukan indahnya berlibur disana. tidak ada lagi semacam kedamaian. masih sejuk, tapi toh sudah kurang damai. di jalan sama saja tetep kena macet. malah tambah jantungan dengan banyaknya motor ugal-ugalan. di tempat umum juga tambah jantungan ketakutan liat pria-pria arab itu memandang. ih…..

well…..masih banyak sih tempat lain untuk kabur sejenak dari penat ibukota. next trip will be Pulau Pari di Kepulauan Seribu di utara Jakarta. pantai….dimana hamparan pasir dan luas lautnya biasa menawarkan matahari yang hangat di tubuh dan hati juga sepoi-sepoi anginnya membisikkan damai yang luar biasa dashyat. semoga cepat saatnya. gak sabarrr……

Advertisements