Surat (Cinta) Curhat Untuk Zarry Hendrik


Kepada Dek Zarry…

Jujur…saya terpaksa memanggil dengan sebutan ‘Dek’ karena toh menurut teman-teman saya, kamu masih terlalu muda untuk saya. Tapi ya bukan berarti juga kami pantas buat saya, atau tepatnya saya pantas untuk kamu. #eeaa

Rasanya pada awalnya kita bersinggungan jalan di media sosial twitter. Saya baru saja kembali dari kehidupan perantauan di Bali setelah 5 tahun. Sedang menata hidup kembali di ibukota. Tetiba di suatu siang, ada notifikasi dari twitter tentang follower baru. Itu kamu.

Yang mengagetkan adalah betapa banyaknya follower kamu saat itu. Sekitar 9000an kalo gak salah. Lalu pertanyaan pun muncul. Siapa kamu? Tahu dari mana tentang saya? Dan mengapa mem-follow saya yang notabene bukan siapa-siapa.

Di twitter, status jumlah follower-lah yang menjadi penentu siapa kamu. Dengan follower lebih dari seribu pun, seseorang bisa dikatakan menjadi seleb. Yah….semacam memiliki pengaruh besar di media super cepat ini. Dan melihat jumlah follower kamu saat itu rasanya kamu sudah menjadi seleb. Dan lagi…siapakah saya yang di follow seorang seleb. #halah :p

Lalu tergerak saya untuk mem-follow back kamu. Bukan karena wajah di avatar kamu yang waktu itu ganteng. Tapi karena ketika menengok sejenak isi temlen kamu, rasanya ada sebuah dorongan tak terbendung untuk mem-follow. Kamu sangat paham kata-kata. Sangat mahir merangkainya. Dan sebagai pencinta kata, saya dengan mudah ‘jatuh cinta’ pada kata-katamu.

Lalu singkat kata kita pun saling mem-follow. Sesekali saya tergerak me-reply ataupun mengomentari twit-mu yang serba ajaib dan kadang nampak magis #eeaa. Sesekali pula kamu me-reply balik twit saya yang bukan siapa-siapa. Dan bayangkanlah…tiap di reply, saya pun seakan melompat tinggi ke udara sampai lupa daratan karena GR berat. Gila.

Entah karena wajah dalam avatar-mu yang terus membuat kedua dengkul saya lemas. Atau karena semua twit gombal #bangke yang membuat saya tersenyum dikala stress oleh deadline kerjaan atau kesepian di kamar. Yang jelas….semua ‘kata’ kamu menjadi semacam doping untuk keseharian dan kehidupan saya di dunia maya.

Sejak lama, saya ingin bertemu langsung dengan si empunya ‘kata’. Yang saya dengar kamu pernah bekumpul bersama rekan-rekan dari komunitas fiksimini. Yang saya dengar kamu bahkan pernah tinggal di pulau yang pernah saya tinggali, meski sebentar. Ah…kita selisih jalan. Aku pulang ke ibukota dan kamu menjajah pulau ‘rumah’ saya.

Waktu toh belum mempertemukan saya dengan kamu, si perangkai kata yang mahadaya. Justru waktu yang tidak bisa diduga mempertemukan saya dengan kamu di suatu ketika dimana saya tidak siap adanya. Pada sebuah konser musik dimana saya datang tanpa persiapan. Tetiba kamu lewat. Entah mengapa saya langsung mengenali kamu. Zarry yang tinggi dan gagah. Dan entah kekuatan dari mana….mulut saya pun dengan lantang memanggil namamu. Lalu kita saling menyapa. Dan seketika hati saya pun berceceran di lantai. Berantakan. Ah….. #lebay.

Sahabat yang saya temani malam itu malah senyum-senyum sendiri melihat tingkah saya yang sudah dewasa ini bagai anak ababil sedang jatuh cinta. Sekejap konser si artis itu menjadi tidak punya arti lagi. Saya lebih tertarik melirik sana sini kanan kiri mencari kamu yang pergi di balik kerumunan daripada menikmati lagu-lagu yang dipentaskan. Gila.

Lalu kita berpapasan jalan ketika konser usai. Dan gaya ababil saya pun mencuat keluar. Foto bareng. Yah…lebih penting foto bareng sama kamu daripada Bertrand Antolin yang berjalan di belakang saya saat itu. Gila.

Sampai malam berakhir dan beberapa kilometer menjauh dari tempat konser, saya masih belum lepas memandangi foto bareng kita. Ini lebih gila. Sampai sahabat saya hanya berdecak…”ini mah mesti cinta ini. Mesti!”. Hahahahaha….

Yah…mungkin saya mencintai semua tentang Zarry. Tentang seorang anak muda yang mempesona. Sadar diri kalau dia punya sesuatu daya yang maha pada kata-kata. Membaca Zarry seperti membaca kamus atau ensiklopedia yang tidak pernah kehabisan kata. Zarry yang tahu bagaimana menyentuh manusia lain dengan kepandaiannya merangkai kata. Lucu, hidup, menarik, gombal, romantis, apa adanya.

Andai kamu 5 tahun lebih tua, dek. Mungkin sudah segala daya upaya saya jalankan demi mendapatkan cintamu yang kita sudah dimiliki orang. Ah….kecewa rasanya setelah tahu cintamu sudah termiliki yang lainnya. Tapi biarlah saya nikmati terus tiap kata pada twit-mu. Setidaknya sampai saya bosan atau sampai kamu sudah kehabisan ‘kata’.

*ditulis dalam keadaan setengah tipsy. ah…apa pula ini setengah tipsy. tipsy kok nanggung gini…. :p

Advertisements