Jejak #Orjodi di DIY dan Jateng: Day 3


Dieng pagi itu masih dirundung mendung. Kelabu langitnya dan masih berhembus angin mahadaya. Kami terbangun dengan lebih segar. Langsung beranjak ke kamar mandi masing-masing dan segera mengguyur tubuh dengan air panas yang hanya terasa hangat karena udara yang masih dingin.

sambil menunggu ibu narti menyiapkan sarapan untuk kami, kopi pun diseduh. duduk berkumpul sesaat sampai melihat isi buku tamu penginapan itu. isinya lucu-lucu. ada yang pasangan bulan madu, ada segerombolan anak sekolah, ada pasangan bule. semua menuliskan betapa mereka terkesan dengan keramahtamahan ibu narti, indahnya dieng dan hangatnya kebersamaan mereka di penginapan itu.

sekilas saya lihat ditembok terdapat sertifikat kursus milik ibu narti. rupanya beliau pernah mengikuti seminar dan workshop pengelolaan homestay yang diadakan oleh sekolah pariwisata di bali. saya yang lulusan sekolah pariwisata dan juga berkerja di bidang hospitality ingin mengkonfirmasi hal ini pada ibu narti. sebelum check out, hal ini sempat saya tanyakan. ibu narti mengaku dibiayai oleh pemerintah daerah setempat untuk mengikuti workshop ini. dan penginapan beliau ini pun sudah diakui sebagai homestay bersertifikai oleh pemerintah setempat. mungkin inilah salah satu alasan kenapa pelayanan ibu narti sangat baik dan mengesankan.

pagi itu ibu narti menyiapkan sarapan untuk kami berlima. seadanya sih. tapi cukup untuk menambah energi kami pagi itu sebelum perjalanan jauh kembali ke jogja. setelah selesai sarapan dan menyelesaikan administrasi, kami berpamitan dan berterima kasih atas sambutan ibu narti yang sangat berkesan.

candi arjuna

masih kedinginan

ternyata candi arjuna, salah satu kompleks candi yang memang niat kami kunjungi hanya berjarak 50m dari penginapan ibu narti. kami pun menyempatkan mampir kesana. candi ini adalah salah satu yang tertua, dibangun di abad 7-8. kabarnya dulu ada 19 candi di daerah ini. saat ini hanya 9 saja yang tersisa. di kompleks candi arjuna ini ada candi arjuna, srikandi, sembadra, puntadewa, semar, gatot kaca. hmm….kalo ada yg terlewat artinya saya lupa ya. hehehehe….

relief salah satu candi di kompleks candi arjuna

candi arjuna

mungkin karena sudah tua, candi ini keadaannya paling mengenaskan. reliefnya sudah banyak yang kabur. bukan…bukan itu relief hidup terus ngabur gitu. maksudnya sudah banyak yang tidak berbentuk lagi. dan di bangunan candi semacam banyak ruang atau panel kosong. mungkin sih dulunya diisi arca ya. tapi tentu saja sekarang arcanya entah kemana. oya…candi ini candi hindu ya. karena itu nama-nama candi diangkat dari kisah epic mahabharata yang sangat kental di budaya hindu.

#orjodi at candi arjuna

me at candi arjuna

candi ini sudah dikelola cukup baik. itu menjelaskan kenapa area ini bersih dan terawat. hanya saja udara dingin rasanya membuat batu-batu candi serasa lembab dan beberapa bagian sedikit berlumut. yah….ini sih faktor alam ya. tapi overall…..sangat mempesona. apalagi di sekitarnya sangat hijau dengan tanaman sayuran dan binatang-binatang ternak gemuk yang sedang merumput. nah….kebayang dunk mengapa tempat ini dinamanya dieng yang kabarnya diambil dari 2 kata: di yang artinya tempat atau gunung dan dhyang yang artinya dewa. jadi di daerah ini memang tempatnya para dewa. disini ketenangan yang mahal di ibukota jadi barang murah meriah.

di pelataran parkir, kami tergerak untuk berhenti di sebuah kios. si ibu pedagang menawarkan sekotak purwaceng. ini adalah ramuan herbal asli dieng yang kabarnya mengandung banyak zat baik untuk menambah hormon baik laki-laki atau perempuan. dan si ibu memberitahu bahwa untuk laki-laki biasanya purwaceng lebih digemari. #eeaa … biar ‘ceng’ gitu, katanya. ramuan herbal ini bisa diseduh lalu ditambahkan gula atau madu dan diminum dalam keadaan hangat. dijamin mengembalikan stamina yang rontok, menambah hormon dan bisa tahan sampai pagi. #halah :p

kawah sikidang

dari candi arjuna, dalam perjalanan keluar daerah dieng, kami mampir ke kawah sikidang. gak ada yang terlalu istimewa sih. mungkin bagi yang sudah pernah ke kawan tangkuban perahu, ciwidey atau kawah bromo, tentu kawah kecil ini tidak ada apa-apanya. tapi toh tidak rugi juga kalau dikunjungi toh. bau belerang sudah tercium sejak kami berhenti di pelataran parkirnya. beberapa dari kami ingin mendekat. sementara saya dan sisanya malah nongkrong di warung wedang ronde sekedar untuk menghangatkan badan dengan yang hangat-hangat. hehehehe…..

perjalanan ke jogja kami tempuh dengan santai tapi terarah. sempat berhenti di daerah magelang untuk lagi-lagi late lunch. lalu dari sana, saya yang berganti menyetir mobil menuju kraton ratu boko. letaknya ke arah solo. dari jogja sendiri sekitar 1 jam. sampai disana kira-kira jam 4 sore. mendung. ah….rupanya mendung sering sekali mengikuti kami 3 hari ini. dan sering sekali menggangu keasikan saya menikmati alam, termasuk ketika saya berkunjung ke pulau belitung beberapa bulan lalu.

reruntuhan gerbang ratu boko

me at ratu boko

keputren ratu boko

#orjodi at ratu boko

kompleks ratu boko itu terletak di bukit. dipercaya reruntuhan di kompleks ini adalah bekas sebuah kraton. karena ada gerbang, pemandian bahkan pagar pelindung. lebih mirip kraton memang dibanding candi-candi yang memang bersifat religius sebagai tempat pemujaan. berdiri di tengah2 lapangan hijau nan luas sambil memandangi sekeliling reruntuhan, sungguh kita bisa membayangkan betapa megahnya kraton ini pada masanya. betapa sibuknya para abdi dalem lalu lalang dan putri-putri kraton yang sibuk menyulam atau merangkai bunga di keputren. wah….kejayaan masa lalu nan magis sekaligus erotis. hihihihih…..

selamat datang 🙂

kolam pemandian ratu boko

gunung merapi dalam pelukan awan

sore ini sampai matahari perlahan turun kami habiskan disana. dari tebing di ratu boko, bila cuaca cerah kita bisa melihat kemegahan dan kegagahan gunung merapi dan candi prambanan di kejauhan. sayangnya karena mendung yang kita lihat hanya gunung merapi yang terselimuti pelukan awan.

kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke jogja. sesampai di jogja, kami ngebut mandi karena ingin segera menjajaki jalan malioboro. yah….tugas kenegaraan bagi saya. mama saya yang cantik itu ingin dibawakan sisir dari gading alias sirkam. hihihih….

dan kami pun menjelajah malioboro dari pertigaan sosrowijayan sampai depan pasar beringharjo. sirkam pun belum ditemukan. darn!! lapar yang meraja ingin diberi sesajian. maka makan malamlah kami. saat makan malam saya teleponan dengan mas wahyu, kenalan lama yang saya kenal dari sebuah forum tulis menulis, kalo gak salah. kalo salah ya artinya saya sudah lupa. hehehehe. kami berjanji untuk nongkrong minum kopi joss di dekat stasiun tugu.

kami bertemu di muka jalan sosrowijayan. ketika saya bilang tugas kenegaraan saya belum rampung, mas wahyu pun membantu saya keluar masuk toko mencari itu sisir. dan akhirnya ketemu juga, setelah 2 toko di masuki.

kami lalu berbincang tentang filosofi, seni, passion, budaya dan banyak lagi di angkringan kopi joss itu. bagi yang belum tahu kopi joss adalah kopi yang didalamnya dicelupkan arang. hmm….agak aneh sih. jujur, saya hanya peminum kopi. bukan penikmat kopi. jadi toh tidak merasakan perbedaan apa-apa sama sekali.

sementara saya ngopi joss, keempat rekan perjalanan saya melakukan petualangan malam sendiri. malam itu pun kami akhiri dengan tergelepar kelelahan.

Advertisements