Jejak #Orjodi di DIY dan Jateng: Day 2


pada hari kedua kami yang tadinya berempat kedatangan bintang tamu yang sekaligus bertugas sebagai seksi dokumentasi. hihihih……gila! :p

jadilah kami kini berlima. macam kisah petualangan lima sekawan karya enid blyton aja. tujuan kami hari ini adalah candi borobudur dan langsung terus ke dataran tinggi dieng yang bersejarah sekaligus misterius itu.

tentu saja, seperti sudah diduga kami pun mulai perjalanan dengan tidak pagi-pagi amat. maklum….hawa liburan membuat ingin tidur lebih lama meski cuma lebih lama 10 menitan. kami mengawali perjalanan kira-kira jam 8:30. langsung tancap gas menuju magelang.

candi mendut

sebelum mencapai candi borobudur, kami mampir ke candi mendut. candi ini gampang ditemui karena lokasinya yang persis di pinggir jalan. tanpa perlu masuk pun kita sudah bisa berfoto disana. tapi toh kami ingin masuk dan melihat lebih dekat candi budha ini.

candi mendut adalah candi tunggal. alias di sekeliling dekatnya gak ada candi lain. tapi menurut beberapa peneliti kabarnya candi borobudur, mendut dan pawon berada pada garis yang sejajar. entahlah….coba cari peta dan lihat sendiri. yang jelas diantara ketiganya candi mendut adalah yang tertua yang dibangun pada masa pemerintahan sailendra juga.

#orjodi at candi mendut

patung budha di candi mendut

relief candi mendut

di ruangannya terdapat 3 patung bodhisatva. di kiri, kanan dan tengah. yang paling besar yang di tengah. altarnya sampai saat ini masih digunakan untuk menaruh dupa dan persembahan. di sekeliling candi terdapat relief2 khas budha.

tak ingin menghabiskan waktu disana. kami langsung tancap gas lagi ke borobudur. yah….candi budha terbesar di dunia ini masih saja megah. sejak dijadikan salah satu bagian dari world heritage sites, tentu pengelolaannya semakin baik dan terawat. bersih dan rapih.

candi borobudur

candi ini ditemukan dalam keadaan mengenaskan oleh raffles pada masa pemerintahannya di tahun 1800an. lalu kemudian di restorasi perlahan. raffles ini perlu diacungi jempol. ketertarikannya pada sejarah jawa menjadikan kita mengenal monumen2 sejarah berharga ini. bravo om raffles!!

candi borobudur

kamadhatu

di bagian bawah candi ini disebut kamadhatu kabarnya mengandung relief2 yang sangat vulgar dan apa adanya. relief pada tingkatan kamadhatu pada dasarnya bercerita tentang hasrat. ya mungkin saking vulgarnya, tingkatan ini ditutup lagi dengan batu, hingga hanya seperti yang sekarang kita ketahui saja. padahal saya penasaran bukan kepalang ingin tahu apa saja sih yang diceritakan oleh nenek moyang kita yang jenius ini.

me among the relief of candi borobudur

tiap tingkatan dari candi mengandung filosofi tersendiri. ya filosofi budha tentu saja. relief2 banyak bercerita tentang kehidupan sidharta gautama dari lahir sampai moksha. juga banyak bercerita tentang kejayaan masa lampau. termasuk relief yang membuktikan bahwa nenek moyang kita memang seorang pelaut dengan adanya relief kapal layar. hehehehe…..

relief

relief

selain itu juga ada stupa atau bentuk semacam lonceng di tingkatan tinggi dari candi. ada yang berisi patung budha berbagai posisi ada yang kosongan. patung budha-nya pun posisinya macam-macam. dan tiap posisi mengandung arti. untuk lengkapnya mari baca kembali buku-buku sejaran tentang borobudur dan temukan betapa menariknya.

stupas

stupa

gak ada itu mitos yang bilang bahwa batu2 besar borobudur direkatkan satu sama lain dengan putih telur. karena bisa dilihat sendiri bahwa batu2 itu disusun dengan menggunakan sistem semacam lego. alias mengikat satu sama lain. makanya sampai berabad berlalu masih kokoh saling tersangkut satu sama lain.

me as backpacker

gempa jogja dan letusan merapi sempat mengakibatkan kerusakan pada candi. tapi toh….pelan-pelan candi itu terus direstorasi. sejujurnya saya sangat berterimakasih pada orang-orang belanda jaman dahulu yang membantu merestorasi dan mengkonservasi candi ini. meski tidak sama seperti sedia kala, tapi toh kita bisa menikmati hasil kerja keras mereka. lalu kini tugas kita untuk terus menjaganya bukan?

perjalanan kami lanjutkan dengan ngebut ke dataran tinggi dieng. yup…perjalanan yang jauh dan memakan waktu kira-kira 3 jam. lelah memang tapi toh kami sudah niat untuk berpetualang.

kami tiba di dataran tinggi dieng kira-kira jam 4 sore. angin sangat kencang, kabut mulai turun dari pegunungan di kanan dan kiri, gunung sundoro dan gunung sumbing. dan dingin pun menyerang sampai ke tulang-tulang.

gunung sumbing on the background - way to dieng

plang telaga warna

#orjodi at telaga warna

telaga warna dieng

gua jaran

pemberhentian pertama adalah telaga warna. ah, andai saja ketika kami datang matahari masih gahar bersinar. kabarnya warna air di telaga ini bisa berwarna-warni. dari semu biru dan hijau terang. tapi karena hari ini sudah sore dan mendung, hanya warna hijau gelao dan kelabu yang kami lihat. indah memang. ada semacam daya tarik mistis ditawarkan. di sekitar telaga warna ada gua dan tempat persembahyangan yang sampai sekarang masih digunakan untuk menjalani berbagai ritual. dalam mendung dan angin kencang itu tentu membuat bulu kuduk kami semakin bergidik. ngeri tapi penasaran.

dari telaga warna kami lanjut mencari penginapan yang sudah diatur. tapi sempat nyasar. tentu sajalah. wong motto perjalanan adalah “let’s get lost” persis seperti acara2 traveling natgeo :p.

#orjodi at dieng amphitheater

nyasarnya kami membawa melewati dieng plateau amphitheater. di sini kabarnya diputar film2 yang menceritakan sejarah dataran tinggi dieng dan memiliki beberapa dokumentasi tentang tempat ini.

hari semakin gelap, angin pun semakin jahat. rasanya ingin sekali kami belima berpelukan saja. biar hangat. tapi ya gak bisa, secara yang satu harus setir mobil dan lainnya harus perhatikan jalan supaya penginapan tidak terlewat.

benar saja…dekat jam 6 gelap semakin pekat. yup….rupanya mati listrik di daerah dieng ini serentak. hanya beberapa bangunan yang menyala lampunya. rasanya jelas mereka pake genset. di pinggir jalan, ibu narti, pemilik penginapan menyapa kami yang sedang menyetir pelan sambil memperhatikan jalan. ah…rasanya lega ketika ibu narti mengenali kami.

kami pun diajak masuk ke rumah mungil bernama bougenville homestay itu. di lantai 2 rumah itu kami diberi kamar. kamarnya kecil tapi rapih dan bersih. kasurnya berseprai baru, kamar mandinya kecil tapi bersih sangat. saat itu hanya rombongan kami berlima yang menginap disana.

meski mati listrik, ibu narti tidak kehilangan akal untuk membuat kami nyaman. ia menyeduh kopi panas untuk kami dan menyiapkan air panas untuk sekedar membasuh muka dan menyegarkan diri. yah….sambil minum kopi, makan snack kami pun membuang waktu sambil main kartu.

ketika lapar datang, ibu narti mengantar kami ke warung sodaranya. kami pun memesan makan seadanya. ayam goreng lalapan dan mie rebus. sayang sekali…karena mati listrik yang kabarnya sudah berlangsung 3 malam itu kami tidak jadi menikmati mie ongklok yang khas dieng karena si ibu pemilik warung tidak bisa memasak yang susah-susah.

tapi syukur alhamdullilah…..selepas makan malam dan bermain kartu beberapa putaran, listrik pun menyala kembali. sisa malam kami habisi dengan tertawa, bercanda dan main kartu. lalu beristirahat di kehangatan selimut.

tapi jujur….saya yang pernah ke dieng beberapa tahun lalu pun tak menyangka bahwa dinginnya akan sampai sebegitunya. sebagian dari kami pun tidur semacam balok. tidak bergerak sama sekali. sampai pagi.

Advertisements