Jejak #Orjodi di DIY dan Jateng: Day 1


“pulang ke kotamu ada setangkup haru dalam rindu”

seperti lagu Kla Project yang hits itu, rasanya sudah lama ingin sekali kembali ke Jogja. ada rasa rindu untuk keluar dari ibukota yang hiruk pikuk dan mendatangi jejak-jejak masa lalu di kota itu.

bersama 4 orang teman dari komunitas fiksimini, saya pun merencanakan perjalanan ini bahkan dari sebulan sebelumnya. rute kami sederhana. Jogja – Dieng – Jogja. itu saja. entah cukup waktu atau tidak untuk menikmati dan menapaki ulang jejak masa lalu itu, tapi toh kami coba saja.

Bergaya di airport

perjalanan di awali dengan naik pesawat terbang. dari jakarta, kami memilih penerbangan middle, alias yang gak pagi-pagi amat. maklum…hawa liburan biasanya bikin saya susah bangun pagi. ah…tiap hari juga sudah susah bangun pagi. itu mah terpaksa aja karena memang harus kerja.

penerbangan dari jakarta yang hanya 1 jam perjalanan itu berjalan lancar jaya. meski yah…waktu di angkasa kami sempat di permainkan awan sampai agak deg-degan sedikit. tapi toh mendarat baik di adi sucipto.

sewa mobil sudah diatur sejak awal. di parkiran kami bertemu pak mulyadi yang mengantarkan xenia hitam sewaan untuk kami. ih, ngeri…kalo mbayangin ini xenia hita, pencabut nyawa yang sedang jadi perbincangan di jakarta itu. hihihih….

kakak wira, kami daulat jadi pengemudi selama perjalanan ini. maaf ya, kak….abis situ kan laki-laki gitu :p. dari airport kami sudah kelaparan. iyalah…sudah tengah hari, saatnya makan siang. sebelum check in penginapan dan sekedar menaruh barang, kami mampir makan siang terlebih dahulu.

sampai di penginapan di jalan sosrowijayan yang hanya 50 meter dari jalan malioboro, kami bergerak cepat saja. taruh barang lalu kembali ke mobil. dengan harapan bisa menghabiskan waktu sampai sunset di kompleks candi prambanan yang jaraknya lumayan ke arah kota solo.

sebetulnya tidak jauh, kira-kira 1 jam kami sudah sampai disana. lalu perlahan menapaki jejak-jejak kebesaran masa lalu agama hindu di kompleks candi itu.

Prambanan

#Orjodi di Prambanan

candi prambanan juga dikenal dengan nama candi loro jongrang yang dikenal dengan legenda loro jongrang dan bandung bondowoso serta legenda seribu candi itu. dalam legenda itu dikabarkan bahwa si loro jongrang yang cantik jelita itu meminta bandung bondowoso membangun 1000 candi dalam satu malam bila ingin menikahinya. dan bandung bondowoso yang sakti memerintahkan pasukan jin dan makhluk halus untuk menjalankan tugasnya itu. ketika fajar akan tiba, bandung bondowoso dan pasukan makhluk halusnya hampir selesai membangun 1000 candi. 999 candi sudah berhasil terbangun. loro jongrang yang deg-degan dan tak ingin bandung berhasil meminta masyarakat desa memulai aktivitas pagi mereka lebih awal dengan maksud mengelabui makhluk2 halus itu dan membuat mereka berhenti dan pergi. caranya itu berhasil.  dan bandung serta pasukan makhluk halus panik.     makhluk halusnya kabur karena takut pada fajar dan matahari yang akan segera muncul. bandung bondowoso yang panik dan sadar bahwa ia di kelabui langsung marah besar. dan karena dia sakti ya dia bisa mengutuk loro jongrang menjadi candi ke 1000. di kompleks candi prambanan ini, candi loro jongrang ini yang terbesar. posisinya tepat di tengah.

Prambanan

candi prambanan adalah candi hindu terbesar di indonesia. sampai saat ini masih digunakan untuk upacara-upacara besar agama hindu. candi ini dikabarnya di bangun oleh rakai pikatan dari dinasti hindu sanjaya. ditemukan tahun 1880an oleh raffles secara tidak sengaja lalu mulai di restorasi perlahan, sampai saat ini. ketika gempa di jogja tahun 2006, candi ini juga mengalami beberapa kerusakan. untunglah, candi sudah menjadi bagian dari keluarga world heritage sites PBB. jadi ya setidaknya gak perlu mengandalkan dana dari pemerintah pusat untuk urusan restorasi dan konservasi. karena akan sangat disayangkan bila peninggalan masa lalu berharga ini dibiarkan tak terurus dan rusak.

Prambanan

Salah Satu Relief di Prambanan

seperti candi hindu lainnya, relief2 dan patung2 di candi ini mengisahkan cerita ramayana. ya..cerita ramayana sangat dekat dengan agama hindu. patung2 dan relief2 juga adalah penggambaran dari dewa-dewa seperti wishnu, shiva, durga, brahma. dewa-dewa hindu yang tertinggi. di dalam salah satu candi, saya lupa yang mana, ada patung besar berbentuk sapi atau lembu yang disebut nandi, kendaraan dewa shiva. ini cukup menjelaskan ya kenapa di agama hindu tidak dibolehkan memakan sapi karena dianggap suci. untuk cerita lengkap soal prambanan silakan anda google atau baca sendiri di buku-buku yang sudah ada. saya hanya bercerita apa yang saya lihat dan saya jejaki.

Candi Sewu

di dekat candi prambanan, dengan menumpang kereta-keretaan, kami mengunjungi candi sewu. berbeda dengan candi prambanan, candi ini candi budha. jauh lebih tua lagi justru dari prambanan. dari bentuk bangunannya jelas bisa dilihat bahwa ini candi budha. ada stupa-stupa kecil tersebar di mana-mana. ada beberapa patung budha juga. keadaannya lebih parah. maksudnya sudah lebih banyak mengalami kerusakan gitu. sampai beberapa bangunan candi kecil tidak lagi terlihat bentuknya. hanya bekas-bekas bentuk saja. tapi bila kita bayangkan betapa luar biasa bangunan ini dulu, sungguh kita pasti tetap terpukau.

Candi Sewu

jujur, saya penggemar serial ancient aliens di history channel. tak satu episode pun saya lewatkan. di serial tersebut banyak teori-teori makhluk pengunjung dari galaksi yang datang ke bumi dan memberi nenek moyang manusia pengetahuan dalam astronomi, arsitektur, budaya dan bahkan matematika. dan dari sana saya berpikir, mungkin makhluk dari galaksi nun jauh disana pun pernah datang ke indonesia dan membagi sedikit pengetahuan mereka hingga nenek moyang kita bisa membangun bangunan megah macam candi-candi ini. padahal mengingat jamannya rasanya mereka tidak cukup pandai untuk menumpuk batu sampai tinggi dan menjadi sebuah bangunan megah ini. inilah salah satu alasan saya ingin ke jogja. sekedar untuk kembali melihat dengan mata kepala sendiri kemegahan masa lampau itu. sambil mengamati dekat relief-relief penuh simbol itu di batu-batuan candi yang tertumpuk tinggi dengan teknik yang mutakhir untuk jaman itu.

Sakti :p

kalau saja ada mesin waktu, saya ingin pergi ke jaman ini dan menyaksikan sendiri betapa ahlinya dan betapa pandainya nenek moyang kita itu. candi bukan hanya peninggalan sejara keagamaan karena dibangun sebagai tempat pemujaan agama, tapi juga semacam pertanda kebesaran sebuah dinasti. semacam pencapaian prestisius dari keberhasilan sebuah dinasti pemerintahan.

bersama kawan-kawan fiksimini jogja

kunjungan kami ke prambanan di akhiri menjelang senja. lalu kami kembali ke jogja. beristirahat dan bersih-bersih sejenak di penginapan. lalu kembali berjalan-jalan. kali ini untuk berkumpul dengan teman-teman dari komunitas fiksimini jogja. jujur…saya ada fiksiminiers yang paling gak aktif kali. hahahaha…..udah jarang nulis fiksimini, cuma pernah sekali di rituit dan lalu sekarang kehilangan selera sama sekali. tapi toh rekan-rekan seperjalanan saya ini adalah orang-orang yang aktif luar biasa. sampai kadang saya cuma geleng2 kepala melihat betapa nafas-nafas kreatif mereka tak pernah tersendat seperti saya.

#Orjodi di lesehan

setelah acara kumpul sambil makan malam itu, kami malah pengen makan lagi. sambil perjalanan balik ke penginapan, kami mampir ke warung lesehan gudeg di depan pasar beringharjo sambil mengamati sepinya malioboro di malam jum’at itu. ya iyalah…malam jum’at gitu lho. ya pantes aja sepi toh. tapi tetep ya….jauh beda sama ibukota. di kota kecil seperti jogja, malam mungkin diakhiri pada tengah malam. sementara di ibukota, malam tidak pernah berhenti sampai jelang fajar. maksudnya…malamnya panjang sekali sampai macetnya pun tak kenal henti. yah…gitulah kira-kira ya.

Malioboro yang sepi di malam hari

dan malam itu kami akhiri dengan tidur di penginapan dalam keadaan perut kenyang. dengan harapan bahwa besok bisa memulai perjalanan lebih pagi lagi.

Advertisements