Escape to Belitung – Day 3


Day 3 – 30 September 2011

Hari ini kami memutuskan tidak jadi ke daerah Manggar. Karena setelah cek ricek dan melihat kondisi perjalanan 2 hari kemarin, rasanya daerah itu terlalu jauh untuk ditempuh dengan naek motor. Karena kalo naek mobil namanya bukan lagi backpacking donk. Hehehehe…..Lagipula selain lokasi film, pantainya kurang lebih hampir sama dengan di barat dan utara yang sudah kami kunjungi.

Yang gw pengen lihat itu Kawah Kaolin, yang katanya lubang besar di bumi bekas lokasi penambangan kaolin yang akhirnya menyerupai kawah danau dengan air yang warna-warni. Sayangnya informasi tentang tempat ini tidak banyak. Dan jujur…bahkan waktu kita tanya orang lokal selama perjalanan soal arah tempat bekas penambangan ini, gak ada satu pun yang tahu. Sial!! Ya…inilah namanya backpacking. Gak seperti yg sudah diatur oleh travel agent, kami harus pintar2 atur arah tujuan dan pintar2 cari informasi sendiri.

Jadi akhirnya kami memutuskan untuk ke Air Terjun Gurok Beraye di daerah Badau, agak ke tengah dari Pulau Belitung. Salah satu maksudnya adalah agar perjalanan kami lengkap, ada pantai, ada pegunungan. Untungnya beberapa orang yang kita tanyai arah lumayan paham jalan kesana. Tapi sumpah!! Perjalanan ke lokasi tepatnya butuh perjuangan berat. Hahahaha…..

Perjalanan sebelum menanjak di Gunung Tajam...

Bayangkan…kami musti naik ke gunung dengan dikelilingi hutan dan tebing-tebing. Hueks…. *mual* dan parahnya lagi di sebuah persimpangan di hutan itu, kami salah pilih jalan. Bukannya turun ke daerah air terjun malah naek sampe puncaknya. Kalo liat di foto diatas gak bakal nyangka betapa perjuangannya kami sampai ke atas. Tanjakan tajam nyaris 45 derajat. Turunan parah curam. Mengerikan. Apalagi di tambah sama suara hutan yang khas. Entah ada binatang apa aja sekitar kami. Yang gw yakin sih gak bakal ada macan. Hehehehehe….

Di puncak ternyata ada stasiun relay televisi yang sudah ditinggalkan menjulang tinggi ke angkasa. Dari atas sini lumayan indah. Mungkin kalo cuaca cerah tanpa awan di langit, bisa terlihat garis pantai. Sayang…lagi-lagi hari itu kurang baik cuacanya. Awan di atas langit berjibun.

Stasiun relay televisi yang sudah ditinggalkan, di puncak Gunung Tajam

Pemandangan surga dari atas ketinggian Gunung Tajam

Kalo diperhatikan di kejauhan bisa lihat garis pantai lho...

Setelah istirahat sebentar di puncak, kami pun turun lagi. Kembali ke persimpang tadi supaya ambil jalan satunya. Benar saja…itu jalannya. Meski agak naek turun gunung sedikit, akhirnya kami ketemu juga itu air terjun. Well….air terjun kecil sih. Mungkin kalo di Jawa disebutnya curug, bukan air terjun. Airnya berwarna hijau bening dengan banyak ikan bertubuh garis-garis berenang bebas. Sepertinya di sini dulunya adalah semacam tempat pemandian. Soalnya kelihatan bangkai bangunan kolam dan ruang ganti. Mungkin jaman Belanda kali ya….tau deh. Yang jelas, sekarang tinggal bangkainya saja.

Gurok Beraye, Belitung

Berpose di Gurok Beraye

Kami menghabiskan waktu sekitar 1 jam disana. Bengong. Hahahahaha……abis tenang dan membius. Ditemani sepoi pepohonan dan suara binatang hutan bersahut-sahutan. Untung sih pas nyasar gak ketemu binatang aneh-aneh. Cuma adek gw sempet liat ada biawak aja melintas diantara semak-semak.

Sebelum jalan pulang, perasaan gw udah gak enak. Soalnya langit makin mendung dan awan hitam makin banyak. Benar aje…..di ¾ perjalanan hujan runtuh dengan deras. Hampir kami basah kuyup-kuyup. Untung ketemu semacan saung kecil. Semacam warung yang ditinggalkan gtu. Lalu berteduhlah kami di tengah hutan, in the middle of nowhere and in the pouring rain. Hiks….pengen nangis kayaknya. Mana baterai BB tinggal 2 bar. Kalo sampe itu ujan seharian, kita pasti susah pulang. Dan yang paling gw khawatirkan adalah kalo-kalo awannya makin gelap. Maklum…di hutan.

Sumpah!! Ini hujan turun deras luar biasa...

Berteduh di gubug usang dengan was was

Tapi Alhamdullilah lagi….hujan pun mereda setelah setangah jam dan kami pun segera lanjut. Begitu keluar liat jalan besar, rasanya lega banget. Kecemasan pun lenyap sudah. Sudah ada kehidupan. Hehehehehe…… tapi ternyata perjalanan kembali ke Tanjung Pandan diperlambat lagi oleh hujan. Kami sampai berteduh 2 kali sepanjang jalan. Dan di salah satu jalan yang sepi kami melihat sekawanan monyet, mungkin kalo di daerah Sumatra disebut siamang, yang bergerombol menyebrang jalan. Karena kami dan ada motor lain tiba-tiba mau lewat, mereka bubar dan meninggalkan seekor temannya di sisi yang tertinggal. Sayang…gak sempet di foto karena masih gerimis.

Sampai di kota Tanjung Pandan pun masih agak mendung, tapi tidak hujan. Karena kami salah perhitungan, maka makan siang pun tadi tertunda. Alhasil, kami putuskan ke Tanjung Pendam, untuk makan siang yang tertunda dan menunggu sunset. Dalam perjalanan menuju Tanjung Pendam, kami berkeliling kota sebentar. Melewati beberapa gedung tua peninggalan jaman Belanda dan bangunan menarik lainnya.

Rumah Kapiten, Tanjung Pandan

Bekas Lembaga Permasyarakatan Tanjung Pandan

Rumah Adat Belitung

Btw, Tanjung Pendam itu spot yang pas untuk sunset. Tapi ya lagi-lagi….karena hujan di bagian lain pulau, langit ya mendung. Hiks…pengen nangis rasanya. Udah 3 hari gak nemu juga itu sunset. Matahari-nya ngumpet mulu…

Pasir Pantai Tanjung Pendam

Sunset at Tanjung Pendam

Me & Sunset at Tanjung Pendam, Belitung

Meski mendung kami pun mendekat ke garis pantai Tanjung Pendam setelah makan. Dan nongkrong di sana sampai mulai gelap. Lalu putar arah sebentar ke arah pusat kota untuk mencari sedikit oleh-oleh. Setelahnya, karena masih kenyang, kami langsung balik ke hotel dan istirahat. Rencananya, kalo Tuhan ijinkan, besok kami mau mengejar momen sunrise di Tanjung Tinggi.

Advertisements