Escape to Belitung – Prelude & Day 1


Ya…7 bulanan sudah gw kembali ke ibukota. Kembali menikmati kemacetan tiada kenal waktu, kepadatan yang luar biasa, polusi dan panas yg bikin muka cemongan kemana-mana dan semua kepenatan lainnya.

Rencana untuk escape sebentar dari ibukota sudah gw rencanakan sejak gw kembali. Belitung adalah tujuannya. Dan bukan..bukan karena film hits Laskar Pelangi itu gw ingin kesini. Tapi memang karena dari banyak informasi, pulau ini punya keindahan pantai yang beda dari Bali. Well…gw tinggal di Bali ampir 5 tahun, tiap wiken liat pantai. Jadi udah terlalu biasa, kurang greget lagi.

Nah…Belitung ini katanya kan hits. Jadi kapan lagi kesini…mumpung masih asli belum terpolusi pembangunan berlebih seperti Bali. Well…maaf ya. Bali is also like a home to me. Tapi daerah pantai selatannya sudah over developed. Jadi gak seindah yang dulu lagi. Banyak yg tahun 2011 ini gak seindah 2006, ketika gw pertama mendarat merantau disana.

So…bersama adek gw dan temennya, kita planning semuanya dari kurang lebih 1 bulan sebelum keberangkatan. Waktu itu ada promo tiket harga murah dengan buy 1 get 2. Sayangnya, hanya adek gw dan temennya yg nikmatin promo ini. Gw tetep pake harga biasa karena cuma traveling solo. Tapi gpp….toh hanya beda sedikit aja. Pengeluaran terbesar tentu di akomodasi krn gak ada teman sharing.

Akhirnya seminggu sebelum, persiapan kami sudah mantap. Tiket di tangan, hotel di booking dan di down payment. Tinggal bawa backpack sama uang jajan aja.

Day 1 – 28 September 2011

Karena kami bertiga gak terlalu suka bangun pagi buta, maka penerbangan yang dipilih adalah yang middle. Yaitu jam 10:00 pagi dari Jakarta ke Tanjung Pandan dengan Sriwijaya Air. Untuk ke Belitung, hanya ada 2 maskapai saja. Sriwijaya Air dan Batavia Air. Keduanya berangkat tiap hari kok, kalo gak salah 2 kali penerbangan bolak-balik. Oya…itu promo buy 1 get 2 masih sampe pertengahan tahun depan lho. Jadi mudah-mudahan tahun 2012 sebelum pertengahan gw bisa traveling lagi deh.

Anyway…dari rumah, kita ke terminal Rawamangun untuk naik damri langsung ke airport Soetta. Pagi itu kita jalan jam 06:45 pagi dari rumah. Jarak cuma 15 menit saja langsung sampe terminal. Nunggu dikit, kira-kira jam 07:30 pagi, damri berangkat sudah. Seperti biasa harga masih Rp 20,000 per orang. Dan seperti biasa juga, bus damri masih nyaman dan bersih.

Perjalanan ke airport Soetta relatif lancar. Bebas macet. Padahal sempet khawatir juga krn flight jam tanggung dan masih terhitung pagi berangkatnya. Takut amprokan sama orang yg berangkat kerja. Tapi ternyata jam 8:15 kita udah sampe di Terminal 1B – airport Soetta. Lalu langsung ke check-in counter. Check-in lounge cukup ramai. Maklum….Terminal 1 Soetta kan emang lebih mirip terminal bus. Tapi proses check-in sangat lancar. Ya karena kita bertiga cuma bawa backpack aja….gak pake bagasi-bagasian deh.

Sambil menunggu sebelum boarding, kita ngemper di dekat gate B4. Gak lama juga nunggu. Jam 9:15 pagi udah dipanggil masuk ke boarding lounge.  Nah….adek gw sama temennya mampir dulu ke toilet, sementara orang-orang mulai antri masuk ke pintu terakhir untuk keluar menuju pesawat. Tunggu punya tunggu, adek gw sama temennya belum muncul sama si mas-mas yang memeriksa boarding pass mulai mau tutup pintu keluar. Wah…teriak langsung gw. Minta mas-masnya nunggu sebentar jgn ditutup dulu itu pintu. Hahahahaha…..padahal baru sehari sebelum gw baca maskapai yang doyan delay itu lagi menggugat penumpang karena udah bikin penerbangan terlambat. Untung gak lama setelah gw ngomong sama si mas-mas, adek gw sama temennya muncul. Langsung kita gerak cepat. Agak berlari sedikit sampai ke antrian pintu pesawat. Huh….. *lega*

Ternyata setelah masuk antrian, tiba-tiba ada seorang bapak dan seorang ibu yang baru muncul dan langsung antri belakang kami. Jiahhhh….ternyata ada yang lebih telat. Hehehehe….

Sebelum take off, flight attendat membagikan snack box. Ternyata Sriwijaya Air masih ngasih snack box ya?! Hebat! Soalnya setau gw, yg masih ngasih snack box itu cuma Garuda sama Batavia Air aja. Kalo Garuda udah pasti lah ya. Kalo Batavia Air sih sebenernya cuma segelas air mineral aja. But still….maskapai lain udah gak ngasih apa-apa sama sekali lho. Biasanya ini dimaksudkan agar penumpang nanti beli in-flight meal aja. Which is mahal. Pastinya ini dimaksudkan untuk menambah profit dari satu penerbangan. Wajar ajalah…

Snack Box di flight SJ, before take off from Soetta

Space kaki yang memadai di maskapai SJ

Ok…jam 9:45, pesawat kami mulai ancang-ancang untuk take off. Lalu tak lama take off dengan sempurna. Menembus awan Jakarta sampai jauh ke angkasa. Sampai di sekeliling kami hanyalah gugusan awan. Anyway, maskapai Sriwijaya Air ini masih nyaman lho. Lihat space kakinya yang cukup luas. Gak pake acara adu-aduan dengkul kayak maskapai yang hobi delay itu.

Penerbangan termasuk cepat. Hanya kurang lebih 1 jam saja di udara. Jam 10:45, pesawat landing di Bandara  HAS. Hanandjoeddin atau TJQ di Tanjung Pandan. Sempat foto-foto bentar di sign airport. Hehehehe….trus langsung ngacir keluar dengan lancar. Airportnya kecil euy…jd lenggang kangkung abis. Sayangnya karena agak kecepatan, driver dari hotel yang jemput kita belum sampai. Emang karena gw info ke mereka supaya jemput jam 11:00 sesuai dengan skedul di tiket. Terus kami nunggu sebentar di depan gedung airport.

Me, Jack & My Bro, Andi - right after arriving at TJQ Airport

Kira-kira 10 menitan tiba2 mobil apv berhenti di depan kami dan nyebut nama gw. Nah!! Datang sudah jemputan kita nih….langsung angkut barang ke dalam mobil dan mobil pun jalan keluar airport. Nama driver-nya Pak Abus dan langsung kami borbardir dengan pertanyaan seputar apa saja yang bisa dilihat di Belitung. Tadinya mau pake mobil si bapak untuk keliling pulau. Tapi harganya mahal ah. Agak gak sesuai sama budget backpacker kami. Disamping itu kami cuma bertiga, which means bisa lah sedikit menderita gtu. Hehehehe……

Jalan bypass dari airport TJQ menuju kota Tanjung Pandan

Hari ini Belitung panas. Matahari satu. Terik, panas tapi gak lembab kayak di ibukota. Percayalah…bahwa disini kita bakal item, tanned tapi tidak cemong-cemong kyk di Jakarta deh. Anginnya masih bersih. Sedikit sekali polusi. Jadi meski dijemur di matahari, gak bakal keringetan berlebih dan sampe basah ketek. Hehehehe…..

Perjalanan dari airport ke hotel kira-kira 20 menitan aja. Hotel pilihan kami adalah Hotel Pondok Impian 1. Hotel ini ada 2. Yang 1 itu yang lama, yang 2 yang baru. Bedanya cuma di kamar aja kok. Yang baru ya jelas lebih bagus lagi dan in-room facilities-nya juga lebih banyak gtu. Demi budget, kami booking kamar paling standard yang cuma 150ribu per malam. Ini sudah termasuk sama breakfast dan penjemputan airport tadi lho. Dan kebetulan waktu itu di diskon pula 10%.

Barisan kamar di Hotel Pondok Impian 1 - Tanjung Pandan, Belitung

Kamar gw selama 4 hari 3 malam di Hotel Pondok Impian 1 Tanjung Pandan, Belitung

Kamarnya cukup besar, kira-kira 5×5 meter deh. Aslinya mah kyknya muat ber 4 orang sekamar. Gede banget gini. Di dalam kamar ada tv, AC, meja tulis, lemari dan kursi. Cuma tidak ada air panas untuk mandi. Tapi di sediakan 2 botol air mineral dan amenities hotel seperti sabun, shampoo dan sikat gigi. Hmm…buat gw sih very good bargain, backpacker-budget wise.

Siang itu, kami santai sebentar sambil rapih-rapih barang. Lalu jam 1an, kami ke pusat kota. Sebagai sarana transportasi selama di Belitung, kami pilih motor aja. Dibantu sama resepsionis hotel, Ibu Mulyati, kami menyewa 2 motor. Satu untuk gw dan adek gw, satu lagi buat temennya.

Berkendara motor lewat Pantai Tanjung Pendam menuju pusat kota

Bunderan Monumen Batu Satam, kota Tanjung Pandan

Monumen Batu Satam, Tanjung Pandan

Me at Monumen Batu Satam, Tanjung Pandan

Sebetulnya waktu jalan dari airport menuju hotel, kami udah lewatin itu tengah kota, tapi begitu diatas motor bingung juga jalannya. Sampai kami menemukan bunderan monumen batu satam, lambang kota Tanjung Pandan. Bunderan ini mungkin ibarat bunderan HI di ibukota. Ada sekitar 6 cabang jalan. Dan believe it or not…gak ada traffic light. Alias masing-masih pengendara saling bergantian jalannya. Widiiiihhh…kalo di ibukota mah udah tabrak2an di tengah kali deh. Ada traffic light aja gak pernah rapih, apalagi gak ada.

Entah rejeki, motor kami langsung belok di Jalan Sriwijaya. Lokasi ini banyak disebut sebagai lokasi rumah makan Mie Belitung yang terkenal itu. Dan Alhamdullilah lagi…kami langsung ketemu. Perut lapar ini pun langsung batal mendemo. Kami pesan masing-masing 1 piring Mie Belitung, 1 es jeruk kunci dan 2 teh manis. Total cuma 38ribu aja. Which means, lumayan murah.

Penampakan Mie Belitung

Sepiring Mie Belitung di rumah makan Atep, Tanjung Pandan

Sedikit tentang Mie Belitung yang gw temukan. Di satu piring itu ada mie, udang, kentang, tahu dan emping. Kuahnya macam kuah empek-empek tapi lebih kental lagi. Rasanya perpaduan manis, pedes tapi tidak asin. Agak uniklah memang. Rasanya semacam pas aja di lidah. Dan karena kami emang udah lapar gila-gilaan, sepiring pun segera ludes tak bersisa.

Dari sana, kami putuskan untuk jalan kearah utara sedikit. Tanjung Kelayang tujuannya. Dari banyak web organizer travel ke Belitung, tempat ini seperti tidak pernah ketinggal dari itinerary. Dan kabarnya, batu-batuan besarnya juga keren. Tapi jujur, kami buta medan jalan. Karena peta yang didapat dari internet dan bahkan yang kita minta dari hotel sangat tidak memadai. Cuma peta titik aja. Tanpa peta jalan. Jadi ya…kami nekat aja. Dan gilanya lagi…di Belitung ini sangat minim marka jalan plus banyak banget persimpangan. Bingung deh loe sono!! Hehehehe…..

Alhasil tiap abis nemu persimpangan, kami pun bertanya ke penduduk yang lewat atau ada di pinggir jalan. Gak nyangka perjalanan jauh juga. Kira-kira hampir 30 km lah dari pusat kota Tanjung Pandan. Guys…bayangkan! Kami bertiga naek motor siang bolong lho. Hahahaha….langsung item legam.

Tapi lelah diperjalanan terbayar begitu mendarat di Tanjung Kelayang. Gw sebenarnya pengen banget kasih info paling akurat soal lokasi tiap tempat yang dikunjungi. Tapi maaf…karena marka jalan-pun tidak ada, maka kami bertiga sama bingungnya. Gimana mau kasih tau orang?! Wong sendiri aja bingung di jalan. Nanya jalan melulu.

Anyway….di Tanjung Kelayang banyak kapal-kapal motor. Disinilah titik mulai kalo kamu mau pergi ke pulau-pulau sekitar, seperti Pulau Burung, Pulau Lengkuas, Pulau Babi, dll. Pasirnya yang putih seperti merica halus bikin segera melompat gembira. Batu-batu besarnya berbaris tumpuk-tumpukan di pinggir pantai. Kereeeeennnn!!!

Lalu kami pun bermain air dan seperti biasa jepret sana sini deh. Hari itu agak mendung. Jadi langit agak muram. Plus ini bukanlah spot untuk sunset. Bahkan karena mendung, matahari pun lenyap sebelum waktunya ditelan awan.

Pembuatan kapal kayu di perjalanan on the way to Tanjung Kelayang

Pasir putih Tanjung Kelayang

Gugusan batu besar Tanjung Kelayang

Laguna diantara batu besar - Tanjung Kelayang

Looks like a private beach indeed... @ Tanjung Kelayang

Melompat 'kurang indah' di pasir putih @ Tanjung Kelayang

Batuan besar di Tanjung Kelayang

Terjepit di Tanjung Kelayang

My sand-written name... @ Tanjung Kelayang

Nemplok di atas batu seperti putri duyung terdampar.... @ Tanjung Kelayang

Me @ Tanjung Kelayang

Lepas sunset itu pun, setelah ngopi-ngopi di salah satu warung pinggir pantai, kami jalan balik ke hotel. Kira-kira menempuh waktu yang sama. Btw, di Tanjung Kelayang banyak sekali warung-warung yang menjual ikan bakar segar. Sayangnya waktu itu kami putuskan balik ke Tanjung Pandan tanpa sempat menikmati ikan bakar pinggir pantai. Tiba di hotel sudah jam 6:00 sore. Lalu kami istiraht sebentar dan bersih-bersih. Maklum…rambut jadi kusut gimbil karena angin dan air laut plus kulit jadi hitam dan penuh pasir. Eh, tapi ya…pasirnya itu saking halusnya mudah banget dibersihin lho. Gak bikin gatel-gatel kyk pasir lain.

Setelah rapih, kami memutuskan untuk mencari Juhi Bakar, yang katanya sebuah web soal wisata kuliner Belitung, adalah semacam sotong atau cumi-cumi bakar yang di makan dengan saus asam manis gtu. Sayangnya di web mana pun tidak ada informasi jelas soal tempat makan ini. Hanya nama jalan saja.

Sebelum berangkat ke arah kota Tanjung Pandan, kami sempet nanya sama resepsionis hotel. Eh…dianya malah bingung dimana. Rasa-rasanya warga local kurang paham tempat-tempat highlights di pulau ini. Soalnya waktu nanya arah Tanjung Kelayang aja, banyak orang local yang kurang paham dimana tepatnya. *tepok jidat*

Tapi balik lagi…kalo gak nekat ya gak nemu apa-apa. Maka malam itu, kami pun keliling nyari itu Juhi Bakar. Sampai jam 9:00 kami muter-muter, itu warung makan gak ketemu juga. Hiks…padahal perut udah berdemo. Dan dengan nistanya, kami pun mendarat di restoran ayam goreng tepung terkenal itu. Yang di Jakarta pun tersebar bak jamur di musim hujan. Hiks….hiks….

Jalan yang sepi & gelap di malam hari di Tanjung Pandan

Setelah perut kenyang, kami pun segera kembali ke hotel dan beristirahat. Karena di hari kedua kami berencana untuk keliling pulau-pulau sekitar dan ke Tanjung Tinggi.

*to be continued…

*ps: foto2 di edit sedikit dikarenakan cuaca yang mendung, jadi warna2 alaminya gak keangkat sama digital camera pocket yg gw bawa…hiks…

Advertisements