Hati Dalam Sestoples Kenangan


Pecah.

Puing-puing kaca berserakan di lantai. Lalu basah. Tercium bau anyir seketika memenuhi ruangan berukuran 4×4 meter itu.

Dia yang terduduk santai di depan televisi beranjak bangun menuju sebuah pintu. Dan selekas mungkin membukanya. Bau anyir itu menyerang hidungnya. Membuat nafasnya tercekat seketika. Muak. Mual.

Lalu segera meraba tembok mencari tombol lampu. Lampu pun menyala merah menerangi ruangan. Lalu tampak basah di lantai. Ini darah. Diantara puing-puing kaca yang berserakan. Itu sebuah jantung manusia. Teronggok, tergeletak bergelimang darah merah tua. Dan bau anyir itu pun terus berkelana keluar ruangan, memenuhi semua sudut rumah dengan kengeriannya.

Dia masih berdiri di dekat pintu. Belum siap melangkah maju. Belum siap. Tapi dia tersenyum. Senyum simpul. Penuh arti. Yang hanya dia yang tahu. Mengapa. Karena apa.

 

Gelap.

Ruangan itu gelap. Tak setitikpun cahaya disana.

Hanya suara isak tangis miris yang mengiris.

Disertai bau anyir yang sama. Sama dengan bau anyir di ruangan lain yang menyerang hidung.

Ada darah membasahi lantai. Bercampur air mata.  Banjir.

Dia terbaring meringkuk. Seperti menahan sakit teramat dalam. Teramat perih. Terlalu mengiris.

Isak tangisnya lemah. Tak bertenaga sama sekali. Bila kau tak perhatikan baik-baik, kau tak akan mendengarnya.

Mungkin dengungan nyamuk yang berputar-putar dekat telingamu lebih terdengar nyaring dari ini.

Tangisnya mungkin terlalu keras hingga hanya makhluk-makhluk bertelinga supersonik yang mendengarnya.

Perhatikan tubuh lemahnya yang tergeletak di lantai tanpa daya.

Dadanya bolong. Besar dan melompong. Kosong.

Ada yang hilang. Sebagian kesadarannya. Sebagian kewarasannya. Sebagian jantungnya.

 

Stoples kaca.

Bersusun rapih di rak-rak dari besi berukuran masiv dan menjulang tinggi memenuhi seluruh ruang kotak itu.

Tiap stoples diberinya label. Ditulis di kertas sticker warna merah muda dengan tulisan sambung yang indah. Tiap stoples ditulisi nama. Nama-nama indah.

Isinya, jangan kau tanya apa. Ada kengerian yang membuatmu merinding bila tahu isinya. Inilah mengapa ruang ini hanya dibuka sesekali saja. Tidak ada yang boleh masuk.

Di beberapa sudut tampak stoples-stoples kaca yang masih kosong. Labelnya pun masih bersih, tanpa coretan sama sekali. Entah untuk apa. Yang pasti nanti pun akan terisi. Entah kapan, tapi pasti.

 

Cinta.

Dia yang datang tiba-tiba ketika pintu hati terbuka.

Masuk dan menyusup seenaknya. Bersarang sementara.

Lalu nyaman. Lalu hangat. Lalu bahagia. Sementara.

Sampai dia memakan habis kewarasan, melumat habis pengorbanan.

Tinggalkan luka. Tinggalkan memar. Tinggalkan goresan.

Dan pintu yang terbuka pun memudahkannya mencuri hati.

Membawanya pergi. Mengoleksinya dalam stoples berlabel merah muda.

Dan yang tertinggal hanya sisa kewarasan, sisa kewajaran, sisa perih yang muskil.

 

Lalu apa jadinya tanpa jantung hati. Tanpa detak yang deras.

Tanpa hati. Tanpa jantung.

Hanya mati. Sepi. Lalu dibiarkan mati.

*sejak jatuh cinta pada lagu Jar Of Hearts, selalu kebayang adegan2 berdarah soal stoples, jantung manusia dan cinta. tapi gak pernah bener menggambarkannya…uhhh…kepingan saja 😦 *

Advertisements