Falling In Love At A Coffee Shop


Bukan kali pertama saya duduk sendirian di kedai kopi ini. Tiap-tiap hari tertentu saya selalu menyempatkan diri datang kesini. Entah karena coffee latte-nya yang pas mengawinkan kopi arabika dengan steamed milk atau karena suasananya yang sepi dan nyaman dengan sofa-sofa empuk warna warni.

Saya sudah lama datang ke kedai ini. Tempat ini cukup bersejarah. Pernah ada kalanya saya datang bersama segerombolan kawan. Kami lalu tertawa bersama sampai membahana ke seluruh kedai. Pernah pula kami menangis cecegukan karena sebuah perpisahan. Pernah ditorehkan kenangan.

Bukan hanya bersama kawan-kawan. Banyak kisah cinta pun pernah tercecer disini. Dari janji temu kangen rahasia kami sampai curi-curi kecupan diantara ramainya kedai. Ah…terlalu banyak memori.

Saya pun tetap datang kesini. Bukan hanya untuk mengenang kenangan dulu, tapi untuk menikmati suasana yang tak pernah terbeli di rumah dan di kantor. Di kedai ini saya bebas jadi diri sendiri. Bebas tidak melakukan apa-apa sama sekali. Bebas duduk berjam-jam dan menikmati bercangkir kopi tanpa ditakut-takuti akan serangan jantung mendadak karena over dosis kafein. Bebas duduk santai sambil membaca novel favorit. Bahkan bebas untuk mengatur kosa kata dalam berbagai karya sok sastra yang hanya di kedai ini inspirasinya muncul seketika.

Beberapa barista disini pun sudah hafal wajah saya dan pesanan saya. Yang kadang masih mereka tanyakan hanya apakah saya ingin coffee latte dingin atau panas. Itu saja. Sisanya mereka tak pernah bertanya apakah saya akan sendirian atau menunggu seseorang.

Kadang, dikala kedai sepi melompong, mereka pun bergantian menghampiri meja saya. Sekedar untuk bertukar cerita singkat. Meski jujur, saya yakin tidak ada satupun dari mereka mengetahui nama saya. Tahunan berlalu mereka hanya menyebut saya dengan “Mbak”.

Saya hanya datang kesini di hari Rabu. Tengah minggu. Sepi. Tidak sepadat hari Jum’at atau Sabtu yang jadi tempat janjian sebelum rendezvous malam wiken. Saya pun selalu datang diatas jam 8, seusai menuntaskan kerjaan kantor dan menembus kemacetan ibukota. Toh mereka tutup jam 12 malam, ada 4 jam untuk menikmati kesendirian. Ya…belakangan saya memang datang sendirian. Tanpa kawan, tanpa teman kencan. Duduk di sebuah sofa berwarna abu di pojok kedai.

Hari ini ada yang menggangu rutinitas. Seperti biasa ketika pintu kayu kedai saya masuki, lonceng kecil di pintu berbunyi. Salah satu barista laki-laki yang biasa saya panggil ‘jambul’ tersenyum menyambut dan menyapa ‘selamat malam’. Lalu langsung bertanya panas atau dingin. Malam itu saya ingin yang hangat. Lalu saya melihat-lihat etalase pastry di ujung counter. Sambil sedetik melirik sofa favorit di sudut. Kaget. Sofa itu ditempati seseorang. Laki-laki. Sibuk dengan laptopnya sendirian.

‘Mas Jambul, kok sofa gw di dudukin orang?’, tanyaku.
“Wah…iya,mbak. Udah dari 2 jam lalu tuh”, jawabnya sambil sibuk meracik coffee latte-ku.

Sedikit sedih. Semacam ada yang membuyarkan rutinitas nongkrong santai kedai kopi-ku.

Setelah menunjuk pada sepotong cheese cake, saya beranjak mencari posisi sofa. Kebetulan persis berseberangan dengan si ‘penjajah’ sofaku tadi. Dia melirik ke arahku ketika saya duduk. Saya lalu sibuk membuka tas dan mengeluarkan novel, buku catatan kecil, pena dan sebungkus rokok beserta korek apinya.

Tak lama si ‘jambul’ datang mengantarkan segelas coffee latte yang sudah dinanti dengan senyum super cari perhatian. Saya jawab dengan senyum balik dan kata ‘terima kasih’. Ia pun kembali ke counter depan.

Harumnya coffee latte saya begitu menggoda untuk segera dicicipi. Sambil bibirnya mencium gelas, mata seakan ditarik untuk melirik ke arah seberang sofa. Si laki-laki ‘penjajah’ tadi. Entah kenapa, mata kami bertemu di tengah. Lalu semacam reaksi kimia elektris, timbul semacam letupan sehangat tegukan coffee latte saya.

Ada yang menarik darinya. Bukan…bukan tampangnya. Lupakan saja. Saya pernah duduk bersama dengan yang lebih tampan malah. Tapi ada sesuatu lain di matanya. Semacam sebuah kesenangan tertunda bercampur kekecewaan yang dalam. Ah…mungkin dia menunggu seseorang yang belum juga datang. Tidak seperti saya yang memang sudah memutuskan untuk datang kesana sendirian.

Cukup seteguk coffee latte, saya lalu berpindah ke novel sastra yang sengaja saya beli untuk saya tuntaskan malam itu juga. Kumpulan puisi dari sastrawan favorit saya berisi puisi dan syair cinta paling menyentuh dan romantis. Saya selalu senang dengan romantisme, karena sesungguhnya saya kurang romantis.

Entah kenapa, saya merasa diperhatikan lekat-lekat olehnya dari seberang sana. Mata saya pun tak kuasa untuk balas memperhatikan. Sialnya! Tertangkap mata saya oleh senyumnya. Ada yang aneh. Senyum manis tapi juga getir. Lalu sekelebat saya liat dia memegang sebuah buku. Novel yang sama dengan yang saya pegang. Hahaha…kami menemukan persamaan. Saya pikir dia datang ke kedai hanya untuk pesan secangkir kopi, duduk berjam-jam dan menikmati koneksi internet gratis saja. Toh daritadi yang saya ingat dia hanya sibuk dengan laptopnya.

Kau tahu…kami terus berpandangan. Kaku. Lidah lalu kelu. Sekeliling pun jadi beku. Sesuatu. Entah. Lalu dalam 5 menit berpandangan yang serasa sewindu itu, dunia serasa berputar perlahan pada porosnya. Sebuah kekuatan kosmik yang membawa kami menemukan dunia kami sendiri. Dimana puisi-puisi romantis dari novel tadi bercerita tentang kami. Hari ini, kini dan nanti. Lalu dunia kami pun menjadi indah, penuh harap, penuh cinta. Ini kisah dua orang kesepian yang entah memilih atau tidak pada kesendirian. Dua orang yang bertemu dan menemukan. Dua orang yang gila.

Seakan kami sama-sama memahami kesepian dan kesendirian yang tersembunyi di balik bola mata masing-masing. Seakan kami paham kekecewaan yang bersarang dan pengharapan yang nyaris karam. Mungkin 5 menit itu, kami jatuh cinta. Entah apalah artinya. Rasanya dunia saat itu hanya berputar untuk kami saja. Aneh.

Bila ada yang bilang bahwa ketika kamu bertemu belahan jiwamu, entah bagaimana caranya kamu akan tetap tahu. Yah…mungkin itu. Atau mungkin hanya perasaan saya yang masih sok romantis dan mendramatisir semua kejadian.

Lalu waktu yang milik kami pun buyar seraya bunyi lonceng kecil di balik pintu kayu kedai yang dibuka seseorang. Tapi kedua pandangan kami masih lekat sampai kira-kira 30 detik kemudian ketika diantara kami berdiri sesosok manusia lain yang memutuskan koneksi telepati kami.

Ah…itu yang ditunggunya. Perempuan itu segera duduk di sisinya. Dan dia pun tenggelam dalam perbincangan akrab dengan si perempuan. Melupakan saya yang masih bengong mengingat 5 menit dashyat itu.

Nyaris. Nyaris saja saya merasa itu soulmate saya. Nyaris saja kita bicara cinta secara telepati. Dalam hati. Dalam dua hati.

Ah…kedai kopi. Kedai kopi itu masih yang setia menemani. Ketika saya sendiri, dia masih menanti untuk saya masuki. Masih menyajikan kehangatan dan kepuasan tersendiri. Mungkin antara saya dengan si ‘penjajah’ tadi bukan benar-benar cinta. Tapi saya selalu tahu, di kedai kopi ini saya akan selalu jatuh cinta. Pada coffee latte, pada kesendirian, pada kedamaian pribadi yang tak pernah saya temukan di tempat lain. Bahkan di sisi seseorang yang katanya mencintai.

*Jakarta, 06092011*
*untuk kerinduan saya pada kedai kopi di cikini dan semua kenangannya…*
*ditulis terinspirasi oleh Landon Pigg’s Falling In Love At A Coffee Shop*

Advertisements