tentang pertanyaan ‘kapan nikah’


percayalah bahwa 8 dari 10 orang berstatus lajang akan menerima pertanyaan ‘kapan nikah’ dari para keluarga tiap tahun berkumpul saat lebaran ataupun natalan. pertanyaan datang bertubi-tubi dari beberapa orang. dari om, tante, kakek, nenek bahkan sepupu yang sudah lebih dulu melepas masa jalangnya.

lalu bayangkanlah apabila keluarga loe adalah keluarga super besar yang telah berkembang menjadi beberapa generasi. yang tahun lalu loe panggil om, tahun ini udah jadi seorang kakek krn bercucu. which means…semakin banyak orang yang akan bertanya pertanyaan diatas.

sekarang pikirkan jawabannya. 8 dari 10 orang lajang pasti mau ngasih jawaban klise seperti ‘ya doakan saja’ atau ‘belum nemu yang cocok’. sisanya mungkin diem aja dan nahan kesel karena di tanya terus. hehehe….well, gw pun masih mencari jawaban apa yang paling tepat mewakili gw dan bisa menghentikan pertanyaan mereka yang bertubi-tubi dan akan diulang-ulang selama kumpul keluarga itu.

lelah memang…dan menambah kegalauan bagi banyak lajang. 8 dari 10 lajang tentunya tidak memilih untuk terus melajang. apalagi memelihara jalang. semua orang kan katanya berpasangan, jadi ada masanya, baik secara biologis atau psikologis ketika kita merasa kita sudah saatnya membutuhkan pasangan. relationship. and more over companionship. gak ada juga kan yang mau sendirian sampe mati.

tapi pada kenyataan di lapangan, tentu semua gak semudah orang bilang. ada yang bilang dengan bijak maupun bijak berlebihan bahwa semua akan jadi indah pada masanya. bahwa si lajang harus banyak bersabar, nanti jodohnya juga datang. bahwa jangan jadi pemilih.

klise lah. bukannya tiap orang, mau laki atau perempuan berhak untuk memilih? gw sih emang keeping my option as wide as i can possible have. why not? kalo gak yakin ya gak perlu loe jalanin kan. nah!! masalahnya ada beberapa individual lajang, mungkin semacam gw, yang punya standard gak biasa. alias super selective. iya…kita emang suka nyebar formulir. tapi ada beberapa tingkatan audisi yang harus dijalani kalo mau masuk ke final dan jadi juara. macam idola amrik lah kira-kira. gak salah kan?

mungkin jawaban yang paling mendekati kebenaran adalah jawaban ‘belum ketemu yang cocok’. kecocokan itu sangat relatif. hasil dari sebuah proses yang panjang. proses yang dijalani dengan penuh keyakinan dan semangat. after effectnya tentu nyaman. dimana relationship itu bisa memberikan cukup ruang untuk tetap menjadi apa adanya, bukan ada apanya. dimana relationship itu menjadi awal dari sebuah partnership dan companionship yang akan berlangsung tahunan, puluhan tahun sampai maut memisahkan. nah! yang ini jelas gak gampang. cocok 100% jelas gak mungkin. bahkan yang lahir dari satu rahim dan berasal dari satu sperma aja bisa gak cocok dan berantem mulu. apalagi yang sama sekali beda kok.

ah…obrolan dan ocehan yang satu ini gak akan pernah selesai. selesainya ya ketika loe dengan bangga bilang di forum keluarga besar bahwa tanggal sekian loe akan dilamar. that’s it!! and everybody will shut up eventually.

tapi sampai sementara ini, dua jawaban kuncian tadi masih tetap gw gunakan kok. sambil mikir…yang seperti apa sih yang cocok buat jadi partner in life gw?

Advertisements