Budaya Idul Fitri


Setelah satu bulan puasa yang ditunggu pasti Idul Fitri. Lebaran. Dua hari berwarna merah di calendar yang merupakan hari libur Nasional Keagamaan. Biasanya dari semalam sebelumnya, nuansa perayaan sudah terasa. Dari bedug yang diarak keliling kompleks dan jalan-jalan raya sambil peserta arak-arakan mengumandangkan asma Allah. Lalu ada suara jedar jedor petasan membahana di setiap sudut. Juga pembagian kantong-kantong berisi zakat pada kaum dhuafa di masjid-masjid.

 

Di rumah, ibu-ibu dan remaja putri turun bahu membahu di dapur. Masak masakan khas Hari Raya seperti ketupat, opor ayam, semur, sambal goreng hati, rendang dan entah apa lagi. Itu baru masakan. Jangan lupa ada juga kue-kue kering favorit seperti nastar, kue semprit, kastangel, putri salju dan banyak lagi. Ah….dijamin pagi ketika Hari Raya perut bisa penuh sampai bakal meledak karena kalap mencicip semuanya.

 

Di pagi Hari Raya rasanya tak afdol kalo nggak pakai baju baru. Baju baru, sajadah baru, sarung baru, mukena baru, sandal baru, sepatu baru. Kalo perlu model rambut baru, warna rambut baru. Ya…semuanya sah untuk baru.

 

Kadang sebagai orang yg seumur hidup tinggal di tanahIndonesia. Gw merasakan bahwa Idul Fitri itu lebih kepada sebuah perayaan budaya semata. Nilai-nilai religiusnya memudar seiring jaman. Seiring perkembangan ekonomi manusia-manusianya. Seiring perubahan nilai di masyarakat. Sungguh sedih sesungguhnya.

 

Mungkin ketika kita kecil kita pun ikut excited dengan bayangan bahwa akan ada baju baru ketika Lebaran. Akan ada meja makan penuh makanan enak dan kue-kue sedap ketika Hari Raya. Akan juga terisi uang receh dari kerabat kantong-kantong celana kita. Mungkin ketika kita kecil euphoria macam ini yang membuat kita selalu semangat menjalani puasa seharian. Meski ya namanya anak kecil, pasti ada aja bolongnya.

 

Tapi seiring kita dewasa, seiring gw dewasa, pemikiran gw berubah. Gw justru jauh didalam hati tidak mau rebut soal semua yang serba baru lagi. Gw justru sudah keburu kenyang membayangkan akan ada banyak makanan di meja makan. Bukan apa-apa, keluarga kami cuma 4 orang. Sehari-hari saja meski banyak makanan, kami jarang makan di rumah yang lebih banyak menghabiskan waktu di jalan. Kadang, ini yang bikin Nyokap jarang sekali masak. Karena toh nggak ada yang mencicipi masakannya.

 

Budaya Idul Fitri yang ada sekarang sesungguhnya bikin gw mikir. Kenapa ya? Kenapa tidak merayakan Idul Fitri dalam kesederhanaan saja? Tanpa baju baru yang mungkin dibeli dengan memaksakan diri. Tanpa makanan berlebihan. Tanpa memaksakan diri untuk mudik dan membawa berbagai oleh-oleh ke kampong seakan-akan mereka sukses dikota, padahal ketika kembali dikotapun hidupnya masih tetap ngegelosor di sudut-sudutkotadengan seadanya.

 

Bukankah harusnya Idul Fitri itu adalah saatnya bercermin kembali? Puncak dari introspeksi diri kita setelah sebulan berusaha mati-matian mengalahkan segala macam hawa nafsu duniawi? Bukankah Idul Fitri adalah saatnya melapangkan dada untuk memaafkan kesalahan masa lalu kita dan kesalahan orang-orang di sekitar kita?

 

Ah…tapi tau apa saya soal hal beginian. Hahahahaha…..ya sudah. Selamat Idul Fitri ya. Mohon maaf lahir batin.

 

Advertisements