Teori Marketing Pada Perjodohan


Ok!! This will sounds a bit weird? No no….extreme? hmm…I don’t think so. Let’s say…it sounds too serious.

Beberapa waktu lalu gw berbincang dengan seorang teman. Bicara soal perjodohan. Same old, same old. Apalagi kalau bukan perihal kegalauan, kerisauan gw sebagai seorang single di usia 30an ini. Ah….udah ya, gak usah dibahas kearah gw-nya.

Lalu dia memberikan sebuah teori buat gw. Sebenernya sih teori lama. Bukan teori perjodohan, tapi teori marketing. Yang ketika diaplikasikan pada masalah perjodohan rasanya cukup tepat.

Dalam dunia marketing ada yang namanya STP: segmented, targeted, positioning. Segmented artinya mencari segmen yang tepat, targeted artinya mengarahkan busur-busur agresi kita pada segmen tersebut dan positioning artinya mempersiapkan posisi yang tepat untuk melakukan penyerangan. Yah…kira-kira mungkin begitu. Gw sempet jadi marcomm 5 tahun di Bali tapi gak pernah sekolah marketing. Jadi ilmu marketing-nya jeblok. Maaf yah….

Lalu lebih mendalam lagi, kami membahas aplikasi teori marketing ini pada kasus gw. Pertama gw harus punya segmen jodoh. Jelas itu….segmen gw ya laki-laki, usia 30-40an, etnis apa saja, agama apa saja, tidak mengikat pada yang seagama (read: maaf, gw emang agak2 liberal soal ini). Done. Beres. Rasanya di kota Jakarta dengan segmen yang gw biarkan seluas itu, gw emang punya segmen yang luar biasa luar. Masa dari sekitar 11 juta warga Jakarta gak ada yang usianya 30-40 trus laki-laki kelaminnya. Hehehehe…..

Lalu sekarang yang susah, targeted. Untuk mendapatkan market yang lebih spesifik dan baik, maka segmen harus dipersempit lagi. Lebih targeted. Lebih terfokus. Nah…untuk yang ini gw masih bingung. Mau menarget pada sifat-sifat atau apa. Gw sih maunya yang terpelajar, smart, suka seni, suka musik, suka film, suka baca, bisa maen musik bisa olahraga, bisa nyetir, bisa naek motor. Semua itu apanya ya? Hmm…bingung juga nyebutnya. Kalo sifat sih standar mungkin, baik sudah pasti, penyayang, penyabar, ngemong, easy going dan tidak munafik.

Nah…setelah menyusun itu gw makin tambah bingung. Kok yang gw cari semakin abstrak ya? Semakin gimana gitu… ah…. *penulis garuk-garuk kepala karena emang belum keramas*

Lanjut. Yang terakhir adalah positioning. Nah…ini juga berat. Pada ilmu marketing positioning, sebaik-baiknya positioning adalah menjadi yang terbaik, terunik atau menjadi yang pertama. Puyeng gak loe? Gw aja puyeng mikirnya. Nah….disinilah gw, dalam hal ini disamakan dengan produk yang sedang di-marketing-kan, harus berusaha menjadi salah satu bahkan ketiga dari hal diatas tadi. Yang terbaik, terunik atau bahkan yang pertama. Caranya ya dengan menyesuaikan diri pada ekspektasi si target market tadi. Ah….tambah puyeng. Yang bikin runyam adalah kenyataan bahwa laki-laki dan perempuan itu adalah Mars dan Venus. Alias berasal dari 2 planet berbeda dan bicara dengan bahasa yang juga berbeda. Makanya ada yang bilang perempuan bicara pake hati, laki-laki pake logika. Perempuan mikir pake hati, laki-laki pake ‘barang di tengah selangkangannya’. #Eh?

Trus dalam hal teori diatas, gw sebagai produk yang sedang di-pasarkan- sepertinya harus mulai belajar mind reader alias cenayang untuk memudahkan mencari tahu apa sih sebenarnya yang jadi ekspektasi laki-laki usia 30-40 tahun di Jakarta dalam hal mencari calon ibu-nya anak-anak. Dan jelas ini bukan hal yang mudah….

*penulis clueless berat soal relationship. Banyak gebetan tp gak pernah ‘jadi’. Penulis sering galau di temlen. Kalo gak galau ya bikin-bikin galau biar banyak follower. tulisan ini di tulis dalam keadaan setengah sadar dan kelaparan menunggu berbuka jd wajarlah isinya sampah…sampah…*

 

Advertisements