Apa Ini Bulan Dosa?


Ramadhan.
Bagi Muslim sedunia diartikan bulan pengampunan. Harusnya di bulan ini semua umat Muslim berlomba membuat kebajikan, berebutan pahala, kebut-kebutan ngejar amal baik. Tapi nyatanya nggak juga.

Saya memang baru 6 bulanan terakhir kembali ke Jakarta. Dan ya…ini bukan Ramadhan pertama saya setelah kembali. Demi Allah…kalo boleh milih, saya pengen puasa di Bali saja. Sumpah!! Kota ini malah bikin puasa saya gak berkah. Saya rasa puasa tahun ini nahan makan, minum sama ngerokok doank. Sisanya gak dapet pahala. Boro-boro pahala, dosa malah iya.

Ya apalagi kalo bukan traffic yang se’panas’ neraka. Apalagi kalo bukan masyarakatnya yang semakin garang saling sikut, saling sundul seperti anak kaskus…sundul gan! Apalagi kalo bukan kegiatan ormas mengatasnamakan Islam yang justru menambah keresahan di bulan suci ini. Ahh….semua semacam konspirasi kosmik menguji iman dan sabar.

Belum lagi saya harus dihadapkan dengan perubahan budaya masyarakat Jakarta. Di kota ini acara buka puasa bersama antar komunitas, sambil reuni, dengan teman kantor atau tetangga tampaknya lebih pentiing. Hampir tiap hari, bagi seorang yang termasuk seleb di pergaulan, pasti setidaknya menerima 2 undangan buka bersama. Wow!! Semacam acara makan kurma dan minum teh manis bersama pas bedug maghrib ini lebih penting dari sholat taraweh yang harusnya dikerjakan setelah Isya sebagai tambahan pahala dan kemuliaan Ramadha. Well…jujur saya emang blm pernah taraweh sekalipun dalam Ramadhan ini. Sebut saja saya juga hipokrit. Tapi saya punya alasan. Mungkin tidak cukup, tapi biar saya ungkapkan saja. Saya bekerja. Bahkan berbuka puasa saja seringnya sedang didalam angkot atau di terminal yang ramai. Berbuka dengan keluarga atau orang tercinta hanya terlaksana di kala wiken saja. Sisanya ya berbuka bersama para commuter Jakarta.

Saya memang bisa saja berhenti sejenak di masjid lalu ikut taraweh yang kemungkinan selesai sekitar jam 9 malam. Lalu harus cari angkot lagi untuk pulang ke rumah. Hmm…bulan Ramadhan biasanya public transport hanya aktif sampai jam 8 malam saja. Ini biasanya berlaku untuk angkot yang keluar masuk kompleks. Well…I know, I know….yang baca pasti pengen nimpukin gw juga deh. Silakan….. *pasrah* emang gw tau gw banyak alasan juga sih. Sesungguhnya kalo emang niat sih pasti kejadian. Tapi ya…. *pasrah*

Anyway, intinya ya seperti diatas. Tradisi perhelatan akbar berbuka puasa bersama bagi orang Jakarta semacam hal yang sifatnya agak2 wajib demi menjaga kedekatan hubungan antar teman, rekan kerja, rekan seprofesi. Lalu mereka pun membanjiri berbagai restoran dari yang berada di hotel bintang 5, mall sampe di pinggir jalan. Lalu parkirannya pun berlapis-lapis. Hmm….soal parkiran, agak takjub juga. Orang Jakarta perekonomiannya melesat cepat bak roket dari terakhir gw disini 5 tahun lalu. Hmm…I guess, gw emang agak ketinggalan ya soal ini. Mungkin kalo gw gak pergi dari kota ini dulu, sekarang mobil gw akan menambah lapisan parkiran di depan resto di kala buka puasa yang membuat kemacetan berlipat ganda sampai mirip parkiran itu sendiri.

Well well….intinya saya merasa esensi dari bulan puasa sudah jauh menyimpang. Bulan ini seakan mensahkan orang-orang bermotor konvoi seenaknya di jalan-jalan raya dengan alasan tabligh akbar. Bulan ini seakan memberi ijin ormas tidak bertanggung jawab memporak porandakan warung makan yang buka di siang hari, padahal kan mereka juga butuh makan, perlu usaha untuk cari penghasilan dan gak ada hubungannya dengan menghormati orang berpuasa. Bulan ini juga jadi semacam kesempatan untuk yang kaya dan suka riya, meski tidak bernama Ria, untuk unjuk gigi bagi-bagi rejeki sampai ya jatuh korban-korban.

Ahh….saya tidak mengerti. Apa yang berubah ya? Sungguh sudah lama saya rindu puasa masa kecil saya dulu. Saat masih anak-anak semua tampak lebih mudah meski urusan menahan lapar hausnya jauh lebih berat. Dari curi-curi air minum di kulkas dan ngaku sampai main-main di areal masjid kala orang-orang taraweh. Semua tampak mudah. Semua tampak lebih punya makna. Harusnya mungkin doa waktu itu adalah supaya saya tetap jadi anak-anak saja, biar gak usah ngerasain hal-hal begini. Hihihihi….*tepok pipi sendiri*

Sungguhpun…saya rindu berpuasa di pulau. Dimana Muslim adalah semacam minoritas. Hidup berjalan seperti biasa di sana. Warung makan tetap terbuka lebar di siang bolong dan menggoda iman. Belum lagi para perempuan pirang berbikini sexy yang terhampar bak ikan asin diatas pasir. Malamnya Legian tetap ramai dan riuh dengan dentuman house music dan santer bau alcohol. Tapi ibadahnya lebih terasa. Doa-doa lebih khusyuk ketika hanya ada kita yang memohon ampunan-Nya sendiri tersungkur sampe mewek diatas sajadah. Yah…jujur nih. Kalo sholat Isya aja saya udah lelah pengen cepet-cepet selesai biar cepet tidur karena harus bangun jam 4 untuk sahur.

Tapi ya…mungkin ini perasaan saya saja. Emang sih…kadang yeee gw suka over sentitip. Eh, sensitive dink. Btw, dikarenakan Lebaran semakin dekat pula, rasanya sebagai re-new citizen of Jakarta saya harus menghindari jalan-jalan yang mengarah ke mall atau pusat perbelanjaan. Karena biasanya dari jarak 50km sebelumnya pun pasti sudah macet tidak bergerak alias berubah jadi parkiran bebas. Eh…agak lebay ini. Hihihihih….

Apapun itu….Ramadhan ya saat untuk berusaha mencari kebaikan, mengumpulkan pahala. Mudah-mudahan justru terhindar dari dosa. Meski saya yakin , khusus untuk Jakarta, Tuhan sudah tidak punya tempat di neraka untuk mengerangkeng para setannya. Hahahahaha…. *evil laugh*

Advertisements