Duka, Luka, Cinta


Ini kedukaan panjang tentang perginya kebebasan. Kala belenggu-belenggu cinta tidak memerdekakan jiwa. Terpasung oleh pengorbanan.

Ini luka banjir darah yang terus memerah. Luka perih buat tangis dan meringis. Luka dalam penuh memar biru yang masih tak sembuh. Beku.

Lalu apa ini namanya bahagia? Cukupkah berada bersama orang-orang yang mengatasnamakan cinta semata? Bila jiwa terus meronta?

Jiwa ini ingin lepas,mengelana dgn buas,tanpa batas.Jiwa ini ingin pergi,ingin lari,sendiri.Jiwa ini ingin damai,cari sepi,tak kembali.

Lalu mengapa tak ada yang mengerti? Bukankah kemerdekaan hati adalah esensi cinta itu sendiri.

Kini lihat baik-baik disini. Aku hanya tersungkur tak berdaya berpeluh kekecewaan yang maha. Aku tercebur banjir tangis dan darahku sendiri.

Untuk apa? Hanya demi sebuah bahagia yang justru bukan untuk jiwaku yang mendamba? Sementara aku luka…

Mengapa tak kau tusukkan saja belati tajam ke jantungku dan akhiri basa basi bermuatan adiksi ini? Diam-diam pun sebagian dariku sudah mati.

Advertisements