Love & Hate Relationship


my purely love & hate relationship is my relationship with my home town, the lovely yet chaotic Jakarta.

ya….gw benci kota ini. benci pada tiap sudutnya yang ramai, berantakan dan tak karuan. benci pada manusia penghuninya yang semakin tidak ramah, senang saling menyakiti, senang sikut-sikutan dan penuh kemurkaan tiap saat.

benci pada jalan-jalannya yang tak pernah sepi dan lengang. pada kehidupan malam yang meracuni setiap pikiran yang kesepian.

tapi saya terpaksa juga mencintai kota ini. ini kota kelahiran saya. dimana darah dan tangis pertama tertumpah. kota tempat cinta pertama terukir. tempat sakit hati pertama, patah hati dan putus cinta. kota tempat saya banyak belajar dan ditempa jadi kuat.

ini kota dimana semua orang-orang yang menyayangi saja berada, keluarga. saya mencintai setiap dentum musik lantai dansa dan bau alkohol yang membahana dari ruang-ruang karaokenya. itu saja.

sisanya adalah kebencian saya pada kemacetan, sikut-sikutan dalam office politic, ketidakadilan dalam bermasyarakat dan pemerintahan yang korup yang tiap hari terpancar dari mata tiap-tiap penghuninya. desparation and tiredness.

saya kembali ke kota ini karena keluarga. karena kecintaaan saya dan kepasrahan saya pada apa yang katanya sudah ditakdirkan. tapi toh akhirnya saya meledak juga. saya bosan bukan kepalang. saya ingin lari, ingin kabur, ingin menghilang. hingga sulit kembali ditemukan.

simpel saja….disini sudah lama saya tidak bahagia. dari urusan cinta yang pakai hati sampai urusan cinta yang hanya pakai bodi. dari urusan kerjaan yang sepenuh hati sampai urusan kerjaan yang hanya mengisi pundi-pundi.  dari urusan drama keluarga yang bikin trauma sampai urusan beban perjodohan yang makin hari makin buat gila.

sesungguhnya yang saya mau sangat simpel. sederhana. hidup sederhana, berkecukupan jauh dari keramaian. tenang dan menemukan esensi jiwa saya sebenarnya. tapi ya…mana ada yang mau mengerti. urusan keputusan-keputusan besar dalam hidup saya masih sangat dipengaruhi keluarga. urusan percintaan saya masih dipengaruhi norma kultur keluarga pula.

ya…saya hidup dalam dunia abu-abu. tidak hitam, tidak juga putih. dan saya lelah luar biasa. serasa ingin melakukan perubahan besar dalam hidup, tapi begitu takut akan dimusuhi, dicela, dibenci atau bahkan dikutuk jadi batu. pilihan non populis semacam noda bagi pandangan keluarga.

arrrggghhhhh……

ini telah membuat hati lelah luar biasa. tidak bisakah mereka menerima, mendukung dan mengikuti mau saya?

saya hanya ingin kebebasan untuk mencintai diri saya sendiri. tanpa perlu terus berusaha membuat orang lain bahagia dan terpenuhi.

Advertisements