Bayi (Dalam) Tabung


tentang bayi tabung.

beberapa waktu lalu saya berbincang dengan seorang teman tentang masalah yang biasa menghantui perempuan2 30an yang masih lajang, tentu saja soal pernikahan.

mungkin karena kamu mengalami perjalanan cinta yang hampir sama dengan kekecewaan yang hampir sama pula, obrolan tiba2 menjadi sangat ‘panas’.

kami mungkin sama2 clueless tentang apa yg dicari para kaum laki-laki tentang sosok seorang istri. ya…kami sudah 30an, masih lajang, dalam hubungan2 yang tidak jelas arahnya dengan para kaum laki-laki yang rata2 tidak pandai mengambil keputusan alias suka menggantung kami seperti cucian basah di jemuran. dan ya…kami memang dikejar jam biologis, meski secara penelitian perempuan yang sehat bisa punya keturunan yang juga sehat sampai pada usianya yang ke 40, masih ada 10 tahun lagi memang. tapi tetap saja…kami toh sudah ketar ketir. entah karena memang sudah merasa siap menikah dan menjadi ibu, atau lebih karena tuntutan keluarga dan pandangan masyarakat yang biasanya menilai perempuan lajang di usia 30an semacam aib. biasanya banyak yang menilai perempuan macam ini terlalu pemilih, terlalu jual mahal bahkan banyak yang menilai karena kami lesbian alias lebih suka sesama perempuan. kalau memang lesbian sih ya gak masalah toh. cinta itu kan bisa dalam bentuk apa saja. gender toh gak pernah jadi masalah, buat saya pribadi terutama. cinta juga kan gak bisa milih mau sama laki atau perempuan. soal banyak memilih atau terlalu pemilih terkesan absurd. loe pikir ada juga yang dipilih? kalo gak ada yang dipilih trus pemilih dari mana? nah…ini yang suka bikin emosi tiba2 meledak bak bom atom hiroshima. jual mahal? ya bukannya harus toh. buat apa mengakhiri hidup lajang sama orang yang gak bisa menghargai loe sepenuhnya. mahal itu harus. tapi mahal seperti apa itu yang relatif.

dalam perbincangan kami yang penuh kisah traumatis dan biasanya bikin agak2 pengen nangis, kami pun bicara tentang keinginan absolut semua perempuan. bukan keinginan untuk minum absolut vodka. tapi keinginan menjadi ibu. ya…menjadi ibu, melahirkan manusia baru dari rahim sendiri adalah mimpi setiap perempuan. ini saya percaya. buat saya perempuan yang ogah punya anak dari rahimnya sendiri ya perempuan gila. ada semacam rahasia keajaiban ketika benih itu tumbuh sembilan bulan di rahim perempuan. dan katanya ada cinta yang luar biasa dashyatnya ketika manusia kecil itu akhirnya lahir ke dunia. dari sorot matanya ada cinta yang maha.

lalu kami tiba2 semacam ingin menjerit sendiri ketika sadar bahwa kami masih sangat jauh dari urusan pernikahan atau punya anak itu. bagaimana mungkin, secara hubungan kami pun semua masih diangan-angan belaka untuk jadi sesuatu yang serius. sampai saya bicara soal inseminasi buatan dan bank sperma. hmm….teman saya cukup kaget karena topik itu keluar dari mulut saya.

di beberapa negara maju di luar sana, inseminasi buatan atau bayi tabung dan bank sperma adalah sebuah hal yang sudah sering terjadi dan digunakan. perempuan2 lajang tak bersuami atau pasangan2 lesbian bisa memiliki anak dari rahim sendiri dengan membeli sperma unggulan di bank sperma. semacam membeli terigu dan ragi untuk membuat kue sendiri ketimbang beli kue jadi di tukang kue & roti. ya semacam itu…

lalu kami terdiam…berpikir lama di dalam hati masing2, mungkin. bila saatnya tiba, toh kenapa tidak? tapi siapkah keluarga menerima keputusan sangat ekstrim ini? dalam budaya orang ketimuran, rasanya masih sangat jarang perempuan lajang tidak pernah menikah justru ke bank sperma pilih2 sperma unggulan lalu ikut inseminasi buatan dan melahirkan 9 bulan kemudian. jadi perempuan yang dihamili trus lakinya gak tanggu jawab dan membesarkan anak jd single mother aja udah dianggap aib. apalagi ini? yang bapaknya si anak cuma di sebut sebagai sperma yang di beli di toko ecer sperma. halah…. *tepok jidat*

dulu pun saya pernah menulis tentang bayi tabung, inseminasi buatan dan bank sperma di notes pada halaman facebook saya. ya…yang komen banyak dan pada ngasal semua. pastilah!! masyarakat kita belum siap menerima ide-ide macam ini.

sesungguhnya deep deep down… bila saat tiba dan saya terjebak dalam keadaan sendirian, saya pun ingin sekali melakukannya. tentu saja itu harus didukung dengan keadaan finansial yang lumayan mumpuni. jelas…proses macam ini buat sejuta dua juta harganya. tapi ya….kalau saatnya tiba, saya tetap berpikir kenapa tidak. bayi itu akan jadi hak dan kewajiban saya sepenuhnya. cinta saya yang terakhir dan paling abadi. seperti jatuh cinta berulang-ulang kali tapi tidak penuh luka dan berdarah-darah. tapi penuh bahagia.

tapi lah….ini mah cuma omong-omong belaka mungkin. yang keluar dari the most desperate thoughts of 2 singles 30’s woman. ya…kami nyaris tidak percaya lagi ada cinta. nyaris tidak percaya bahwa cinta itu berguna. maksudnya cinta perempuan dan laki-laki ya.

tapi kembali lagi….mungkin kami pun belum siap sepenuhnya memahami esensi cinta itu sendiri.

Advertisements