Surat Cinta Untuk Luka – prelude


Dear Luka…

Pertemuan kita mungkin sebuah bencana tertunda.

Sebuah badai yang menunggu angin untuk bergerak lalu memporak porandakan segenap desa.

Pertemuan kita adalah peperangan rasa yang maha dashyat.

Dimana keinginan kita bertabrakan dengan kemampuan kita saling bertahan.

Aku terkagum pada namamu. Dan betapa tidak sedikitpun ku lihat bekas luka itu dalam sorot matamu.

Bila memang kau luka, kau adalah luka yang telah sembuh sempurna.

Luka tak berbekas sama sekali. Yang kini terus tersenyum cerah ceria.

Kau berikan aku sebagian cerahmu itu dan menyalakan api yang lama tak mampu menyala lagi.

Ya…padamu aku jatuh. Terjun bebas ke dalam jurang terdalam yang gelap dan entah berdasar.

Akankah kau selamatkan ku?

-Cinta-

 

Dear Cinta,

Namamu seindah rasa yang tiba-tiba datang menggoda dan melumpuhkan indera.

Pertemuan kita adalah maha bahagia. Luar biasa tak terdefinisikan kata.

Sepertimu, aku pun tertelan ombak maha daya.

Aku tenggelam dalam sorot matamu yang tanpa cela.

Aku terperosok dalam arus bawah laut yang entah kemana.

Bila kau minta ku selamatkan, hendaknya kau berikan aku jawaban.

Akankah kau juga selamatkanku dari tenggelam?

-Luka-

 

Dear Luka,

Ku raih tangan mu sebelum kau terbawa ombaknya.

Lalu ku genggam erat di dadaku. Agar kau tahu, detak ini deras. Detak ini beringas.

Detak ini menyebut Luka, menyebut namamu dengan setia.

-Cinta-

 

Dear Cinta,

Sungguh aku jelata yang bahagia.

Pada Cinta-lah aku berserah sepenuhnya.

Ini Luka-mu. Selamanya. Setia. Apa adanya.

-Luka-

 

Dear Luka,

Kau tahu rasanya tersayat kertas?

Kau tahu rasanya melihat darahmu sendiri memuncar tak tertahan?

Aku memar. Jurang tempatku jatuh terlalu dalam. Tak ada bantalan kau siapkan di dasar.

Aku terluka oleh Luka yang ku jaga untuk tetap sempurna.

Mungkin bukan Cinta ini yang kau cari, kau butuh dan kau mau.

Karena Cinta ini tidak mampu bersitahan kukuh dalam rindu yang tak berujung dan tak berbalas.

-Cinta-

 

Dear Cinta,

Aku bukan manusia tanpa dosa. Aku hanya seorang Luka.

Mungkin telah sebabkan perih, sebabkan darah terbuang sia-sia.

Maafkan aku…

Kau adalah Cinta yang aku mau, aku butuh, aku cari tapi tak mampu aku tepati.

Aku (mungkin) hanya pendusta ketika dulu dengan lantang ku katakan tidak akan ada kata kecewa.

(Mungkin) Salah bila kita terus bersama.

Bila satu-satunya yang kau rasa dalam kata kita hanya luka.

Sesadis namaku yang dulu pernah kau puja dalam doa.

Maafkan, Cinta….

Sungguh, Luka ini seharusnya tak pernah mengenalmu.

-Luka-

 

Dear Luka,

Apalah artinya Cinta tanpa Luka?

Bukankah kita memang akan selalu terhubung satu sama lain tanpa pernah di rencana?

-Cinta-

 

Dear Cinta,

Dengan kerelaan, kita harus melepaskan.

Sungguh kau tak akan bahagia memelihara Luka di hatimu.

-Luka-

 

Dear Luka,

Aku Cinta yang mengasihimu sepenuh jiwa.

Ku pelihara luka seperih apa pun jua. Selama kau juga percaya.

Cinta dan Luka akan bisa terus berjalan bersisian.

-Cinta-

 

Cinta…. Aku Luka-mu paling perih dan paling kau pelihara. Selamanya.

-Luka-

 

Luka…tanpamu apalah artinya ‘jatuh’?

-Cinta-

Advertisements