Sebuah Bingkai Foto Yang Kosong


Sebuah Bingkai Foto Yang Kosong

 

Rasanya banyak dari kita, manusia, yang narsistik. Senang berfoto, mengagumi diri sendiri. Lalu membeli bingkai paling ciamik untuk memajang foto paling hits tersebut dan membiarkan orang lain melihat dan ikut mengomentari dan memuji. Tentu sah saja. Tidak ada perda larangan untuk menjadi narsis dan senang dipuji.

Di kantor saya, tiap cubicle kecil itu biasanya tergeletak bingkai-bingkai berisi foto-foto koleksi si penghuni cubicle. Dari foto istimewa bersama teman-teman, foto wajah sendiri dengan angle close up yang tampak paling cakep sampai foto bareng kekasih hati yang paling mesra. Tentu saja tujuannya (mungkin) seragam. Agar orang lain ikut melihatnya. Mungkin mengagumi atau memujinya.

Setiap cubicle di kantor saya, tergeletak bingkai foto. Tapi tidak cubicle saya. Dinding cubicle dipenuhi post-it berisi reminder dan catatan kecil pekerjaan. Meja berisi tumpukan kertas, dokumen yang sedang di follow up, beberapa majalah dan tentu saja monitor dan keyboard. Tapi tidak akan kau temukan bingkai foto. Mungkin hampa. Mungkin tampak tanpa nyawa.

Suatu hari, salah seorang boss memberikan sebuah bingkai foto. Hadiah saja. Saya tidak sedang berulang tahun. Hanya sebuah hadiah. Katanya karena sedang ada sale bingkai dan bingkai itu adalah bingkai yang dibuat dari bahan-bahan daur ulang serta sangat eco-friendly. Certified, katanya. Tampilannya memang seperti kayu biasa, coklat gelap. Tiada beda dengan bingkai-bingkai foto biasanya.

Seminggu, bingkai itu saya letakkan saja diatas meja. Kosong. Belum ada isi sama sekali. Awalnya tentu tidak ada yang memperhatikan. Meja saya tetap tampak hampa. Semua yang melongok ke dalam cubicle saya tidak pernah berhenti sejenak untuk mengamati. Karena tidak ada yang berubah dari biasanya. Masih kosong melompong.

Saya pun bingung. Foto macam apa yang harus saya pamerkan di bingkai kosong itu. Apakah foto saya sendiri? Ya…saya memang senang di foto dan punya banyak koleksi. Kebetulan, kenalan teman-teman fotografer pun berlimpah, hingga bisa berfoto dengan gratis. Dari pose konvensional, retro sampai yang sedikit seronok sekalipun ya ada. Untuk koleksi. Agar suatu hari ketika tua nanti saya dapat melihat bahwa saya pernah menjadi orang yang berbeda meski beberapa tahun saja.

Rasanya tidak enak hati pasang foto seperti itu. Lalu foto apa? Foto dengan keluarga? Keluarga saya juga tukang berfoto. Narsistik. Seluruh tembok rumah penuh paku untuk menggantung berbagai bingkai foto yang memuat perjalanan hidup keluarga kami. Dari foto masih bayi masing-masing anak, foto liburan, foto sekolah, foto wisuda sampai foto-foto keluarga yang sengaja di abadikan di studio foto. Tapi rasanya masih belum sreg juga.

Foto dengan teman? Well…ini agak berbahaya. Koleksi foto-foto saya dengan teman-teman dekat biasanya berlatar di berbagai lantai dansa dengan lampu kerlap-kerlip seadanya dan mata kami yang tampak segaris karena berada diantara batas kesadaran. Posenya pun kadang terlalu nyeleneh. Terlalu seronok untuk di pajang di bingkai foto yang diletakkan diatas meja kerja di cubicle kantor. Meski teman-teman adalah penyemangat setia saya setelah keluarga. Tetap saja tidak enak bila harus memandangi mereka di balik bingkai foto itu. Yang ada bukannya bekerja, tapi mengingat-ingat semua kejadian di malam-malam ‘berbahaya’ ketika pose itu diabadikan.

Foto dengan kekasih hati? Nah…ini yang saya tidak punya. Kekasih hati yang mana? Saya lama sendirian dalam galau yang kacau balau.

Rasanya memang lebih baik saya biarkan bingkai ini kosong sementara. Setidaknya sampai saya punya foto paling bagus untuk dipamerkan. Sebuah foto paling pantas. Yang paling bisa memberikan semangat tiap kali saya memandangnya diantara kesibukan tenggelam di tumpukan kertas pekerjaan. Sampai entah.

Advertisements