Pangeran Kodok & Putri Mayasari Bhakti


Alkisah di sebuah kerajaan antah berantah, hiduplah seorang Raja bernama Yang Mulia Raja Bhakti dan permaisurinya yang cantik. Mereka dianugerahi seorang putri kecil nan cantik jelita bernama Putri Mayasari Bhakti. Putri tunggal dan pewaris tahta Yang Mulia Raja Bhakti itu adalah bocah kecil yang kesepian. Sejak lahir ia tidak pernah keluar dari lingkungan istana. Yang Mulia Raja Bhakti takut sekali si Putri diculik oleh penyihir jahat yang sedari dulu ingin menggulingkan kekuasaannya.
Pada ulang tahun si Putri yang ke 15, Yang Mulia Raja Bhakti menghadiahinya sebuah bola dari emas. Seperti biasa ini adalah salah satu dari usaha ayahnya untuk membuat si Putri kerasan di istana. Dari kecil, Yang Mulia Raja Bhakti selalu memberikan hadiah ulang tahun serba mewah. Dari liontin dan kalung emas, tas dari emas, sepatu berlapis emas, dan kini bola dari emas.
Suatu hari yang cerah, seperti hari-hari sebelumnya, Putri Mayasari Bhakti bermain di halaman istana, sendirian tentu saja. Ia lemparkan bola emasnya kesana kemari. Mengejar bola kesana kemari. Sampai bola emas itu terlempar terlalu jauh dan masuk ke lubang sumur tua yang sudah lama tak terpakai. Putri Mayasari Bhakti panik. Ayahnya, Yang Mulia Raja Bhakti akan marah bila tahu bola emasnya hilang.
Dipinggir sumur itu Putri Mayasari hanya memandang kosong ke dasar sumur dimana bola emasnya berada.
“Duh…bagaimana ini? Ayah pasti marah kalau tahu bolanya aku hilangkan. Tapi sumurnya dalam sekali. Tidak mungkin aku turun ke bawah lalu mengambilnya. Bagaimana nanti aku naik ke atas lagi? Huhuhuhuhuhuh…………gimana ini?”, ucap Putri Mayasari sedih sekali.
“Seandainya saja ada yang bisa membantuku. Ayah dan Ibu sedang keluar kota. Para pembantu istana sedang sibuk mengurus istana yang besar itu. Siapa yang akan membantuku?……..”, ucap Putri Mayasari semakin sedih seraya air matanya pelan-pelan menetes.
“Seandainya aku punya teman bermain. Dia pasti mau membantu mengambil bola emas di dasar sumur ini. Teman yang mau membantuku akan kukabulkan semua permintaannya. Akan ku ajak dia makan enak di dalam istana dengan peralatan emas. Ku ajak dia tidur di ranjang dari bulu angsaku. Seandainya…….”, ucap Putri Mayasari Bhakti.
“Hai….tuan Putri!! Aku bisa membantumu…..”
Putri Mayasari Bhakti melihat ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara itu. Tidak ada seorang pun di sekitarnya. Lalu suara itu dari mana asalnya?
Tiba-tiba muncul seorang kodok jelek di hadapannya, tepat di pinggir sumur.
Putri Mayasari Bhakti terkejut bukan main. Kodok itu jelek seperti kodok lainnya. Tampak kotor dan menjijikan. Putri pun menelan ludahnya. Sepeti ingin muntah tapi tidak bisa.
“Tuan Putri, saya bisa membantumu. Saya akan ambilkan bola emas itu”, kata si kodok.
“Ha? Kau yakin, hai kodok dekil? Aku tak percaya. Bagaimana mungkin kau bisa ambilkan bolaku. Lihat bola emas itu! Dia 2 kali ukuran tubuhmu”, ucap Putri.
“Tenang saja! Aku pasti bisa membawanya kembali. Tapi Putri janji ya akan mengabulkan semua ygna kuminta dan menepati janjinya tadi?”, kata si kodok.
“Ha? Serius? Kau mendengar apa kataku tadi, kodok dekil?”, tanya Putri Mayasari Bhakti.
“Dengar donk! Ok….aku akan buktikan!”, ucap si kodok dekil seraya melompat ke dalam sumur dan mendarat di dasar dengan mulus.
Beberapa menit kemudian, kodok itu sudah melompat kembali ke atas, mendarat tepat di pinggir sumur dengan bola emas si Putri di atas tubuhnya.
Putri Mayasari perlahan mengambil bola emasnya kembali.
“Terima kasih, kodok dekil”, ucap Putri.
“Sama-sama, Putri. Baiklah….sampai bertemu nanti malam ya. Aku sudah tidak sabar untuk makan di istana dengan peralatan emas”, ucap si kodok dekil.
“Eh, kodok….apa maksudmu? Kau tak serius kan? Kau tak mungkin makan di istana…..ewwwww”, ucap Putri tak kuat membayangkan si kodok dekil makan semeja dengannya.
“Kok Putri gitu siy? Tadi kan janji begitu pada siapapun yang mau membantu”, tagih si kodok dekil.
“Tapi……”, ucap si Putri. Kalimatnya belum selesai tapi si kodok dekil sudah berlalu.
Putri lalu resah. Bagaimana menjelaskan pada Ayah dan Ibunya bila nanti si kodok dekil datang dan ikut makan bersama. Pasti sangat menjijikan.

Sore itu Yang Mulia Raja Bhakti dan permaisurinya kembali dari luar kota. Putri Mayasari Bhakti tak berani bilang apa-apa pada Ayah dan Ibunya kalau nanti malam akan ada tamu “istimewa”.
Malam itu seperti biasa, mereka duduk bersama di ruang makan istana. Segala peralatan makan dari emas tampak di meja. Dilengkapi dengan sajian kuliner super lezat berbagai macam. Putri Mayasari Bhakti biasanya sangat tidak untuk makan malam dan mencicipi sajian lezat masakan Mbok Sari, si koki istana. Tapi malam itu, dia sangat tidak bernafsu.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
Knock…knock….
“Mbok Sari, coba lihat itu siapa”, kata Yang Mulia Raja.
Mbok Sari pun berjalan menuju pintu. Alangkah terkejutnya ia mendapati si kodok dekil di depan pintu. Ia melambai mengucap salam.
“Selamat malam, Mbok. Saya akan makan malam dengan Tuan Putri Mayasari Bhakti”, kata si kodok dekil.
Mbok Sari setengah berlari ke ruang makan.
“Yang Mulia Raja….di luar ada….ada…..ada kodok! Katanya mau ikut makan bersama Putri Mayasari Bhakti”, kata Mbok Sari setengah panik.
“Ha? Kodok dekil?”, ucap Yang Mulia Raja tampak bingung.
“Duh….datang juga dia. Ewwww……”, ucap Putri dengan jijik.
“Kau mengenalnya, nak?”, tanya Yang Mulia Raja.
“Huhuhuhuhuhuhuh…….Ayah…..maafkan aku. Aku tidak sengaja”, ucap Putri mulai menangis.
“Tenang, nak….ayo, ceritakan dengan lengkap”, sahut Yang Mulia.
Putri Mayasari Bhakti lalu menceritakan kejadian bola emasnya tadi pagi ke pada Yang Mulia Raja. Yang Mulia Raja terdiam sesaat.
“Nak…..kau telah berjanji pada siapapun yang membantumu. Janji itu hutang. Dan hutang harus dilunasi. Janji harus ditepati. Ayah tak mau punya anak pembohong. Ayo, jemput si kodok sekarang. Bawa ia makan bersama kita”, kata Yang Mulia Raja dengan bijak.
“Ayah……jangan donk. Menjijikan sekali makan satu meja sama kodok dekil. Eww……”, jawab si Putri semakin jijik membayangkan yang akan terjadi.
Namun tatap mata Ayahnya yang menagih membuat Putri Mayasari Bhakti tak bisa membantah. Ia pun bangun daru duduknya dan segera menuju pintu. Menjemput si kodok dekil.
Di depan pintu, si kodok dekil berdiri gagah. Gagah dalam dunia kodok tentu saja. Ia tidak tampak dekil seperti tadi pagi. Seperti baru saja mandi di perairan yang bersih. Ia juga tidak bau dan menjijikan seperti tadi pagi.
“Malam, Putri. Aku datang untuk makan malam sesuai yang dijanjikan”, ucap si kodok dekil.
“Ya, malam. Ayo masuk!”, jawab si Putri.

Si kodok dekil tampak sangat bahagia bisa makan malam dengan keluarga kerajaan. Ia tercengan melihat betapa indah peralatan makan dari emas yang tergeletak rapi di meja makan. Dan tampak berliur melihat lezatnya semua makanan yang tersaji.
“Wah……luar biasa. Ini makan malam yang luar biasa”, ucap si kodok dekil.
Si kodok dekil lalu di beri kursi tepat di sebelah si Putri. Tapi tentu saja sebagai kodok, ia terlalu pendek untuk mencapai meja makan.
“Putri…aku tak bisa makan dengan begini. Aku duduk di atas meja saja ya?”, pinta si kodok dekil.
“Apa?! Tidak sopan! Sudah bagus kau makan diistana. Sekarang kau minta duduk diatas meja. Kau pikir kau siapa, hey kodok dekil!”, sahut si Putri sedikit marah.
“Nak, biar saja. Kodok kan tidak bisa mencapai meja kalau duduk di kursi biasa. Ingat janjimu padanya. Kau harus tepati semua”, ucap Yang Mulia Raja bijak.
Si kodok dekil lalu melompat ke atas meja. Duduk manis disana dan mulai makan dari piring emasnya. Si Putri tentu semakin kehilangan nafsu makannya.
Begitu makan malam selesai, si kodok dekil jadi makin kurang ajar.
“Tuan Putri, aku kenyang sekali. Terima kasih. Sekarang aku ingin tidur di ranjang bulu angsamu”, ucap si kodok dekil.
Putri tampak tercengang. Dengan marah, ia menjawab.
“Apa? Tidak, kodok dekil. Kau tak mungkin tidur di ranjangku. Sudah gila!!”
Yang Mulia Raja yang bijak lalu mengingatkan si Putri akan janjinya.
“Nak, kau juga sudah berjanji demikian kan? Maka lunaskanlah! Semalam saja kok”, kata Yang Mulia Raja bijak.
Dengan setengah hati, si Putri pun mengajak si kodok dekil ke kamarnya. Di kamar itu, si kodok segera melompat bebas ke atas ranjang.
“Wah…..enaknya! Aku pasti tidur nyenyak malam ini, Putri”, ucap si kodok dekil.
Tak lama kemudian, si kodok dekil sudah terlelap diatas ranjang bulu angsa. Sementara si Putri tidur diatas karpet persia di lantai.
“Sial!! Aku termakan omonganku sendiri. Besok pagi si kodok dekil ini harus pergi!”, pikir si Putri.
Malam itu tak sedetik pun si Putri mampu memejamkan matanya. Si kodok dekil sangat berisik. Ia tidur mendengkur dengan keras. Suaranya memenuhi ruangan kamar. Putri itu setengah terjaga ketika fajar tiba dan suara menggangu itu hilang sudah.
Ditengoknya si kodok dekil. Ia telah pergi. Tidak ada kodok dekil itu di ranjangnya. Entah kemana. Tapi ada yang berkilauan sebagai gantinya. Sebuah cincin berlian di atas ranjangnya. Si Putri pun meraihnya dan tampak bingung. Dari mana pula tiba-tiba ada cincin berlian begitu indah dan berkilau diatas ranjangnya. Apakah ini hadiah lain dari Ayah?

Esok malamnya si kodok dekil datang lagi. Ikut makan malam lagi dan tidur di ranjang bulu angsa lagi. Lagi dan lagi sampai seminggu kemudian. Dan setiap malam si Putri semakin muak. Tapi mau bagaimana lagi. Ia sudah telanjur bersedia mengabulkan semua permintaan. Terpaksa ia terima saja keadaan.
Di pagi hari selalu saja ada kejutan ajaib di kamar si Putri. Setelah cincin berlian, ada mahkota dari mutiara, lalu ada gaun dari sutra, lalu ada sepatu dari kristal dan barang-barang tak ternilai lainnya. Dan tiap pagi pula, si Putri bingung dari mana asal semua benda mewah itu. Karena semua benda itu bukanlah hadiah dari Ayahnya. Yang Mulia Raja.
Putri Mayasari Bhakti malah jadi ketakutan. Takut kalau benda-benda itu berasal dari si penyihir jahat di luar tembok istana yang hendak meneluhnya. Putri menjadi sakit-sakitan dan banyak menangis. Yang Mulia Raja pun menjadi panik. Ia memerintahkan pasukan tentara kerajaan untuk memeriksa seluruh lingkungan istana mencari penyusup. Tapi tetap tidak berhasil.
Pada suatu hari, tiba-tiba datang rombongan berkereta kuda. Kuda-kuda gagah dan kereta berlapis emas masuk ke halaman istana. Menimbulkan kehebohan segenap penghuni istana. Yang Mulia Raja Bhakti pun segera keluar dan menyambut rombongan itu. Seorang pangeran kecil, kira-kira seumur si Putri, keluar dari kereta kuda berlapis emas yang paling besar.
“Selamat siang, Yang Mulia Raja Bhakti. Saya Pengeran Din Din dari negeri seberang”, kata si pangeran kecil bermata sipit itu.
“Selamat siang, Pangeran. Ada apakah gerangan kerajaanku mendapat kehormatan ini?”, tanya Yang Mulia Raja.
“Saya datang untuk bertemu dengan Putri Mayasari Bhakti dan mengucapkan terima kasih atas semua bantuannya”, jawab Pangeran Din Din.
“Maaf, Pangeran. Setahu saya Putri tidak pernah keluar istana jadi dia tidak pernah punya teman. Lalu bagaimana Pangeran mengenal Putri?”, tanya Yang Mulia Raja.
“Yang Mulia Raja Bhakti, saya adalah si kodok dekil yang seminggu lalu setiap malam makan di ruang makan istana dan tidur di kamar si Putri”, jawab Pengeran Din Din.
Raja tampak terkejut. Putri Mayasari Bhakti lalu mendekat keramaian.
“Siapa kau, wahai Pangeran?”, tanya Putri Mayasari.
“Ini aku, Putri. Si kodok dekil”, jawab Pangeran.
“Kok bisa? Kok dari kodok jadi Pangeran?”, tanya si Putri bingung dan ingin tahu.
“Putri telah berbaik hati padaku. Mengijinkanku makan di istana dan tidur diatas ranjang bulu angsanya. Sebenarnya aku adalah seorang Pangeran yang dikutuk menjadi kodok dekil oleh seorang penyihir karena terlalu suka makan swikee. Satu-satunya yang bisa mencabut kutukanku adalah ketika ada seorang putri raja yang berbaik hati memberi dan mengajakku makan bersama dan tidur di ranjangnya”, kata Pangeran.
“Aku datang untuk berterima kasih pada Putri dan membawakan berbagai hadiahnya untuk Putri”, ucap si Pangeran lagi sembari menunjukkan isi kereta-kereta kuda itu.
Semua kereta kuda berisi berbagai perhiasan emas, mutiara, berlian, perak, gaun-gaun sutra dan lainnya.
“Aku pun hendak meminta Putri untuk menjadi permaisuriku di kerajaan seberang lautan”, ucap Pangeran Din Din.
Raja tampak senang dan segera menjabat tangan si Pangeran sebagai tanda penerimaan. Putri Mayasari pun menjadi tersipu malu. Pangeran Din Din jelas bukan si kodok dekil lagi. Ia kini cukup tampan dan gagah layaknya pangeran. Tentu saja lamarannya barusan akan diterima.

Malam itu kerajaan merayakan lamaran Pangeran Din Din pada Putri Mayasari Bhakti dengan menggelar jamuan makan malam istimewa dan pesta dansa. Para bangsawan pun diundang untuk makan di istana. Mereka semua duduk bersama di ruang makan. Diatas meja, seperti biasa tergeletak rapi berbagai peralatan makan dari emas. Berbagai sajian makanan pun tergeletak menggoda diatas meja. Semua istimewa. Mbok Sari, koki istana, telah mempersiapkan sajian ini seharian penuh.
“Yang Mulia Raja, sajian makan malam ini sangat istimewa. Terima kasih atas sambutannya. Saya penasaran. Siapakh koki istana yang begitu pandai memasak makanan enak ini?”, tanya Pangeran Din Din.
“Pangeran, sejak dulu Mbok Sari adalah koki istana handalan kami. Semua yang dimasaknya pasti lezat”, jawab Yang Mulia Raja.
“Yang Mulia Raja, bolehkah saya berkenalan dengan Mbok Sari? Saya ingin ia memasak sajian paling teristimewa di acara pernikahan saya dengan Putri Mayasari Bhakti nanti”, pinta Pangeran Din Din.
Tak lama kemudian, Mbok Sari pun masuk. Dan Putri Mayasari Bhakti memperkenalkannya.
“Pangeran, ini Mbok Sari. Koki istana yang telah memasak bahkan sejak aku belum lahir”, kata si Putri.
“Selamat malam, Pangeran. Saya Mbok Sari”, ucap Mbok Sari memperkenalkan diri.
Sambil asik melahap cap cay di atas piringnya, si Pangeran pun bertanya.
“Mbok Sari, cap cay ini sangat enak sekali. Di kerajaan negeri seberang lautan tidak ada koki yang mampu membuat cap cay seenak ini. Apalagi potongan ayam dalam cap cay ini. Sungguh lembut dan lezat”, puji si Pangeran.
Mbok Sari lalu menjawab.
“Maaf, Pangeran….itu bukan potongan ayam. Saya sedang bereksperimen dalam memasak. Saya mengganti potongan ayam dengan potongan daging kodok. Saya senang kalau Pangeran menyukainya”, jawab Mbok Sari.
Seisi ruang makan jadi terkejut. Pangeran Din Din yang paling terkejut. Bagaimana mungkin ia makan daging kodok lagi? Kutukannya dulu adalah karena ia telalu banyak makan swikee. Sekarang kutukan itu akan kembali lagi.
“Wrok….Wrok…..”, tiba-tiba suara aneh keluar dari mulut Pangeran.
Putri Mayasari Bhakti yang duduk di sebelahnya langsung jatuh pingsan.
Sekejap mata, wujud Pangeran berubah kembali menjadi si kodok dekil. Seisi ruang kaget bukan kepalang. Beberapa pingsan karena si kodok dekil itu sangat bau dan menjijikan. Yang Mulia Raja kebingungan. Tapi yang lebih bingung tentu Mbok Sari.
“Yang Mulia Raja…kenapa Pangeran berubah jadi kodok dekil”, tanya Mbok Sari.
“Mbok, Pangeran dulu dikutuk jadi kodok dekil karena suka makan swikee. Sekarang sepertinya kutukannya kembali lagi. Yah…..sudah nasibnya”, ucap Yang Mulia Raja Bhakti dengan bijak.
Mbok Sari berlari ke dapur dan mengambil ember. Sekembalinya ke ruang makan ia masukkan kodok dekil itu ke dalam embernya.
“Yang Mulia Raja, setidaknya saya ada bahan eksperimen lagi. Cap cay dengan daging kodok tadi enak kan? Besok saya akan buat yang lebih istimewa lagi dengan daging kodok”, kata Mbok Sari sambil berlalu ke mengarah ke dapur.
Yang Mulia Raja Bhakti hanya melongo.

@AyaSuhastra
16 February 2011

Advertisements