Bukan Keong Emas


Siapa tak kenal dengan Mak Ronde. Mantan penari ronggeng di Desa Sukamakmur. Ia terkenal pada jamannya. Dari jaman Belanda sampai invasi Jepang ke Desa Sukamakmur. Goyangan pinggulnya menyihir banyak laki-laki. Dari muda belia sampai yang tua bangka. Dari peternak kambing sampai tuan tanah Belanda. Ya…Mak Ronde nan cantik jelita. Tentu yang melihatnya sekarang tidak akan percaya kisah kesuksesannya di masa jaya.

Pada masanya, Mak Ronde bertubuh langsing dengan pinggul sexy dan buah dada yang menonjol menantang. Wajahnya juga cantik jelita. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, pipinya merah jambu dan lirikan matanya akan membawamu terbang ke langit ketujuh.
Pada masa jayanya, laki-laki berbondong-bondong ke balai desa setiap ia tampil di panggung. Semua berebut untuk berdansa dengannya. Lalu tak lupa menyelipkan selembar dua lembar uang kertas ke kain selendangnya. Tuan tanah Belanda juga tidak mau ketinggalan. Mereka menghadiahi Mak Ronde kereta kuda, perhiasan emas dan pakaian-pakaian dari bahan sutra. Semua hanya dengan satu tujuan. Memenangkan hati Mak Ronde. Dan akhirnya membawanya ke atas ranjang. Mak Ronde adalah perawan paling diminati dan dihasrati di Desa itu.

Pada masa jayanya. Mak Ronde tentu hidup bergelimang harta benda. Berasal dari keluarga petani, tentu kemewahan yang didapatnya membuatnya sedikit gelap mata. Dari rumah gubuk nyaris rubuh yang ditempati Ayah, Ibu dan 3 saudara perempuannya, Mak Ronde memboyong keluarganya pindah ke rumah gedong hadiah dari Tuan tanah Van Schapel. Rumah gedong itu adalah hadiah untuk lamarannya pada Mak Ronde. Tentu dengan harapan bahwa Mak Ronde bersedia ia jadikan gundik. Mak Ronde pun menerima hadiahnya itu dengan senang hati. Tapi tetap mengulur waktu. “Belanda itu tidak akan semudah itu menaklukkan hatiku”, ujarnya.

Berita hadiah istimewa Tuan Van Schapel pada Mak Ronde tersebar ke penjuru Desa dan Desa tetangga di 5 penjuru mata angin. Sejak itu tentu saja tidak ada lagi laki-laki lain yang berani mendekati Mak Ronde. Tuan Van Schapel adalah tuan tanah terkaya di Sukamakmur. Ia juga orang Belanda. Jadi tentu saja yang lain tidak berani melawannya. Van Schapel datang ke Sukamakmur bersama pasukan Belanda yang berhasil menginvasi desa itu beberapa tahun sebelumnya. Ia juga ikut mengintimidasi petani setempat dan membeli usaha mereka dengan harga yang murah. Sedikit demi sedikit, ia telah menguasai ¾ tanah pertanian di Sukamakmur. Petani di desa hanya jadi petani bayaran saja. Mengerjakan tanah pertanian Van Schapel mati-matian dan hanya menerima upah yang tidak seberapa.
Van Schapel sudah beristri. Madam Schapel namanya. Perempuan Belanda yang cantik. Rambutnya kuning, kulitnya putih pucat. Tapi ia sering sakit. Mungkin karena udara Sukamakmur yang panas dan tidak cocok dengannya yang terbiasa tinggal di negeri Belanda yang dingin. Sejak datang ke desa Sukamakmur 5 tahun lalu, ia tak berhenti sakit. Ada yang bilang ia kena guna-guna Mak Ronde. Tentu agar Van Schapel bisa ditaklukkannya. Namun entahlah…tidak ada yang tahu persis. Karena tidak ada pula yang pernah bicara dengan Madam Schapel kecuali para jongos di rumah gedongnya. Ia jarang sekali keluar rumah. Paling jauh hanya sampai teras rumahnya saja.

Sesungguhnya, Mak Ronde merindukan para laki-laki yang mengejarnya. Ia rindu saat-saat setelah manggung dimana para laki-laki berjajar ingin mengantarnya pulang. Atau ketika mereka mondar mandir di depan rumah gubuknya hanya untuk melihat apa yang sedang dilakukannya. Atau ketika mereka menyelipkan selembar surat cinta pada gulungan uang kertas yang dimasukkan ke kain selendangnya. Sejak tinggal di rumah gedong Van Schapel, ia tidak bisa pergi sembarang tanpa dikawal oleh jongos. Ke pasar untuk membeli pupur dan gincu saja, ia harus dikawal. Seperti sebuah kristal, Van Schapel menjaga betul agar Mak Ronde tidak tersentuh sembarangan. Apalagi karena setelah 3 bulan Mak Ronde dipindahkan ke rumah gedong itu, tidak sekalipun Van Schapel bisa menyentuhnya. Selalu saja ada alasan. Sedang sakitlah, sedang tidak enak badanlah. Berbagai rayuan keluar dari bibir ranum Mak Ronde untuk menunda Van Schapel mendekatinya. Tapi kesabaran ada habisnya. Van Schapel mulai naik pitam. Tak kuat lagi menahan hasrat untuk memiliki dan menaklukkan Mak Ronde seutuhnya. Malam itu Mak Ronde harus jadi miliknya.

Mak Ronde tahu betul bagaimana merawat kecantikannya. Setiap malam, sebelum tidur, ia oleskan minyak zaitun di sekujur tubuhnya. Membersihkan wajahnya dengan air hangat dan mengoleskan madu ke bibirnya. malam itu tidak kecuali.
Rumah gedong itu kosong. Hanya Mak Ronde disana. Ayah, Ibu dan 3 saudara perempuannya yang tinggal di rumah gedong yang sama sedang pergi ke balai desa menonton pertunjukan wayang kulit. Iya…sejak Mak Ronde pensiun meronggeng, grup ronggengnya dulu bangkrut karena kehilangan pesonanya. Penari lain di grup itu tidak mampu menyedot penonton sebanyak jaman Mak Ronde dulu. Dan tentu saja akhirnya mengurangi penghasilan manggung mereka. Bahkan untuk membeli pupurpun, penari-penari itu tak mampu lagi. Satu-satunya yang diuntungkan dengan pensiunnya Mak Ronde adalah Raden Arya, anak temanggung yang juga seorang dalang wayang kulit. Sebulan sekali ia dapat kesempatan mempertunjukkan kemampuannya menghibur dengan pertunjukan hiburan rakyat di balai desa.
Malam itu Mak Ronde tidak ikut ke balai desa. Ia kelelahan. Dan bosan. Karena setiap pergi keluar rumah gedongnya, jongos-jongosnya harus selalu mengikuti di belakang. Ia hanya ingin tidur malam itu. Tidur di ranjang berkelambu dari kain sutra yang juga dihadiahkan Van Schapel. Ia tidak tahu bahwa sedari tadi Van Schapel memperhatikan gerak geriknya dari balik lubang kunci. Van Schapel lekat-lekat melihat Mak Ronde mengusapkan minyak zaitun ke sekujur tubuhnya. Seperti tak mengedip. Van Schapel merasakan tubuhnya semakin panas. Ia mulai berkeringat. Berkali menelan ludahnya sendiri. Ia tak tahan lagi.
Pintu itu didobraknya. Mak Ronde terkejut luar biasa. Lalu bergegas menutup bagian atas tubuhnya yang masih terbuka dengan kedua tangannya. Terlambat. Van Schapel sudah keburu menerkamnya. Malam itu sesuai rencananya, Mak Ronde tergolek tak berdaya di dalam peluknya. Tentu saja Mak Ronde tak kuat melawan. Lelaki Belanda itu dua kali lebih besar darinya dan tentu lebih bertenaga. Sudahlah. Malam itu Mak Ronde kehilangan mutiaranya. Van Schapel menang.

Esok harinya, Van Schapel datang lagi. Menghadiahi sekotak berisi kalung-kalung emas dan mutiara pada Mak Ronde. Tanda cinta katanya. Mak Ronde sama sekali tidak tertarik. Ia dendam diam-diam. Bagi Mak Ronde, keperawanannya adalah yang paling utama untuk dijaga. Ia hanya ingin menyerahkannya pada seorang laki-laki yang ia cintai. Memang ia menerima semua pemberian dari Van Schapel. Dan ia tentu tidak bodoh dan pura-pura tidak mengetahui bahwa Van Schapel memiliki maksud tertentu padanya. Tapi ia tak kuasa menolaknya. Demi keluarganya yang miskin. Demi Ayah, Ibunya yang hanya petani sewaan yang selalu kekurangan. Demi masa depan ke 3 saudara perempuannya yang tidak pernah terurus. Toh ia tidak pernah meminta sama sekali. Van Schapel yang memberi tanpa diminta. Ia toh tidak salah.
Karena itulah Mak Ronde menjaga betul jaraknya dengan Van Schapel. Karena itulah ia mengulur waktu sebanyak mungkin sampai pangeran yang dinantikan itu akhirnya datang dan menyelamatkannya dari Van Schapel. Tapi ia terlambat sudah. Semua rencananya berantakan kini. Ia hanya perempuan gundik Van Schapel, tuan tanah di Sukamakmur.

Entah kenapa Mak Ronde kemudian dikerumuni pemikiran jahat. Membayangkan bagaimana hidupnya bilamana Van Schapel mati dan semua harta itu benar-benar jadi miliknya. Seperti kesetanan, ia pun menyusun rencana. Rencana jahat tentu saja. Untuk membunuh Van Schapel yang telah menodainya.
Beberapa minggu sejak malam laknat itu, rencananya rampung sudah. Malam ini Van Schapel akan tewas minum racun dalam teh yang akan disajikannya. Ia tidak boleh gagal. Bila gagal Van Schapel tentu akan balik membunuhnya dan membunuh seluruh keluarganya.
Malam itu Van Schapel mengunjungi kamarnya. Mak Ronde memasang senyum paling manis dan berpakaian paling menantang. Van Schapel tentu tidak sabaran. Ingin segera menerkam. Mak Ronde mengulur waktu dengan mengajaknya minum teh. Cangkir itu sudah berisi teh dengan tetesan racun yang ia siapkan sebelum Van Schapel masuk kamar. Mak Ronde membiarkan Van Schapel menikmati tehnya. Semenit dua menit, Van Schapel mulai mengusap-usap dahinya. Ia mulai berkeringat. Lalu ia bilang ia pusing. Mak Ronde malah tersenyum saja. Tak lama Van Schapel terjatuh dari duduknya ke lantai. Mak Ronde menunggu sebentar sebelum mendekatinya. Yah….ia sudah tidak bernafas lagi. Van Schapel sudah mati. Rencananya berhasil.
Sayang, ia lupa. Pintu kamar itu belum ditutupnya. Seorang jongos yang melihat tuannya tergeletak di lantai tak berdaya langsung menjerit histeris. Dan seketika penjaga rumah di luar berhamburan ke dalam kamar. Mak Ronde seketika panik. Dan langsung salah bicara.
“Untuk apa kalian kesini! Pergi sana! Aku sudah membunuh Tuan kalian.”, ujanya tanpa gemetar pada suaranya.
Setelah kalimat itu keluar, ia baru sadar telah salah bicara. Tentu saja para penjaga rumah segera menggiringnya ke balai desa.
Dua hari kemudian ia dibawa ke persidangan pemerintah Belanda. Sebagai seorang tuan tanah Belanda yang kaya, kematian Van Schapel tentu mengagetkan pemerintahan. Mak Ronde pun dihukum dan dijebloskan ke dalam penjara. Keluarganya yang tinggal di rumah gedong pun menghilang. Entah karena takut atau karena malu. Madam Van Schapel menghibahkan rumah gedong itu untuk kantor pemerintahan Belanda.
Selama bertahun-tahun tak ada yang mendengar kabar Mak Ronde lagi. Sampai kedatangan tentara Jepang ke Sukamakmur yang menendang Belanda kembali ke negerinya.

Pada masa Jepang, Mak Ronde kembali muncul. Ia kembali menari ronggeng. Menghibur para tentara setiap malam. Ia menjual tubuhnya pada para tentara secara bergantian. Demi jatah makan yang dilebihkan. Tubuhnya saat itu tidak seindah dulu. Kurus, tak terurus. Rambutnya yang lebat hitam menjadi kusut acak-acakan. Tapi kulitnya masih putih bersih, bibirnya masih ranum, pipinya masih merah jambu, pinggulnya masih indah dan dadanya masih menantang. Dengan mudah ia berpindah peluk dari satu tentara Jepang ke tentara Jepang yang lain. Sampai akhirnya jatuh ke pelukan Kapten tentara.
Saat itu yang ia tahu hanya bertahan hidup. Bagaimana caranya terus hidup dan bisa makan setiap hari. Meski mutiara yang dulu ia sesalkan direnggut Van Schapel kini ia obral habis-habisan ke tentara Jepang.

Entah bagaimana cerita selanjutnya. Tapi hingga kini Mak Ronde masih hidup. Mak Ronde kini hanya seorang nenek tua keriput yang tidak terurus. Ia hidup sendirian. Tidak pernah menikah dan tidak punya anak. Sanak saudaranya sudah tiada pula. Mereka tewas pada sebuah pembantaian oleh tentara Jepang suatu hari pada masa penjajahan, kata banyak orang. Mak Ronde tinggal di gubuk reot di pinggiran kali. Ia tidak punya harta. Karena ketika si Kapten Jepang itu meninggalkannya pada masa kemerdekaan, si tentara sudah tidak punya apa-apa karena dijarah tentara kemerdekaan.
Setiap hari ia mencari makannya sendiri. Dari kebun kecil yang ia miliki di samping gubuk reotnya. Atau dengan memancing ikan di kali dekat gubuknya. Gubuknya berada jauh dari peradaban. Kampung terdekat berjarak 5 km darinya. Orang yang tidak sengaja melihat rumahnya pasti orang yang tersesat mencari jalan pulang. Kampung sekitar pun mulai menciptakan cerita tentang nenek tukang teluh yang tinggal di pinggir kali. Yah….Mak Ronde sudah semenakutkan begitu. Tak akan kau lihat lagi sisa-sisa kecantikannya pada nenek lusuh ini.

Suatu sore Mak Ronde sedang duduk di bebatuan di pinggir kali. Sambil memancing ikan kecil untuk makan malamnya. Ia lalu mendengar suara-suara dari kejauhan. Suara perempuan. Ia pun menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari sumber suara itu.
Dua orang perempuan tampak di kejauhan. Pakaiannya aneh, pikir Mak Ronde. Lama kelamaan mereka pun makin mendekat. Mak Ronde mulai gemetaran. Sudah bertahun lamanya ia tidak melihat manusia lain. Apalagi berinteraksi dengan mereka. Ia setengah ragu bahwa dua perempuan itu manusia. Jangan-jangan mereka dedemit yang datang ketika senja tiba.
Salah satu perempuan itu menyapanya.
“Permisi, nek. Saya cari jalan ke desa Sukamakmur. Kemana arahnya ya?”
Bahasa manusia. Mak Ronde sedikit tenang. Kalau mereka bicara bahasa manusia, mereka tentu bukan dedemit.
“Sukamakmur jauh. Sebelah sana!”, ujar Mak Ronde menunjuk arah matahari yang tampak akan tenggelam.
Kedua perempuan itu sibuk berbicara antara mereka.
Perempuan yang satunya lalu bicara.
“Maaf, nek. Bolehkah kami menumpang semalam ini? Sudah akan gelap. Kami tidak bisa melanjutkan perjalanan. Boleh?”
Mak Ronde terdiam. Tangkapan pancingnya yang nyaris didapat jadi terlepas karena konsentrasinya terganggu.
“Rumah saya disana”, ujar Mak Ronde menunjuk gubuk reotnya dan bangun dari duduknya.
Mak ronde berjalan cepat menuju rumahnya. Kedua perempuan itu mengikuti dibelakangnya.
“Masuk!”, Mak Ronde mempersilakan keduanya masuk.
“Saya Maya, ini Santi. Nenek?”, ujar si perempuan pertama.
“Sudah makan?”
Mak Ronde berlalu menuju dapur kecil di sudut gubuknya. Tak memperdulikan pertanyaan perempuan itu.
Gelappun tiba. Mereka bertiga tidak banyak bicara. Kedua perempuan muda itu bingung mau bicara apa. Dan Mak Ronde sepertinya juga tidak bisa menjawab pertanyaan mereka.
Malam itu kedua perempuan muda itu tidur di lantai tanah gubuk reot itu beralasnya kain batik dari Mak Ronde.

Mak Ronde terbangun pagi buta. Menjerang air dan menyedut teh. Kedua perempuan muda itu pun terbangun seraya matahari pagi mulai menyusup dari sela-sela gubuk reot itu.
“Nek…kami permisi. Terima kasih banyak ya. Ini buat nenek. Maaf, kami hanya punya ini saja”, ujar si perempuan kedua menyodorkan sebuah liontin berbentuk keong berwarna kuning keemasan kepada Mak Ronde.
Mak Ronde diam saja tapi meraih benda itu.
Kedua perempuan muda itu pun membereskan bawaan mereka dan keluar dari gubuk reot itu. Melanjutkan perjalanan menuju desa Sukamakmur.
Mak Ronde masih terbengong melihat pemberian perempuan muda itu. Warnanya benar-benar menyilaukan diterangi cahaya matahari pagi itu. Liontion berbentuk keong berwarna kuning terang, seperti keemasan. Atau ini memang emas kah? Mak Ronde tak tahu pasti. Dulu ia pernah bergelimang perhiasan. Emas dan mutiara. Tapi sejak dipenjara karena membunuh Van Schapel dan hidup sebagai ronggeng ianfu, ia tentu tidak lagi pandai menilai perhiasan. Dan tak pernah lagi melihat perhiasan emas sama sekali. Apalagi menggengamnya seperti sekarang.
Hilang akal sehat karena cahaya emas menyilaukan itu, Mak Ronde seperti hilang akal. Ia mengobrak-abrik dapur kecilnya mencari tempayan. Lalu diletakkannya liontin keong emas itu didalamnya. Tak lupa ia siramkan air ke dalam tempayan itu. Lalu ia bicara sendiri.
“Putri Dewi….ayo beri aku makanan enak. Aku akan terus menjagamu sampai pangeran itu datang menjemputmu. Kalau ia tampan, akan kurebut ia darimu. Kalau ia jelek, seperti Van Schapel yang tambun itu, kau saja yang pergi dengannya ya…..”
seperti orang bodoh ia mulai tertawa-tawa sendirian. Berharap bahwa liontin keong keemasan itu adalah keong emas seperti dalam legenda. Bahwa liontin keong keemasan itu adalah jelmaan Putri Dewi Chandra Kirana yang cantik dan akan segera di selamatkan oleh Pangeran Pandji dari kutukannya.
Rupanya khayalan ingin bersama pengeran hatinya seperti yang selalu ia impikan semasa masih menjadi penari masih saja menghantui pikirannya. Sampai kini, ia masih berharap seorang pangeran tampan menjemputnya dan menghapuskan semua luka masa lalunya. Masa lalunya yang terlanjur kelam oleh pembunuhan, pelacuran dan penghinaan.

Seminggu telah berlalu sejak liontin keong keemasan itu ia letakkan di dalam termpayan berair. Tidak pernah ada makanan tiba-tiba tersedia di meja. Ia tetap saja harus ke kebun kecil dan memanen sayuran. Tetap saja harus ke sungai dan memancing ikan. Untuk makan. Pagi, siang dan malam.
Hari ke 7 itu, Mak Ronde mulai tidak sabar. Okelah. Kalau tidak jadi Putri, mungkin liontin keong keemasan itu sudah jadi emas betulan di dalam tempayan. Emas yang banyak. Emas yang cukup untuk ia bawa ke kampung tetangga dan tukarkan dengan pakaian layak dan makanan enak.
Mak Ronde pun membuka tutup tempayan perlahan dengan harapan akan menemukan kejutan. Dan betul saja. Ia terkejut bukan main.
Liontin keong keemasan itu sudah tidak keemasan lagi. Ia menjadi putih. Menjadi tidak menyilaukan. Perlahan Mak Ronde memasukkan tangannya ke dalam tempayan dan meraih liontin keong yang dulu keemasan itu. Ia terdiam memandang benda itu di tangannya. Warnanya putih sudah. Seluruh keemasan yang dulu menyilaukan itu seperti luntur sudah.
Mak Ronde sudah tertipu. Liontin keong keemasan itu bukan si keong emas yang akan membawakan pangeran tampan. Dan lebih parah lagi….liontin keong itu bukan dari emas. Tapi emas sepuhan yang luntur sudah.
Ah….sialnya.

@AyaSuhastra
15 February 2011

Advertisements