Bidadari Ikan Mas – twisted version


Alkisah di sebuah tepi pantai duduklah seorang laki-laki bernama Tora. Tora adalah seorang nelayan termiskin di desa tepi pantai itu. Kemiskinannya bertambah karena sudah seminggu ia melaut dan tidak menjala satu pun ikan. Hari itu sangat panas pula. Ia berkhayal adanya seorang perempuan cantik datang tiba-tiba membawakannya sebutir kelapa muda yang akan menyegarkan tubuhnya. Tapi ya tentu hanya khayalan saja. Karena sampai saat ini pun ia masih belum beristri. Siapa pula yang hendak diperistri nelayan bodoh dan miskin seperti Taro.
Hari mulai senja. Matahari perlahan tenggelam di balik awan jingga. Masih belum dapat ikan juga. Tiba-tiba sebuah sinar silau tampak di pelupuk mata Tora. Ia mengernyit.
“Apa itu?”
Silau sekali. Tidak ada yang bisa dilihatnya.
Tiba-tiba jalanya terasa tersangkut sesuatu. Ia lalu menariknya perlahan. Ada ikan tersangkut di jalanya.
Ikan yang aneh. Warnanya kuning keemasan. Ini kan ikan mas? Tapi bagaimana mungkin? Ia sedang melaut. Di laut tidak akan pernah ada ikan mas. Yang ada ikan pari atau ikan hiu. Tapi tidak ikan mas.
Tora lalu menarik jalanya ke tepian perlahan. Ikan mas itu tampak megap-megap kehabisan nafas karena sudah jauh dari perairan. Tora pun menariknya dari jala dan memasukkannya ke keranjang hasil tangkapan. Tak apalah. Yang penting ia dapat ikan. Setidaknya kalaupun tidak bisa dijual dipasar, malam ini ia akan makan enak.
Tiba-tiba muncul suara yang tidak dikenalinya.
“Bang….Bang Tora…..”, suara perempuan.
Tora menengok ke kanan dan ke kiri. Mencari sumber suara perempuan itu. Tubuhnya mulai gemetar. Bergidik ketakutan. Jangan-jangan kalong wewe yang datang di senja hari dan sedang mencari tumbal.
Di kanan dan di kiri tidak ada manusia sama sekali. Penduduk setempat selalu masuk rumah tepat sebelum matahari akan tenggelam. Takut diculik setan, mitosnya.
“Bang…Bang Tora….”
Lagi, suara perempuan itu. Darimana asalnya?
Tora pun memandang keranjangnya. Sepertinya suara itu dari dalam keranjangnya. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin ikan mas tadi bicara?
Tora pun membuka keranjangnya perlahan. Ikan itu memandangnya lekat. Lalu tampak semacam tetesan airmata keluar dari matanya. Tora makin kebingungan.
“Bang Tora…..tolong jangan jual atau makan saya ya!”
Tora kaget bukan main. Tak sengaja keranjang itu dilemparnya. Keranjang itu jatuh ke atas pasir dan ikan mas itu keluar dari keranjang. Ikan mas itu megap-megap di atas pasir.
“Bang Tora…..tolong jangan jual atau makan saya ya! Saya ingin dipelihara saja…..”
Tora geleng-geleng kepala. Masih tak percaya kalau suara perempuan itu berasal dari si ikan mas yang barusan ditangkapnya.
“Ka…kamu….kok bisa bicara?”, tanya Tora dengan gugup.
“Saya kena kutukan dewa laut, Bang. Tolong pelihara saya saja ya. Saya janji akan mengabulkan apapun permintaan Abang”.
“Ah…yang benar saja! Aku pasti sudah gila…masa ikan mas bisa bicara. Dan aku bicara dengannya? Aku sudah gila niy….”, ujar Tora sambil menampar pipinya berkali-kali berusaha meyakinkan dirinya kalau semua itu bukan mimpi.
“Ouch…..”, ternyata sakit betulan.
“Bagaimana, Bang? Saya tidak jadi dijual atau dimakan kan?”, tanya si ikan mas.
“Hmm….bagaimana ya? Tapi aku lapar sekali. Sedari siang aku menjala ikan dan tidak dapat satupun. Aku tidak punya uang untuk beli makan di pasar karena tidak ada ikan yang bisa dijual. Lalu kalau kau tidak kujual, aku makan apa donk?”, tanya Tora pada si ikan mas.
“Apa saja yang Abang minta akan saya kabulkan. Saya janji. Asal saya tidak dimakan atau di jual”, jawab si ikan mas.
Tora berpikir keras. Tawaran si ikan mas cukup menarik. Kalau memang ia semakin jin dalam botol yang bisa mengabulkan permintaan, mungkin semua penderitaan karena kemiskinannya bisa diakhiri.
Tora lalu berpikir apa yang pertama akan dimintanya.
“Ok….aku minta kaya raya. Aku minta rumah besar dan indah. Kamarnya ada 8, kamar mandinya ada 8. Halaman luas dan banyak tanaman bunga. Atapnya tinggi biar sejuk. Rumahnya dilengkapi perabotan yang bagus dan mahal. Dilengkapi peralatan elektronik masa kini. Ada pembantu, ada tukang kebun. Aku juga ingin mobil mewah lengkap dengan supir agar aku tidak jalan kaki kemana-mana. Aku ingin uang banyak di bank yang tidak habis 7 turunan. Aku ingin dengan kekayaanku aku menjadi terpandang di tanah ini. Terkenal sekampung dan sepesisir”, pinta Tora berkepanjangan.
“Wah….Bang Tora banyak sekali mintanya”, ucap si ikan mas.
“Kau bisa kabulkan tidak? Jangan bicara saja!”, ucap Tora tak sabar.
“Sabar, Bang….seperti saya bilang, saya pasti bisa kabulkan. Tapi tidak disini. Kalau tiba-tiba muncul rumah besar dan megah serta mobil mewah di tepi pantai, apa warga pesisir tidak kaget nantinya? Lebih baik Abang baw saya ketempat lain. Ke tanah kosong yang lapang. Saya akan kabulkan semua”, kata si ikan mas.
Tora sedikit ragu. Ikan mas itu pandai bicara. Jangan-jangan ia hanya bicara saja tapi tak mampu kabulkan permintaannya. Tapi Tora tau tak ada salahnya untuk mencoba membuktikan.
“Ok…ok. Gubukku di atas bukit. Akan kubawa kau kesana”, kata Tora seraya memasukkan kembali si ikan mas ke dalam keranjangnya.
Tora lalu berjalan menuju bukit meninggalkan pesisir seraya gelap mulai datang.

Hari telah gelap gulita ketika Tora tiba di gubuknya. Ia kembali membuka tutup keranjang itu. Saatnya menagih janji pada si ikan mas.
“Kita sudah tiba. Ini gubuk kecilku. Sekarang kau kabulkan permintaanku tadi. Bila tidak, kau akan jadi makan malamku. Aku sudah lapar”, ucap Tora tidak sabaran.
“Baiklah, Bang Tora. Tolong tutup matanya”, ucap si ikan mas.
Tora ikut saja. Ia memejamkan matanya.
Ikan mas itu lalu komat-kamit tidak jelas. Seperti membaca mantra tanpa suara.
Sekejap mata, semua permintaan Tora terwujud sudah. Sebuah rumah besar tiba-tiba muncul diatas tanah. Rumah besar berlantai dua dan beratap tinggi. Di sebelah rumah ada semacam kebun kecil yang ditanami berbagai bunga warna-warni menambah keindahan pemandangan. Di sebelah satunya tampak ada sebuah mobil sedan mewah terbaru terparkir rapi.
“Baik, Bang Tora. Silakan buka matanya sekarang!”, perintah si ikan mas.
Tora membuka matanya perlahan. Dengkulnya lemas seketika. Terkejut bukan kepalang.
Darimana pula semua ini tiba-tiba muncul di bukitnya. Semua yang ia minta pada ikan mas tadi ada di depan matanya. Gubuk kecil dibelakangnya seperti menggangu pemandangan kini.
“Da…..da…..da…darimana semua ini?”, ucap Tora terbata-bata.
“Ini semua yang Abang minta. Saya sudah kabulkan bukan?”, jawab si ikan mas.
“Wah…kau sakti sekali, ikan mas. Baiklah! Kau sudah buktikan kau tak berbohong. Aku tidak akan pernah menjual atau memakanmu. Aku kan memeliharamu dalam akuarium yang termahal dan terindah. Agar kau senang, aku janji!”, ucap Tora kesenangan.
Tora pun melangkah masuk rumah megahnya. Didalam rumah berjajar si pembantu, tukang kebun dan supir yang juga dimintanya. Tora masih tak percaya pada apa yang dilihatnya. Semua sangat tidak masuk akal. Tapi sangat menyenangkan. Kini ia sudah kaya raya. Ia akan jadi terpandang dan terkenal di kampung sepanjang bukit dan pesisir. Tidak akan ada lagi yang merendahkannya karena ia miskin. Gadis-gadis akan mengantri untuk menjadi istrinya. Ia tidak akan lagi sendiri.
Malam itu tidak seperti malam-malam sebelumnya, Tora makan besar. Sajian makanan lezat dan mewah tersedia di meja makan. Sungguh empat sehat lima sempurna. Tapi tanpa menu ikan tentunya. Entah kenapa. Malam itu pula Tora tidur di ranjang empuk dengan bantal dari bulu angsa dan selimut dari sutra, bukan bale-bale bambu seperti biasanya. Malam itu Tora mimpi indah terbang bebas ke langit ketujuh.

Tentu saja kekayaan Tora mulai tercium perlahan ke segala penjuru. Orang berbondong-bondong datang ke bukit itu dan melihat kemegahan istana Tora itu. Berjingkat-jingkat mengintip di jendela rumah yang tinggi itu untuk melihat isi di dalam rumah. Dan pulang dengan terheran-heran. Tidak ada yang tahu darimana sebenarnya kekayaan mendadak Tora itu. Orang mulai bergosip bahwa Tora kaya raya karena memelihara dedemit atau karena ngepet. Tapi tak satu orang pun bisa membuktikan teori itu. Sampai akhir setelah berbulan-bulan kemudian, mereka tidak lagi bersuara. Apalagi karena Tora sangat royal. Ia senang menghabis-habiskan uangnya. Setiap pergi ke pasar, ia tebar uang lembaran semaunya. Membuat pasar yang ramai jadi rusuh seketika.
“Tora yang paling kaya!! Ingat itu, saudara-saudara”, teriak Tora sambil berjalan mendongak.
Tora menjadi sangat sombong dan tak terkendali. Ia juga jadi doyan berjudi. Tiap malam ia mendatangi warung lapo dan bermain kartu dengan pemuda-pemuda kampung. Tentu ia tidak pandai. Jadi ia tidak pernah menang. Tiap malam ia selalu kehabisan uang. Tapi ia senang. Karena pemuda-pemuda kampung itu senang bermain dengannya. Tentu saja. Karena Tora membuat mereka tiba-tiba berdompet tebal tiap malam. Namun meski demikian Tora tidak pernah jatuh miskin selama ikan mas itu masih ia pelihara. Ikan mas itu kini ia tempatkan di sebuah akuarium besar yang megah di ruang tengah rumah mewas itu.
Kaya dan terkenal tentu tidak cukup. Tora sesungguhnya sangat kesepian. Memang di warung lapo selalu ada saja gadis-gadis yang menemaninya. Tapi tidak ada satupun gadis yang bersedia ia nikahi. Gadis-gadis itu tidak tertarik pada Tora kecuali pada hartanya saja. Tora memang tidak tampan. Jauh dari tampan malah. Wajahnya bulat, berkumis tipis seperti ikan lele. Tubuhnya tambun dan bergelambir. Sebetulnya agak menjijikan. Tapi toh selama ia ada uang, gadis-gadis di warung lapo tidak keberatan menemaninya semalam.
Malam itu Tora pulang ke rumah megahnya dengan sangat mabuk. Seperti biasa ia baru saja dari warung lapo, bermain judi dan baru saja kalah. Lebih parah lagi, malam itu ia baru saja ditolak oleh Marina, gadis pelayan tercantik di lapo. Tora malam itu telah melamar Marina dengan menghadiahkan sebuah cincin jamrud bermata bening pada Marina. Tapi tetap saja tidak diterima. Marina malah langsung lari terbirit ke belakang, menuju sumur, mengambil air dan membasuh mukanya. Seperti ingin menyadarkan dirinya dari mimpi buruk.
Tora duduk di sofa ruang tengahnya. Memandangi si ikan mas yang asik berenang di akuarium megahnya.
“Hey, ikan mas….kau tahu, aku kesepian sekali. Aku memang kaya, tapi aku sendirian. Aku bosan”, ucap Tora.
“Bang Tora tinggal minta saja. Saya akan kabulkan kok”, kata si ikan mas.
“Aku ingin punya istri yang cantik. Seperti si Marina dari warung lapo. Eh, tunggu….lebih cantik dari si Marina. Aku ingin ada yang mengurusku, memasak untukku, menemaniku jalan-jalan. Ya seperti itulah kira-kira. Kau bisa kabulkan?”, ujar Tora.
“Tenang saja, Bang. Itu sih masalah gampang. Sekarang tutup mata Abang”, kata si ikan mas.
Tora pun menutup matanya perlahan.
Si ikan mas komat-kamit tak jelas dalam akuarium megah itu. Seperti membaca mantra tanpa suara. Sekejap mata yang diminta hadir sudah.
Seorang wanita cantik muncul tiba-tiba di ruang tengah. Kecantikannya jauh lebih dashyat dari si Marina gadis warung lapo.
“Buka mata Abang sekarang!”, perintah perempuan itu.
Tora sedikit bingung. Suara ikan mas itu kok berubah ya. Jadi lebih lemah lembut. Ragu, ia buka matanya perlahan pula.
Tora terkejut bukan kepalang. Perempuan di depannya sangat cantik seperti bidadari dari langit.
“Si….si…siapa kamu?”, tanya Tora.
“Ini saya, Bang. Si ikan mas”, jawab perempuan itu.
“Ah…tak mungkinlah!! Kok ikan jadi manusia. Cantik pula begini. Aku sedang mimpi rupanya”, ucap Tora sambil menepuk pipinya berkali-kali.
“Ouch…….”, teriak Tora kesakitan.
Ini bukan mimpi. Perempuan itu nyata didepannya.
“Saya adalah putri lautan yang dikutuk menjadi ikan mas, Bang. Karena Abang telah berjanji tidak memakan atau menjual saya, saya mengabulkan permintaan Abang. Sekarang saya adalah istri Abang”, ucap si perempuan itu.
Wah….seperti kejatuhan durian runtuh. Kebahagiaan Tora seperti sempurna. Ia kaya raya. Istrinya cantik pula. Kini ia tidak akan dipandang sebelah mata lagi.
Sejak itu perempuan ikan mas itu diberi nama Maya. Tora dan Maya hidup bahagia.

Tahunan berlalu dan Tora masih kaya raya. Maya adalah pembawa keberuntungannya. Tapi Tora masih saja menyimpan semua kebiasaan buruknya. Ia bertambah sombong dan royal. Semakin senang berbangga hati karena ia kaya dan punya istri cantik jelita. Maya tidak dapat berbuat banyak. Kecuali menuruti keinginan suaminya.
Lalu kemudian mereka dianugerahi seorang anak laki-laki. Tora memberinya nama Sam. Biar keren seperti nama orang kota katanya. Maya setuju saja. Tapi meminta Tora untuk mematuhi satu syarat penting. Agar apapun yang terjadi, betapa nakalpun Sam nantinya. Tora tidak akan memarahinya apalagi menyebutkan kalau Maya adalah ikan mas. Karena akan terjadi bencana menakutkan bila Tora mengingkari janjinya. Tora setuju saja. Ia tidak begitu peduli juga.
Singkat cerita, Sam tumbuh jadi anak laki-laki yang nakal. Tubuhnya besar dan gendut. Kelebihan berat badan. Gayanya sok jagoan dan selalu mengajak ribut anak-anak di kampung sekitar. Dan ia selalu saja jadi pemenang karena tidak ada anak kampung yang berani melawannya setelah melihat bobot tubuhnya yang luar biasa. Dan dengan sombongnya ia pasti akan selalu berkata, “Jangan pernah kau berani melawanku. Aku anak Tora, orang terkaya di bukit ini. Kalian tahu itu?”, setiap habis perkelahiannya.
Suatu siang sepulang sekolah Sam berkelahi dengan teman sekolahnya. Hal sepele. Karena Sam memang senang mengerjai teman-teman sekolahnya yang bertubuh kurus dan kecil. Si kurus di hajar habis-habisan oleh Sam. Teman-teman yang lain menyoraki dari belakang. Sam tentu merasa di semangati. Ia semakin membabi buta membuktikan kehebatannya. Si kurus pulang ke rumah babak belur. Dan Sam pulang ke rumah kelaparan. Cadangan makanan yang tersimpan di perutnya yang gendut rupanya terkuras habis. Ia sangat lapar.
Di atas meja, di balik tudung saji tampak sepiring ayam goreng tepung kesukaannya. Tanpa pikir panjang, ia ambil piring, isi dengan nasi dan mengambil ayam goreng tepung itu. Lima menit kemudian nasi di piring habis tak bersisa dan ayam goreng tepung di piring juga tinggal tulang belulang saja. Sam duduk bersandar ke kursi sambil mengelus perut buncitnya.
“Wah…enak sekali ayam itu…..masakan Ibuku memang luar biasa lezat”, ucap Sam.
Tak sadar Tora berdiri di belakangnya. Terheran dan terkejut melihat piring-piring kotor diatas meja itu. Ia baru saja pulang dari jalan-jalan keliling kampung dengan mobilnya. Baru saja memamerkan mobil barunya dan menyombong ke orang kampung. Dia juga lapar bukan kepalang. Langsung saja Tora jadi naik pitam. Emosi.
“Sam!!! Kenapa itu ayam habis kau makan semua?”, ujar Tora sambil menarik telinga Sam.
Sam berteriak kesakitan.
“Ayah……aku tadi lapar pulang sekolah. Jadi aku makan saja semua”, jawab Sam.
“Dasar kau anak tak tahu diuntung. Tak kau tahu aku juga lapar pulang jalan-jalan, ha?! Lalu kau pikir aku makan apa kalau ayamnya kau makan semua? Makan beling piring kotor?”, ucap Tora semakin marah.
“Ampun, Ayah….Ampun….”, kata Sam minta tolong sambil kesakitan karena Tora masih menjewernya.
“Dasar kau anak ikan mas!!”, sahut Tora.
Seketika serasa tiba-tiba petir menggelegar.
Maya yang sedang berada di kamar tidur bergegas ke ruang makan. Mendapati Tora masih menjewer telinga Sam.
“Dasar kau anak ikan mas!! Tak pernah puas kau….mulutmu maunya makan saja!!”, ucap Tora.
Maya yang mendengarnya jadi mengamuk.
“TORA!!!!!”, teriak Maya.
Tora kaget. Tidak pernah ia dengar Maya berteriak padanya sebelum ini. Maya tidak pernah marah padanya. Maya selalu lemah lembut.
Maya lalu menarik Sam ke sampingnya.
“Tora!! Dasar kau ikan lele!! Benar-benar tidak tahu diri. Sudah bagus aku kabulkan permintaanmu. Sudah bagus aku buat kau kaya raya. Kau malah doyan main judi. Sudah bagus aku mau jadi istrimu. Padahal kau jelek dan kumismu seperti ikan lele. Dasar manusia ikan lele!!”, seru Maya.
Tora terdiam. Tercengang atas ucapan Maya.
Seketika petir menyambar rumah itu dan menghanguskannya bersama tanah. Maya menggandeng Sam keluar dari rumah sambil berlarian.
Petir kedua menyambar Tora yang masih berdiri kaku kebingungan. Setengah percaya tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut Maya. Seketika secara ajaib, Tora pun berubah jadi seekor ikan lele. Ia teronggok di lantai. Megap-megap tak berdaya kehabisan nafas.
Maya dan Sam yang telah keluar dari rumah memandangi rumah mewah dan megah itu dibumi hanguskan api dari petir.
“Ibu, jadi betul ya aku ini anak ikan?”, tanya Sam.
“Iya, nak. Betul sekali. Itu Ayahmu kan si ikan lele. Sekarang jadi ikan lele hangus”, jawab Maya.

@AyaSuhastra
15 February 2011

Advertisements